<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-19660339</id><updated>2012-02-17T01:02:02.710+07:00</updated><title type='text'>catatan perjalanan</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://astaganaga.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19660339/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://astaganaga.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>astaganaga</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>19</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19660339.post-3955157281663659259</id><published>2011-08-02T02:55:00.003+07:00</published><updated>2011-08-02T03:03:29.603+07:00</updated><title type='text'>semalam bersama Anna; espresso dan hujan yang tak kunjung reda</title><content type='html'>Jumat, 23 September 2010 - 05:07 am&lt;p style="text-align: justify;"&gt;12 jam sebelumnya, cafe LIP yogyakarta ... sesaat setelah menutup instant messenger&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;orang orang berkulit cokelat disekitarku berbicara dalam bahasa ibu Napoleon, fasih bahkan lebih fasih daripada tetes hujan yang masih terus menggauli si tua penarik becak di seberang jalan sana. masing masing dari mereka nampak sangat resah, mungkin karena sebentar lagi akan digauli hujan yang semakin berpora dalam pesta malam nanti ... malam jumat.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-5JJt6C_L6ic/TjcGBix5z1I/AAAAAAAAD8s/HmVAvC7nDV0/s1600/anna.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 400px; height: 225px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-5JJt6C_L6ic/TjcGBix5z1I/AAAAAAAAD8s/HmVAvC7nDV0/s400/anna.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5635980082263215954" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;secangkir espresso kembali dibawakan gadis manis berjilbab cokelat. belum cukup... mungkin secangkir lagi. seorang sahabat dari seberang benua pernah bertanya, kenapa kamu benci hujan. nein, meine liebe ... aku tidak benci hujan, aku hanya benci pada atmosfir melankolis yang dibawa dalam tiap tetesnya. dan aku butuh sesuatu yang cukup keras untuk mendepak semua itu ... ach so katanya, mencoba menahan tawa dan mengerti dalam kepura puraan. dulu sekali. masih di pojok, terasing dalam kerumunan makluk berbahasa asing dari kampung sebelah... sepertinya hujan akan lama, celetuk seorang gadis. yang kemudian menggeser kursi dengan anggun dan meletakan beberapa buku di meja lalu duduk dan menikmati segelas teh panas. ya, sepertinya begitu ... mungkin sampai nanti pagi. rona resah di wajahnya, tergambar jelas walau penerangan yang didisain di ruang itu sedikit menyiksa. maksudku, designer interior yang punya ide masang lampu remang di cafe pastilah disainer paling goblok sedunia... siapa yang mau bayar mahal untuk menjadi rabun?? si gadis lalu membuka buku, menutup wajah nya dari padangan dengan sampul buku yang membuat aku sedikit menaikan alis mata... Anna ... gumanku. seleranya klasik juga, dalam hati saya berbisik. Anna, nama yang kemudian - dengan sangat menyesal, atas bantuan hujan - melambungkan khayal jauh ke pulau jutaan bunga. Anna, gadis kecil delapan tahun yang punya kuncir kuda simetris ... Anna, gadis manis yang terpaksa menikah di usia belasan dengan seorang tengkulak. Anna isteri sang juragan yang dalam lemari kayunya tersimpan rapi setangkai gerberra dan sebuah kartu bertuliskan 'milikmu selamanya'... Anna ibu yang meninggal saat bertarung dengan maut di ruang persalinan... perempuan. bayinya perempuan, pastinya dia akan jadi gadis cantik ketika dewasa nanti. sayang, dia pergi bersama Anna ...&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;efek rinai hujan memang gila, padahal sudah hampir satu dekade. rasanya seperti baru saja. tak sadar tubuh berguncang. ah pasti karena espresso. mencoba menjadi dokter sesaat. ah ... dasar perempuan bodoh, tiba tiba saja gadis manis yang seari tadi membisu dan berbicara hanya dengan bukunya menyeletuk. siapa? oh ini, Anna... seraya menunjukan buku yang dipegangnya. kenapa dengan Anna, ibarat memancing di air pasang. mencoba memanfaatkan momentum untuk memecahkan jutaan ombak dengan hebatnya. dengar, katanya dan seolah ibu guru bahasa inggrisku yang cantik, dia membacakan hal yang olehnya dikatakan 'bodoh'&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;"'Do this for me: never say such words to me, and let us be good friends.' These were her words, but her eyes said something different".  Anna says this to Vronsky after he yet again tells her of his love for her.  She is still trying to struggle against her feelings for him, but he can tell when she makes this statement that she is indeed in love with him.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;ah love moves in a mysterious ways gumanku. MYMP?? sontak si gadis menebak. MYMP kan, kamu tau lagu itu yah? sayangnya enggak, yang saya ingin tahu hanya kapan hujan ini berhenti dan kenapa Anna bunuh diri. mungkin Leo sengaja membunuhnya, biar para perempuan yang dianggap bodoh harus berakhir tragis, dilindas kereta uap. kamu tahu berapa berat satu gerbong kereta api dan berapa pasang roda yang terpasang di tiap gerbongnya. hahaha hanya satu yang aku tahu, jarak antara rel ... seperti kata Cuelho?? tanyaku. ya seperti kata Cuelho...&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Anna tokoh bikinan Leo Tolstoy, seorang perempuan yang terjebak dalam kisah cinta yang rumit pada suatu masa dalam dunia aristokrat negeri beruang merah, tempat dimana lahir seorang bernama Alexander Rodchenko. fotogarfer dan seorang pakar montase yang karyanya sering diperdebatkan dalam kajian media massa. Anna juga adalah nama gadis yang selama hujan yang tak kunjung reda masih terus menulis marka di angkasa, yang menemaniku dalam layar 13 inci. 2 anna yang hanya ada dalam reaksi kristal cair dan oposisi biner, dalam kecanggihan teknologi yang tidak terbayangkan oleh mereka yang menyaksikan seorang perempuan harus tercabik cabik berserakan di antara roda kereta uap ...&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;pukul tiga pagi, mengaduk ID11 dengan senduk kopi ...&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;baru saya sadari, rak di kamar belakang berisi bahan bahan yang bisa membuat lidahmu kaku... restainer, potasium, natrium, selenium, dan beberapa gram merica, kopi bubuk dari tahun 2005 dan larutan acid. satu senduk teh tak akan apa apa ... mati rasa, lidah kelu, mual, mata perih dan paling parah sesak nafas. merangkak dan disana, isak tangis diseberang disini berharap bisa menjamah jemari. Anna ... kamu hantu, dan kamu nyata sekali. setan alas, siapa yang punya ide mencampur kopi dengan restainer? dasar laki laki bodoh !! sekarang kau penuhi kakus dengan isi perutmu, bahkan keluarnya lewat mulutmu. dasar laki laki bodoh! dan diluar sana hujan belum juga reda ... Anna, kamu hantu ... tapi kenapa tamparanmu terasa nyata? berikanlah pipimu yang satu lagi, kata seorang berjubah ungu - seorang raja selalu ungu. Anna, kamu harus dan mustilah hantu - tapi kenapa air matamu terasa hangat, isak tangismu menyayat miris hatiku...&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Aku benci hujan untuk alasan sentimentil, atmosfir melankolis di tiap tetesnya ... dan hujan berhenti di hari Jumat. untuk Anna ...&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19660339-3955157281663659259?l=astaganaga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://astaganaga.blogspot.com/feeds/3955157281663659259/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://astaganaga.blogspot.com/2011/08/semalam-bersama-anna-espresso-dan-hujan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19660339/posts/default/3955157281663659259'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19660339/posts/default/3955157281663659259'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://astaganaga.blogspot.com/2011/08/semalam-bersama-anna-espresso-dan-hujan.html' title='semalam bersama Anna; espresso dan hujan yang tak kunjung reda'/><author><name>Karolus Naga</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-ZmSueUs0-44/TYokejj5ytI/AAAAAAAAD8I/7HI0rXKZJXM/s220/n752536858_1573075_7205988.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-5JJt6C_L6ic/TjcGBix5z1I/AAAAAAAAD8s/HmVAvC7nDV0/s72-c/anna.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19660339.post-3281956451530970841</id><published>2009-12-15T04:30:00.011+07:00</published><updated>2009-12-15T04:59:06.743+07:00</updated><title type='text'>Love as I am free as a bird</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;A long time ago, I read this part of Paulo's novel Eleven Minutes to someone. I read this after deciding that the story has to end. I was not felling the presence of my freedom, the 'who I am' at the time. I read this as a good bye script and after that I whispered 'bye bye black bird' ... The story between me and the one was just like what Paulo write down on this novel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;From Maria's diary, on the eve of buying her ticket back to Brazil:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_tuVjdSHYr_E/SyaxUCsQs4I/AAAAAAAAD4U/H6gU-siXTAk/s1600-h/c.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 400px; height: 267px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_tuVjdSHYr_E/SyaxUCsQs4I/AAAAAAAAD4U/H6gU-siXTAk/s400/c.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5415210559837614978" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Once upon a time, there was a bird. He was adorned with two perfect wings and with glossy, colorful, marvelous feathers. In short, he was a creature made to fly about freely in the sky, bringing joy to everyone who saw him.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;One day, a woman saw this bird and fell in love with him. She watched his flight, her mouth wide in amazement, her heart pounding, her eyes shining with excitement. She invited the bird to fly with her, and the two traveled in the sky in perfect harmony. She admired and venerated and celebrated that bird.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But then she thought: He might want to visit far-off mountains! And she was afraid, afraid that she would never feel the same way about any other bird. And she felt envy, envy for the bird's ability to fly. And she felt alone.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And she thought: 'I'm going to set a trap. The next time the bird appears, he will never leave again.' The bird, who was also in love, returned the following day, fell into trap and was put in a cage. She looked at the bird every day.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_tuVjdSHYr_E/SyaxURyRDOI/AAAAAAAAD4c/_dVvs94uu-Y/s1600-h/d.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 400px; height: 267px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_tuVjdSHYr_E/SyaxURyRDOI/AAAAAAAAD4c/_dVvs94uu-Y/s400/d.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5415210563889335522" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;There he was, the object of her passion, and she showed him to her friends, who said: 'Now you have everything you could possibly want.' However, a strange transformation began to take place: now that she had the bird and no longer to woo him, she began to loose interest. The bird, unable to fly and express the true meaning of his life, began to waste away and his feathers to lose their gloss; he grew ugly; and the woman no longer paid him any attention, except by feeding him and cleaning out his cage.&lt;br /&gt;One day, the bird died. The woman felt terribly sad and spent all her time thinking about him. But she did not remember the cage, she thought only of the day when she had seen him for the first time, flying contentedly amongst the clouds.&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;If she had looking more deeply into herself, she would have realized that what had thrilled her about the bird was his freedom, the energy of his wings in motion, not his physical body.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Without the bird, her life too lost all meaning, and Death came knocking on her door. 'Why have you come?'she asked Death. 'So that you can fly once more with him across the sky,' Death replied. 'If you had allowed him to come and go, you would have loved and admired him even more; alas, you now need me in order to find him again.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_tuVjdSHYr_E/SyaxUqd2xUI/AAAAAAAAD4k/GEcXkG0KXJI/s1600-h/b.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 400px; height: 267px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_tuVjdSHYr_E/SyaxUqd2xUI/AAAAAAAAD4k/GEcXkG0KXJI/s400/b.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5415210570514613570" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eleven Minutes - Paulo Cuelho&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19660339-3281956451530970841?l=astaganaga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19660339/posts/default/3281956451530970841'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19660339/posts/default/3281956451530970841'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://astaganaga.blogspot.com/2009/12/love-as-i-am-free-as-bird.html' title='Love as I am free as a bird'/><author><name>Karolus Naga</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-ZmSueUs0-44/TYokejj5ytI/AAAAAAAAD8I/7HI0rXKZJXM/s220/n752536858_1573075_7205988.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_tuVjdSHYr_E/SyaxUCsQs4I/AAAAAAAAD4U/H6gU-siXTAk/s72-c/c.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19660339.post-3476343804511565467</id><published>2009-06-10T04:23:00.002+07:00</published><updated>2009-06-10T04:30:12.489+07:00</updated><title type='text'>Chanson de Porong</title><content type='html'>May, 29th 2006, massive hot mudflow from beneath Porong's soil reached the surface through the drilling pipe of Lapindo Brantas, Porong - East Java Indonesia. The hot mudflow then turns the surface into a sea of mud. Houses, farmings, ranches, industrial area, government's offices, banks and transportation wounded badly.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The life of Porong's residents has been changed from that date until now. Just like a ship without sailor, drifts in the sea of mud with no directions to go. The hot mudflow forced them to leave their comfort home sweet home and all belongings hopelessly.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The mud has flooding everything except one thing, a hope for a bright new day in the future, on a peaceful dwelling area just like the one they used to have. Just before the greed of human being for the natural resources destroy everything as now.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="width: 640px; text-align: center;"&gt;&lt;embed type="application/x-shockwave-flash" wmode="transparent" src="http://w608.photobucket.com/pbwidget.swf?pbwurl=http://w608.photobucket.com/albums/tt168/karolusnaga/12157b84.pbw" width="640" height="480"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19660339-3476343804511565467?l=astaganaga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://astaganaga.blogspot.com/feeds/3476343804511565467/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://astaganaga.blogspot.com/2009/06/chanson-de-porong.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19660339/posts/default/3476343804511565467'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19660339/posts/default/3476343804511565467'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://astaganaga.blogspot.com/2009/06/chanson-de-porong.html' title='Chanson de Porong'/><author><name>Karolus Naga</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-ZmSueUs0-44/TYokejj5ytI/AAAAAAAAD8I/7HI0rXKZJXM/s220/n752536858_1573075_7205988.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19660339.post-1701635842119205032</id><published>2009-01-27T17:42:00.005+07:00</published><updated>2009-01-27T18:07:37.654+07:00</updated><title type='text'>Taman Nasional Kelimutu</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Paket penuh warna dari Ende - Flores&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 10"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 10"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5COwner%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="City"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} a:link, span.MsoHyperlink 	{color:blue; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed 	{color:purple; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0 	{mso-list-id:48503422; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-979745298 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 	{mso-level-tab-stop:.5in; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-.25in;} @list l1 	{mso-list-id:86005093; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:1201061438 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l1:level1 	{mso-level-tab-stop:.5in; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-.25in;} @list l2 	{mso-list-id:807939184; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:918308050 67698709 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l2:level1 	{mso-level-number-format:alpha-upper; 	mso-level-tab-stop:.5in; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-.25in;} @list l3 	{mso-list-id:1299148850; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-2137233678 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l3:level1 	{mso-level-tab-stop:.5in; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-.25in;} @list l4 	{mso-list-id:1590113954; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-2102778772 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l4:level1 	{mso-level-tab-stop:.5in; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-.25in;} ol 	{margin-bottom:0in;} ul 	{margin-bottom:0in;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;‘kelimutu sai nala mulu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;tiwu telu so’o jole jeku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;tiwu telu dedu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;polo, bupu, nuwa muri jemu’&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Sebait &lt;i style=""&gt;folksong&lt;/i&gt; suku Lio ini mengisahkan tentang kekaguman masyarakat lokal akan pesona &lt;i style=""&gt;‘danau tiga warna’&lt;/i&gt; yang terletak di puncak Gunung Kelimutu (1.650 mdpl), yang adalah sebuah gunung berapi berstatus aktif di salah satu sudut desa Moni, Ende – Flores, Nusa Tenggara Timur. Tiga danau yang juga kemudian menjadi logo resmi Kabupaten Ende ini terbagi atas &lt;i style=""&gt;Tiwu Ata Polo, Tiwu Ata Mbupu &lt;/i&gt;dan&lt;i style=""&gt; Tiwu Nuwa Muri Ko’o Fai &lt;/i&gt;dengan keunikan warna air danau yang berubah-ubah, pemandangan alam pegunungan yang memukau dan sebuah legenda yang tersimpan di dalam kepercayaan masyarakat suku Lio menjadi paket yang berharga untuk dimiliki. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_tuVjdSHYr_E/SX7l2hJz4ZI/AAAAAAAAD2k/flkICZP1f6s/s1600-h/kelimutu+national+park.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 300px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_tuVjdSHYr_E/SX7l2hJz4ZI/AAAAAAAAD2k/flkICZP1f6s/s400/kelimutu+national+park.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5295922936609497490" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;How to get the package?&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Saya memulai perjalanan menuju Kelimutu dari &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; Ende, salah satu &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; kecil di &lt;i style=""&gt;Pulau Bunga&lt;/i&gt; (Flores) yang pernah menjadi penjara bagi Sang Putera Fajar (1934-1938). Saya lahir dan dibesarkan di &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; kecil ini, tidak sulit bagi saya untuk beradaptasi dengan panas dan terpencilnya Ende tanpa harus merasa &lt;i style=""&gt;bagai elang yang telah dipatahkan sayapnya&lt;/i&gt;.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Ende bisa dengan mudah diakses melalui jalur udara dan laut. Sejumlah penerbangan melayani rute menuju &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; ini dari Denpasar, &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;Surabaya&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;, &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; dan Kupang. Kapal-kapal penumpang siap mengantar dari &lt;st1:place&gt;Bali&lt;/st1:place&gt;, &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;Surabaya&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; dan &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;Semarang&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. Dari Ende, jalanan berliku, menanjak dan sempit masih harus dilalui untuk bisa tiba di Moni; gerbang menuju Danau Kelimutu. Saya sering berhenti sebentar ketika pemandangan tebing dan jurang dihiasi air terjun dan sawah &lt;i style=""&gt;terasering &lt;/i&gt;penduduk setempat menggoda hati untuk segera mengabadikannya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Beberapa &lt;i style=""&gt;homestay&lt;/i&gt; dengan tarif murah menghiasi sisi-sisi jalan Desa Moni yang terletak di kaki Gunung Kelimutu. Sebuah warung menawarkan sesuatu yang tidak bisa saya tolak, &lt;i style=""&gt;arabica&lt;/i&gt; panas tanpa gula yang sangat cocok untuk dinikmati di tempat berhawa dingin seperti Moni yang mirip Dataran Tinggi Dieng di Jawa Tengah. Diseberang jalan, beberapa pemuda lokal asyik dalam permainan &lt;i style=""&gt;nine ball&lt;/i&gt;, sementara yang lainnya mengantri karena satu-satunya meja sedang dipakai atau sekedar menanti wisatawan yang berminat menggunakan jasa antar-jemput dengan roda duanya. Sebagian besar dari mereka mencari tambahan uang dengan menjadi &lt;i style=""&gt;guide &lt;/i&gt;dan &lt;i style=""&gt;ojeg&lt;/i&gt; yang siap mengantar anda hingga ke puncak Gunung Kelimutu atau lokasi sekitar. Terkadang juga mereka menyewakan sepeda motornya dengan harga yang &lt;i style=""&gt;bisa dinego. &lt;/i&gt;Cangkir menyisakan ampas yang hampir seperempatnya, sementara 13 kilometer melewati hutan cemara dan tumbuhan pakis masih harus ditanjaki agar dapat menikmati paket yang menanti untuk dicicipi.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Enter the Gate&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Setelah membayar &lt;i style=""&gt;pass fee&lt;/i&gt; saya tiba di sebuah gerbang batu yang dalam bahasa setempat disebut &lt;i style=""&gt;Perekonde&lt;/i&gt; yang menjadi istana bagi &lt;i style=""&gt;Konde Ratu, &lt;/i&gt;sang penguasa Kelimutu yang menentukan danau yang pantas bagi orang Lio ketika mereka meninggal. Sirih, pinang, rokok, telur ayam kampung dan sejumlah uang dipersembahkan dalam sebuah ritual untuk menghormati &lt;i style=""&gt;Konde Ratu &lt;/i&gt;dan memohon agar arwah sanak keluarga yang mendahului untuk selalu dilindunginya dan juga agar para leluhur memberkati kehidupan mereka dengan menjauhkan &lt;i style=""&gt;bala &lt;/i&gt;dan memberikan panen yang berlimpah.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Masyarakat Lio percaya bahwa &lt;i style=""&gt;Tiwu Telu&lt;/i&gt; atau Danau Tiga Warna adalah tempat peristirahatan terakhir bagi arwah, dan &lt;i style=""&gt;Konde Ratu&lt;/i&gt; bertugas menempatkan arwah-arwah ke dalam danau yang tepat, sesuai dengan amal perbuatan semasa hidup. &lt;i style=""&gt;Tiwu Ata Polo &lt;/i&gt;adalah milik arwah yang semasa hidup melakukan kejahatan, termasuk didalamnya &lt;i style=""&gt;tukang tenung&lt;/i&gt;, &lt;i style=""&gt;Tiwu Ata Mbupu &lt;/i&gt;adalah persemayaman bagi orang bijaksana (&lt;i style=""&gt;tetua&lt;/i&gt;) dan &lt;i style=""&gt;Tiwu Nuwa Muri Ko’o Fai&lt;/i&gt; adalah persemayaman bagi para remaja. Kepercayaan ini masih dipegang teguh oleh masyarakat Lio dan kesakralan Gunung dan Danau Kelimutu masih dijaga hingga saat ini. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Angin dingin pegunungan berhembus lembut, hawa mistis menyelimuti pemandangan &lt;i style=""&gt;Perekonde&lt;/i&gt; membuat saya tidak ingin berlama-lama di tempat itu. Saya kembali melanjukan perjalanan menuju puncak tanpa lupa berdoa memohon alam untuk berbaik hati dengan tidak menurunkan kabut tebal di puncak &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Trinity in a box&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Alam mendengar doa, langit biru cerah menyambut saat sampai di puncak Gunung Kelimutu. Tiga danau dalam satu lokasi yang terbentuk oleh aktifitas vulkanik Gunung Kelimutu dengan kejaiban yang melegenda di depan mata, sebagaimana disebutkan di cover paket yang ditujukan untuk semua orang. Seorang pengunjung &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;tak henti mengucap &lt;i style=""&gt;wunderbar&lt;/i&gt;, sementara yang lainya sibuk mencari spot terbaik, mengkomposisi melalui &lt;i style=""&gt;viewfinder &lt;/i&gt;untuk kemudian menekan &lt;i style=""&gt;shutter. &lt;/i&gt;Beberapa pasang muda mudi bersenda gurau di sekitar lereng yang ditumbuhi &lt;i style=""&gt;Uta Onga (begonia kelimutuesis) &lt;/i&gt;dan &lt;i style=""&gt;Turuwara (rhododendron reschianum)&lt;/i&gt; tanpa menghiraukan peringatan zona berbahaya yang ada di depan mata. Sementara yang lain berusaha membuat foto bukti kunjungan wisatanya untuk bisa dipajang di album pribadi, &lt;i style=""&gt;blog, friendster&lt;/i&gt; dan mungkin juga &lt;i style=""&gt;facebook&lt;/i&gt;. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Saya mulai menjelajahi area Kelimutu dan tanpa sadar saya mengabaikan peringatan yang sama. Udara dingin bercampur aroma belerang yang kental mengingatkan saya untuk kembali ke rute yang disediakan. Warna Biru muda cerah di &lt;i style=""&gt;Tiwu Nuwa Muri Ko’o Fai &lt;/i&gt;segera menggerakan jemari untuk memotret sambil memutar-mutar &lt;i style=""&gt;circular polarizer. &lt;/i&gt;Disebelahnya, &lt;i style=""&gt;Tiwu Ata Polo &lt;/i&gt;yang berwarna hijau tua tak terlewatkan oleh kamera. Menurut catatan Balai Taman Nasional Kelimutu, konon celah antara &lt;i style=""&gt;Tiwu Ata Polo &lt;/i&gt;dan &lt;i style=""&gt;Tiwu Nuwa Muri Ko’o Fai&lt;/i&gt; masih bisa dilalui pengunjung untuk bisa menikmati keindahannya lebih dekat. Namun gempa bumi yang terjadi pada tahun 1992 silam, mengakibatan luas setapak menjadi mustahil untuk dilalui lagi. Bagi masyarakat Lio, fenomena ini dibaca secara lain. Beberapa tetua menegaskan ini pertanda bahwa anak muda jaman sekarang (&lt;i style=""&gt;Nuwa Muri &lt;/i&gt;berarti remaja) makin &lt;i style=""&gt;‘akrab’&lt;/i&gt; dengan kejahatan (&lt;i style=""&gt;Ata Polo&lt;/i&gt; bermakna orang jahat). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Di sudut lainnya &lt;i style=""&gt;Tiwu Ata Mbupu&lt;/i&gt; menunggu untuk dinikmati dengan mendaki sekitar 800 meter sambil menapaki sejumlah anak tangga. Baru setengah jalan, saya sudah disuguhi pemandangan indah dua danau sebelumnya lengkap dengan panorama alam yang menakjubkan. Saya buru-buru agar bisa sampai pada puncak dimana sebuah tugu dibangun sebagai monumen akan keajaiban alam Kelimutu. Dari &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; pemandangan yang disajikan lebih memukau dari yang saya bayangkan. &lt;i style=""&gt;Tiwu Ata Mbupu&lt;/i&gt; yang berwarna hijau kehitaman dikelilingi cemara gunung yang subur menyempurnakan pemandangan yang ada.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Reflection on Kelimutu&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Saya duduk di sebuah batang pohon cemara yang telah mati, melempar jauh pandangan ke arah pedesaan yang ada di lembah antara Gunung Kelimutu dan Gunung Kelibara. Sebuah BTS milik sebuah organisasi pelayanan telekomunikasi berdiri gagah di puncak sebuah bukit diantara ladang yang menghijau. Paket kebanggan milik masyarakat Ende-Lio telah dinikmati. Di satu sisi saya merasa bangga sebagai sorang yang bisa memilikinya. Namun di sisi yang lain saya merasa ada yang kurang dari semua yang telah saya nikmati. Pengelolaan Kelimutu belum maksimal adalah hal kecil yang mengganjal.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Kelimutu adalah potensi besar bagi masyarakat Ende-Lio, semua akan setuju tentang hal ini termasuk Pemerintah Daerah Ende sendiri. Dalam kacamata ekonomi dan merujuk Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999 dan Undang-Undang Nomor 25 tahun 1999, Kelimutu bisa memberikan sumbangan bagi Pendapatan Asli Daerah dengan jumlah yang tidak sedikit. Hal ini tentu saja jika maksimalisai pengelolaan Taman Nasional Kelimutu diperhatikan dengan seksama. Infrastruktur yang menunjang adalah hal yang pertama untuk diperhatikan. Sarana penginapan, transportasi, komunikasi dan informasi hingga penanganan sampah masih merupakan pekerjaan rumah Pemerintah Daerah untuk segera diselesaikan. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Sambil menghela nafas panjang, saya berdiri dan melangkah menaiki anak tangga tugu Kelimutu. Hamparan gunung dan bukit membentang dan &lt;i style=""&gt;Tiwu Telu &lt;/i&gt;menyisahkan satu hal lain dari keseluruhan paket. Ibarat kisah &lt;i style=""&gt;Kotak Pandora &lt;/i&gt;yang menyisahkan &lt;i style=""&gt;hope, &lt;/i&gt;Kelimutu menyisahkan takjub akan karya Sang Pencipta yang &lt;i style=""&gt;spektakuler &lt;/i&gt;ini dan sebuah harapan untuk menikmatinya lagi. Sayapun terlarut akan pesonanya yang mengagumkan tanpa menyadari kabut yang mulai memainkan perannya, membungkus paket istimewa ini untuk dibuka dilain waktu.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;‘eja, mai si kita walo. Wesia wola’ (sobat, mari pulang. Lain kali kita kembali) &lt;/i&gt;ajak seorang pengunjung dengan senyum ramah.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Dan saya &lt;i style=""&gt;pulang.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Karolus Naga&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;January 2009&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Tips:&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Untuk informasi lebih lengkap tentang Kelimutu bisa diakses pada web resmi milik Balai Taman Nasional Kelimutu: &lt;a href="http://www.tnkelimutu.com/"&gt;www.tnkelimutu.com&lt;/a&gt;. Kantor pusatnya terletak di Jl. El Tari, Nomor 16 – Ende. Telpon: +6238123405. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; beberapa hal yang perlu diperhatikan juga: &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-indent: -0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;A.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Akomodasi dan Transportasi&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;ol style="margin-top: 0in; text-align: justify;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Kelimutu bisa diakses baik via Ende ataupun Maumere.      Periksalah jasa penerbangan yang melayani rute langsung dari Denpasar dan &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;Surabaya&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;      baik ke Ende maupun Maumere. &lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; beberapa      penginapan dan jasa &lt;i style=""&gt;tour and travel&lt;/i&gt;      berlokasi di Moni yang memiliki website. Pada &lt;i style=""&gt;low season &lt;/i&gt;tarif yang ditawarkan sangat terjangkau.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Di Ende      terdapat 3 bank nasional, BNI, BRI dan Danamon. Tiga bank ini menediakan      jasa ATM namun hanya berlokasi di kantor cabangnya di Ende.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Jika menyewa sepeda motor, sebaiknya dilakukan      pemeriksaan terhadap kondisi motor yang ditawarkan. &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;Medan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;      berliku dan licin membutuhkan performa kendaraan yang maksimal baik dalam      kenyamanan dan keamanan selama bekendara. Pastikan anda membawa sarung      tangan.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-indent: -0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;B.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Komunikasi&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;ol style="margin-top: 0in; text-align: justify;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Service provider yang menjangkau daerah Kelimutu      masih sebatas milik Telkomsel. Jangan lupa menginformasikan sanak keluarga      ataupun kerabat perkara pergantian nomer, sehingga anda masih bisa tetap      berhubungan.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Beberapa warnet tersedia di Ende bagi yang ingin      tetap memeriksa &lt;i style=""&gt;e-mail&lt;/i&gt; dengan      kecepatan yang memuaskan dan tarif yang terjangkau.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-indent: -0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;C.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Persiapan Alat dan Raga&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;ol style="margin-top: 0in; text-align: justify;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Moni merupakan daerah dengan suhu rendah sekitar      20-25* celcius. Pastikan anda membawa jaket dan &lt;i style=""&gt;rain coat&lt;/i&gt; ketika menikmati pesona Kelimutu.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Sepatu akan sangat membantu menghangatkan jemari kaki      dan sepatu khusus &lt;i style=""&gt;tracking&lt;/i&gt;      memberi anda pengamanan ekstra dari licinya &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;medan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;      di Gunung Kelimutu.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Laluilah jalur yang disediakan demi keselamatan anda      dan patuhilah aturan-aturan yang ada.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-indent: -0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;D.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Lokasi Alternatif&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;ol style="margin-top: 0in; text-align: justify;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Di Moni terdapat dua buah air terjun yang hanya bisa      dicapai dengan &lt;i style=""&gt;tracking.&lt;/i&gt;      Mintalah pada pihak penginapan atau tour untuk membawa anda kesana.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Beberapa kampung tradisional yang berada di sekitar      Moni masih dipertahankan oleh masyarakatnya sebagai objek wisata yang      sayang untuk dilewatkan. Anda bisa langsung melihat arsitektur dan ritme      kehidupan masyarakat lokal. Akan lebih menyenangkan jika anda menginap di      salah satu rumah penduduk disana.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Sebuah pasar harian terletak tepat di tengah Moni.      Keramaian, keunikan dan transaksi ekonomi menjadi hal lain yang bisa      diabadikan melalui kamera.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Sedikit catatan: &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Musim kemarau adalah saat yang paling tepat untuk berpetualang ke Kelimutu ujar seorang sahabat. Banyak pengunjung yang kecewa sebab setelah sampai di puncak, kabut tebal menyelimuti tiga kawah Gunung Kelimutu. Beberapa pemuda lokal sempat menyarankan waktu terbaik untuk menikmati keajaiban Kelimutu adalah saat fajar menyingsing (&lt;i style=""&gt;sunrise)&lt;/i&gt;. Karena saat itu pergantian warna langit dan kabut yang malu-malu menyingkir dari ketiga kawah menyajikan pemandangan yang spektakuler. Saya mencobanya namun apa lacur, hawa dingin Moni lebih nyaman dinikmati dibalik selimut wool kamar penginapan. Apalagi saat bangun tidur, segelas kopi panas menanti di meja lengkap dengan goreng pisang dan singkong rebus. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Namun sayang, keindahan dan kesucian Kelimutu dirusak oleh penikmatnya sendiri. Aturan-aturan yang diwariskan sejak dahulu kala dilanggar oleh wisatawan. Sayangnya dalam pengamatan saya, pengunjung lokal sendirilah yang menyumbang banyak sampah bagi Kelimutu. &lt;i style=""&gt;Fandalisme&lt;/i&gt; dan kebiasaan membuang sampah tidak pada tempatnya menjadi masalah utama yang entah mengapa susah sekali untuk dihilangkan dari masyarakat negeri ini. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Bagi yang ingin membawa oleh-oleh &lt;i style=""&gt;souvenir&lt;/i&gt; berupa tenunan lokal, bisa menemukannya di area parkir Taman Nasional Kelimutu dengan harga berkisar 50.000 hingga 300.000 rupiah. Harga sangat tergantung ukuran, tingkat kesulitan disain dan bahan yang digunakan. Di Ende sendiri tenunan tersebut dijual di wilayah pertokoan sekitar area Pelabuhan Ende dan di sejumlah &lt;i style=""&gt;art shop&lt;/i&gt; yang ada di jalan Soekarno dan Ahmad Yani (depan bandara).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19660339-1701635842119205032?l=astaganaga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://astaganaga.blogspot.com/feeds/1701635842119205032/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://astaganaga.blogspot.com/2009/01/taman-nasional-kelimutu.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19660339/posts/default/1701635842119205032'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19660339/posts/default/1701635842119205032'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://astaganaga.blogspot.com/2009/01/taman-nasional-kelimutu.html' title='Taman Nasional Kelimutu'/><author><name>Karolus Naga</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-ZmSueUs0-44/TYokejj5ytI/AAAAAAAAD8I/7HI0rXKZJXM/s220/n752536858_1573075_7205988.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_tuVjdSHYr_E/SX7l2hJz4ZI/AAAAAAAAD2k/flkICZP1f6s/s72-c/kelimutu+national+park.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19660339.post-3191398538551750449</id><published>2008-11-13T20:11:00.002+07:00</published><updated>2008-11-13T20:15:29.758+07:00</updated><title type='text'>Semalam di Kuta</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;from Lost travel log ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari lalu saya membersihkan kamar yang makin berdebu terutama di rak buku yang makin penuh dan paling banyak debunya. Seharian penuh membongkar dan menata ulang semua buku. Kemudian secara tak sengaja ketemu sebuah buku yang sudah lama hilang, well misplace actually. travel log tersayang bersampul pink (jangan komen soal warnanya) ... isinya macam macam, dari cerita perjalanan ke berbagai tempat, Bali, Makasar, Kalimantan, Papua hingga rentetan curahan hati (cieeee cuhat suit suit) dengan berbagai nama yang ada. Sedikit mengenang kembali masa masa lalu, senyam senyum sendiri sambil geleng-geleng kepala ... selama ini ternyata ada di rak buku. kirain sudah hilang di Surabaya bersama tas yang lainnya di Juanda. hahaha ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;good bye to old times, welcome to real world ... ada satu yang paling dikenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Semalam di Pantai Kuta - Bali&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Rabu, 08 Juni 2005&lt;br /&gt;10:35 pm WITA arrived at Ngurah Rai&lt;br /&gt;Satu cangkir capuchinno panas sudah cukup buat ilangin ngantuk... belum 15 menit duduk ada orang Korea baru tiba dan langsung beli 5 botol pilsenner.&lt;br /&gt;Prang .... ! satu botol pecah di lantai, slipt kayaknya. sontak semua kaget da melihat ke arahnya ... semua orang kemudian tertawa, include me... what a freak !&lt;br /&gt;my cell phone ringing .... bla bla bla bla bla for half hour&lt;br /&gt;sudah sejam nongkrong disana, saatnya bergerak. menikmati malam dingin di negri para dewa dewi. buka locker penitipan isi data sana sini, x-ray check dan segala macamnya ... keliling kompleks bandara dengan jalan kaki dan ditemani rokok sebungkus serta fm10 dengan horicolor didalamnya. tidak ada yang bisa membuat shuter dipencet, walau everything is jepretable ... jalan dan jalan sampai lelah. sendiri di pintu masuk Ngurah Rai Airport ... patung itu lama-lama makin mengerikan kalau klamaan diliat. hihhh ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamis, 09 Juni 2005&lt;br /&gt;00:52 am WITA masih di jalanan sekitar Ngurah Rai.&lt;br /&gt;Kuta ... maybe its a great place to spent the night. but it's windy and cold, so I go back to the airport. Sat on its chair, watching the worker that renovating one of its building, hearing local music plays all nite long...&lt;br /&gt;saat ini mungkin main issue yanag saya hadapi adalah lapar. yep, cacing-cacng tidak tau diri di perut mulai demonstrasi, mirip anak kampus aja. Jam segini dapat makanan dimana??? satu2nya cafe yang buka 24-7 hanyalah Bli's. It serves Pizza ... dooh I hate that junk food. trying to close my eyes ... till latter when it starts to crowd. I think so ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;satu jam kemudian ....&lt;br /&gt;belum bisa tidur, demo di perut jadi anarki ... mampus !!&lt;br /&gt;how can I spent this cold night ??? KUTA !!&lt;br /&gt;so I decided to walk to Kuta Beach, perhaps I could stop by on Legian avenue or perhaps Poppies Lane for some warmy "circumstances" ... :P owh miss her so much when talk about Poppies Lane ... apa kabar yang tuh iblis betina dari sakura ?? udah punya anak kayaknya ... sepanjang perjalanan diskusi dengan diri sendiri. dasar solitarian ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_tuVjdSHYr_E/SRwoDFG8KEI/AAAAAAAACm4/dQ3eyio-TYY/s1600-h/3.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 400px; height: 190px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_tuVjdSHYr_E/SRwoDFG8KEI/AAAAAAAACm4/dQ3eyio-TYY/s400/3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5268129697492641858" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Di pertigaan apa perempatan depan ada keraaian.. ah pasar tradisional pagi hari sudah bergulir roda ekonominya. masih beberapa bapak dan ibu yang terlihat mulai bersih bersih sekitar lapak ... siap siap terima pelanggan. loh, koq ada Circle K dipojokan hahahahaha .... ada uga toh di sini. langsung masuk dan beli beberapa bungkus roti, mineral water dan satu roll fuji superia, andalan para pelancong ... sambil ngabisin roti di selasar cK negak air karena emang haus banget ... gila enam kilo lebih kayaknya dari bandara ke sini.&lt;br /&gt;melanjutkan perjalanan ke Legian ... hmmm sepi, tidak ada keramaian. hanya ketemu beberapa bule mabok berat, bahkan ada yang jackpot dijalan ... urggghhh&lt;br /&gt;balik arah langsung  menuju pantai kuta ....&lt;br /&gt;waktu menunjukan pukul 3:19 am ...&lt;br /&gt;lumayan sepi. awal tahun 2002 pernah di kondisi yang sama, pagi hari di Kuta ... cuma waktu beramai-ramai ...  sekarang hanya terlihat beberapa lifegurad dan beberapa beach boys yang lagi asik bercanda dan menghangatkan diri dengan arak bali kebanggaan ...&lt;br /&gt;I get my self to the sand, berbaring bentar dan have my own paradise. some dude thought that I am drunk, he asked are you all rite mate ??? I replied "I'm on seventh heaven. so dont disturbed me, mind your own matter. jawaban itu malah bikin mereka makin yakin kalo saya sudah teler parah ... hahaha padahal cuman gara-gara kaki pegel dan lost power. I do the sand therapy for the time ...&lt;br /&gt;angin laut yang berhembus makin sadis dan dingin.... membunuh dengan pelan, kayak rokok yang baru abis sebungkus. cari tempat berlindung dapet beberapa opsi ... lifeguard post, Hard Rock atau selasar the Wave ... hmm selasar the wave lebih menjanjikan. duduk disana, buka travel log dan mulai nulis soal ini ... make a call etc etc sampai akhirnya jam 05:30 am pindah ke Pantai Kuta lagi ... bentar lagi terang. nikmati pemandangan pantai sambil baring2 di pasirnya yang mulai hangat ....&lt;br /&gt;two sporty chicks lari pagi, pemandangan jadi indah ... makin ramai. ada yang sekedar menikmati udara pagi di pesisir pantai, ada yang olahraga, ada yang cuci mata dan sebagainya ...&lt;br /&gt;anarki dalam perut yang sedari tadi tidak dihiraukan sampai ke titik total chaos ... noleh ke kanan, hmmm ada ibu2 yang jualan mie rebus dan minuman hangat ... selalu ada aja keberuntungan. mie rebus itu jadi menu paling enak dari semua makanan dari chef terbaik sedunia. jujur saking enaknya langsung pesen 2, satu buat saya satu lagi buat aktivis di dalam perut ... dasar parasit.&lt;br /&gt;maka dan menikmati susana pagi bersama ofice boy beberapa tempat yang ada di sekitar situ ... ini memang menu kelas bawah. banyak cerita dengan mereka, si ibu sendiri dari nganjuk ... langsung aja keluar jurus lama biar di diskon .. ngobrol dengan bahasa jawa timuran hahahahaha&lt;br /&gt;manjur juga, dengar cerita saya malah si ibu gratisin kopi pahit... cihuy dunia emang indah kalau semuanya gratis ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sial ... sekarang jam 8:30 am ... ada flight jam 09:00 am ...&lt;br /&gt;buru-buru hampir ga bayar mie rebus dan beberapa potong sukun, singkong dan pisang goreng :P&lt;br /&gt;langsung naik taksi yang mangkal di depan HR menuju airport ... sukurlah pagi hari masih sepi jalanan ....&lt;br /&gt;.... masih ada 3 menit, ambil tas di locker, check in dan beberapa menit berikutnya sudah tenang di dalam pesawat. seorang pramugari membantu menyimpan tas dan dengan senyum ramah dia berkata "maaf pak, apa bapak butuh tissue?" heh .. bapak??? tissue ??? buat apa ...&lt;br /&gt;ternyata oh ternyata ... dipipi kanan masih ada pasir yang dibawa dari pantai Kuta hahahahahahahahaha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tidur dalam perjalanan dan sampai di tujuan dengan selamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H. Hasan Aroeboesman - Ende, Flores. Juni 10th 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;untuk hari lalu di pantai kuta - KN&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19660339-3191398538551750449?l=astaganaga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19660339/posts/default/3191398538551750449'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19660339/posts/default/3191398538551750449'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://astaganaga.blogspot.com/2008/11/semalam-di-kuta.html' title='Semalam di Kuta'/><author><name>Karolus Naga</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-ZmSueUs0-44/TYokejj5ytI/AAAAAAAAD8I/7HI0rXKZJXM/s220/n752536858_1573075_7205988.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_tuVjdSHYr_E/SRwoDFG8KEI/AAAAAAAACm4/dQ3eyio-TYY/s72-c/3.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19660339.post-1405706021235640099</id><published>2008-10-21T03:21:00.004+07:00</published><updated>2008-10-21T03:30:56.707+07:00</updated><title type='text'>Kisah Temanku dengan Sampah</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: right; font-style: italic;"&gt;semuanya berawal dari sebuah pertanyaan sederhana 'siapa aku?'&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Seorang pengembara sedang duduk di barisan paling belakang pada sebuah restoran siap saji di kawasan sarinah. tiga kursi yang mengelilingi sebuah meja bundar di depannya masih saja kosong. hanya sebuah asbak dan secangkir kopi panas di atas mejanya. sesekali dia melirik ke arah jam di dinding ruangan itu yang entah kenapa bergerak sangat lambat, lebih lambat dari detak jantungnya sendiri. aneh. secangkir kopi tidak menunjukan efeknya sebagaimana wajar. si pengembara masih terdiam, menunduk dan sesekali menghela nafas panjang bersama kepulan asap rokok rendah nikotinnya. wajah lusuhnya lebih sering terlihat memandangi dengkulnya sendiri. otaknya berkelana dalam pengembaraan dan matanya penuh dengan kekosongan. kosong bagaikan miliaran butir pasir di tepi laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hei !! aku menghardik. membuyarkan perjalanan spritualnya. dia mengadah dan melemparkan senyum... koq lama amat sih, dah hampir jadi fosil neh. sorry, sorry baru aja selesai. ya gapapa, tapi bayarin minum gw yah. OK, whatever u want!... kami berpelukan. agak aneh memang, dia memeluk diriku saat kutawarkan sebuah jabatan tangan. makin lama pelukannya makin erat, seolah ada kelegaan di dalamnya. perasaan yang sama ketika aku dipeluk ibuku yang baru kutemui bulan lalu setelah sembilan tahun tak bertatap muka. namun aku dan si pengembara sering bertemu muka, bahkan empat hari yang lalu kami masih bercanda ria di rumahnya. ayo duduk, gue mo cerita. dia kembali duduk dan aku memilih kursi yang tepat di depanya. tak lama berselang seorang gadis kurus datang dan menyodorkan menu. aku memesan segelas kopi dan kentang goreng. menu standar buat ngobrol di malam dingin. lu lagi kenapa? aku bertanya padanya. si pengembara tersenyum, lalu menunduk. ada masalah apa? kembali aku bertanya, menyelidiki. perubahan mimiknya tak dapat menipu mataku. aku tahu kalau dia sedang mengalami masalah yang sangat berat. mungkin dengan pekerjaanya, keluarganya atau dengan dirinya sendiri. aku tak mau lama menunggu jawabnya, sama halnya dengan menunggu lama secangkir kopi pesananku. dan betul saja, ketika kopiku telah hadir di atas meja, ia mulai membuka mulutnya. siapa aku? ... siapa aku bagimu? dia bertanya padaku. aku terkejut dengan lontaran pertanyaan macam itu. kopi yang baru saja kuseruput tidak bisa bergerak sesaat. jam dinding itu berhenti berdetak dan jantungku berpacu bagai piston mobil balap yang dikebut saat start. kami bertatapan untuk lima detik dan lima detik itu memang tidak pernah ada karena waktu tidak pernah bergerak saat ia bertanya. koq nanya-nya begitu? cuman pingin tahu aja, katanya. lu pernah beli tempat sampah gak? belum selsai pertanyaan pertam terjawab, dia bertanya lagi. kali ini sebuah pertanyaan yang aneh menurut pikiran ku yang struktural ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_tuVjdSHYr_E/SPzpfzCUnmI/AAAAAAAACmw/9ISF7Kkg9y8/s1600-h/Dazed+and+Confused.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_tuVjdSHYr_E/SPzpfzCUnmI/AAAAAAAACmw/9ISF7Kkg9y8/s400/Dazed+and+Confused.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5259335197347061346" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Tempat sampah? eee ... kemaren gw beli tempat sampah biru. standarlah buat meja kantoran. tau kan? yah.. aku menjawab sambil menyalakan rokok. emang di kantor lu ga disediain tempat sampah? bukan. bukan buat kantor. tapi buat kamar tidurku. loh koq ... lagi lagi aku tak bisa memahami logikanya. jika ruang tidur dan tempat sampah disatukan, maka pastinya banyak sampah yang dihasilkan di ruang tidur. dan karena ruang tidur adalah tempat dimana aktifitas yang menghasilkan sampah hampir tidak ada, tentunya tempat sampah itu cuman jadi pajangan belaka. ngapain taruh tempat sampah di kamar tidur?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sekitar limabelas tahun lalu aku pernah tidur di sebuah tempat sampah yang sangat besar. di dalamnya hanya ada aku dan bangkai, eh... mayat seorang laki-laki. aku menyampah, dia juga. kami menyampah dengan penuh hasrat. demi sebuah kata sampah. yah sampah untuk masa nanti. Dan dia mulai berceritera ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kucium lembut keningnya, dan kubisikan padanya “trust me you are always on my mind”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wahai sahabat-sahabatku yang tersebar di kota itu, bila kalian melewati kuburan di dekat rimbun cemara itu, masuklah dengan mulut terbungkam dan melangkalah perlahan agar derap kakimu tidak mengganggu tidur orang yang sudah mati itu. Berhentilah dengan rendah hati di kuburan sahabatku dan sampaikan salamku pada tanah yang menutupi kuburan. Sebutlah namaku dengan desahan yang dalam lalu katakan pada dirimu “di sini segala harapan dan kenangan seorang Florentina, ia hidup laksana seorang tawanan. Dengan serta merta dia kehilangan kegembiraannya, menampakan air mata dan melupakan senyumannya.” Wahai sahabat-sahabatku, aku mohon kepada kalian atas nama seluruh gadis-gadis yang kepada mereka hati kalian pertaruhkan, agar meletakan karangan bunga duka cita di atas makam orang yang kuhormati itu, barangkali, bunga-bunga di pelataran kuburan sahabatku itu, menjadi laksana setetes embun yang dititikan pelupuk sang fajar pada bunga mawar yang layu. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Diadaptasi dari The Broken Wings, karya Khalil Gibran&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Hari itu tanggal 2 November tahun 1997, cuaca sangat cerah seakan memberkati kota kecil itu. Sayup-sayup terdengar lantunan I Will milik Beatlles yang dibawakan ala acoustic. Sementara itu sinar mentari menyembul melalui celah jendela mengusik mimpi. Perlahan terbangun, mencari sisa tenaga untuk dapat melebarkan kelopak mata, melepaskan kantuk yang masih ada. Berjalan gontai ke kamar mandi menjalankan ritual pagi. Sementara itu Joe Crocker dengan You’re So Beautifull menjadikan pagi itu sebagai pagi paling indah dalam sejarah hidup seorang anak manusia. Seperti biasanya, secangkir kopi sudah tersedia di meja dengan dua potong honey milky toast. Kunikmati itu sambil merencanakan kegiatanku di hari yang indah itu. Hari ini aku ingin ke pantai. Hari ini aku ingin ke pantai, bercanda dengan camar dan menikmati hangatnya ombak di sela jari kakiku. Hari ini aku ingin ke pantai, kubawakan seikat mawar putih dan kutancapkan di putihnya pasir lalu kuteriakan kebodohanku. Hari ini aku ingin ke pantai, ahh tidak... sebaiknya hari ini aku mati saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah ... mati, itu lebih baik. Tapi aku ingin mati di pantai. Disaksikan oleh camar dan diseret ombak. Sebaikanya aku mati di pantai, tertimbun pasir. Tapi, aku tidak ingin tangisku terbawa angin. Aku tidak ingin teriakanku disebarkan angin dan camar-camar itu. Aku tidak ingin ombak menggelitikku dan mentertawaiku. Biar saja pasir yang menutupiku, pasir yang putih. Aku hanya ingin pasir putih, agar tidak tersesat dalam kelamnya liku hidupku. Dua potong roti tadi sudah ludes, kopi hitam yang agak pahitpun tinggal ampasnya saja yang semakin pahit saja. Sebelas jam sudah hari itu berlalu, tapi aku masih terpenjara dalam ruang empat meter persegi itu. Persiapan telah komplit. Saatnya pergi. Saatnya kembali ke dunia nyata. Saatnya kembali menghadapi kenyataan. Dengan sigap C90s buatan tahun 1982 itu mengantarku. Mengantarku pergi ke tempat tidur sahabatku itu. Disana dia masih saja tertidur, masih saja terus tenggelam dalam indahnya mimpi. Ahh seandainya aku bisa ikut melihat mimpinya atau sekedar hadir dalam mimpinya tentu akan bahagia diriku. Tapi itu tidak akan mungkin terjadi, aku tidak mungkin melewati batas ke-pribadi-an-nya. Mimpi adalah hal yang paling privat bagi seorang manusia. Jadi biarkan saja imajinasi liarnya terbang dan berputar aku tidak ingin mengaturnya. Karna hanya disanalah dia merasa bebas, merdeka dan utuh sebagai manusia. Sadar akan kehadiranku, dia terbangun dan tersenyum padaku. Seakan berkata “aku sudah menunggu kehadiranmu” dia mempersilahkan aku duduk di sampingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai” sapaku padanya namun tidak sepatah katapun keluar dari bibirnya. Dia hanya tersenyum kecil melihat diriku yang tampak lusuh. “Cuma sedikit lelah koq, kurang tidur, bukan masalah besar”, sambil duduk disampingnya aku membukakan minuman ringan kesukaanya. “hari ini lagi pingin ke pantai, lihat ombak. Camar-camar disana pasti sudah kangen” ceritaku padanya, memulai percakapan. “apalagi cuaca cerah begini, airnya pasti hangat. Pasti banyak ikannya, mancing yuk” ajak-ku padanya yang sedari tadi masih tersenyum melihatku sembari menikmati minumannya. “ayo ikut ya, nanti disana kita berendam sepuasnya. Abis itu kita makan ikan hasil pancingan kita. Trus tiduran di bawah naungan pohon kelapa. Mau ya... ikut ya..” aku merengek, memohon satu anggukan darinya. Ah dia masih saja tersenyum, memandangku dalam-dalam. Aku bia lihat di mata bulatnya bahwa dia merasa lucu akan sikapku yang tidak biasa ini. “hari ini aku lagi ingin ke danau, penasaran. Pengen tahu sekarang warnanya apa saja” tiba-tiba dia memecah keheningan antara kami berdua. “sudah setahun aku tidak ke sana lagi, pasti sudah lain warnanya” lanjutnya lagi. “iya yah.... sudah lama juga, kira-kira warnanya apa sekarang?” sambil menatap birunya langit dia menjawab ”paling biru, putih trus hitam” ... ”ah mana mungkin” tandasku “paling warnanya sekarang ungu, hijau trus merah”  lanjutku lagi. “bisa jadi, tapi kalo berangkatnya sekarang pasti kita ga bisa liat apa-apa, jam segini kabutnya tebal” katanya dengan perasaan sedikit menyesal. Lalu kami bercerita dan bercerita tentang apa saja. Banyak hal yang kami bicarakan. Mungkin hari itu adalah hari paling komunikatif antara kami berdua. Hari paling diskustif yang pernah kami alami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak biasanya kami berbincang dengan lancar, biasanya juga dia hanya terus diam mendengarkan berbagai suara yang keluar dari mulutku. Namun hari itu, dia aktif sekali bercerita dan terus bercerita dan sesekali dia meminta tanggapanku. Hari itu indah sekali. Larut dengan obrolan tentang masa lalu, tentang rencana masa depan dan tentang kegiatan akhir-akhir ini membuat kami tak menyadari panas dan teriknya sang surya. Sementara itu jam di tangan sudah menunjukan pukul tiga sore. Sudah tiga botol minuman ringan yang dihabiskannya, sementara hampir empat botol root beer, dua bungkus rokok dan beberapa bungkus kacang sudah kuhabiskan. Sore itu udara memang terasa panas namun belaian lembut angin seakan mengajak untuk terbang ke alam mimpi. “Gal, kann ich hier schlafen?”  tanyaku padanya “sebaiknya begitu, jangan paksakan untuk pulang. Nanti kamu kenapa-napa.” Jawabnya. Setelah mendapat persetujuan darinya, saya merebahkan diri disampingnya. Tampaknya belaian angin dan minuman fragmentasi tadi sudah bereaksi. Dia kemudian berbaring disampingku, matanya terus menatapku. Harus kuakui, tatapannya telah membunuh waktu, membuka dan menelanjangiku. Tatapannya saat itu sangat lain. Seakan ingin berterimakasih pada diriku, seakan ingin mengajakku pergi ke surga itu, tempat para bidadari bernyanyi di lautan cahaya. Tak kuasa sukma ini ditelanjangi oleh tatapan matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya kubawa trip35 ku akan kuabadikan tatapannya itu. Akan kuabadikan wajah itu. Tapi biarlah, segini saja aku sudah puas. Tapi masih aku ingin menguak misteri tatapannya itu. Lembut membelaiku dan seakan menaungiku dari teriknya sinar mentari. Aku terbawa ke gerbang antara, mata ini terasa berat namun sukma ini masih ingin menikmati tatapannya. Dia meletakan kepalanya di dadaku, memelukku hangat. Seakan tak ingin melepas satu sentipun bagian dari raga ini. Lalu dia menyanyikan lagu Always On My Mind-nya Elvis Presley, semakin membuatku terhanyut ke alam mimpi. Namun bibir ini tanpa sadar ikut menyanyi bersamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“And maybe I didn't treat you Quite as good as I should have Maybe I didn't love you Quite as often as I could have Little things I should have said and done I just never took the time You were always on my mind You were always on my mind And maybe I didn't hold you All those lonely, lonely times    And I guess I never told you I'm so happy that you're mine If I made you feel second best Girl I'm sorry I was blind You were always on my mind You were always on my mind Tell me, Tell me that your sweet love hasn't died Give me, give me One more chance to keep you satisfied I'll keep you satisfied” Lalu kucium lembut keningnya, dan kubisikan padanya “trust me you are always on my mind”. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Kini aku telah berada di ruang empat meter persegi. Disamping kiri ada adikku. Aku sedikit terkejut. Ahh .. baru kusadari sudah sejak jam sebelas siang aku disana, sejak jam tiga sore aku terlelap, dan sekarang jam sembilan malam. Sayup-sayup kudengar suara dari radio memainkan lagu always on my mind...  lalu adiku berkata padaku ”Kakak ketiduran lagi di sana. Untung saja tadi oom Dion telpon, Bapak langsung jemput”.  Kuacuhkan suara adikku itu, aku masih terus fokus pada suara yang diputar di radio itu. “Gal, you’re always on my mind.....” tak sadar aku membisikan kalimat itu dalam kekosongan pikiranku. Lalu adiku berkata “kak, dia sekarang sudah bahagia di atas sana, jangan rusak itu. Jangan rusak kebahagiaanya dengan merusak hidup kakak. Sayang juga sama orang lain yang sayang sama kakak. Seperti sayang kakak ke dia.” Tanpa sadar air mata mengalir, sesaat kemudian membanjiri bantalku. ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku meneguk ampas kopi dari cangkirku, menyedot racun dari isapan terakhir rokoku. Terdiam sebentar, lalu kukatakan padanya 'besok nemenin beli tempat sampah yah, gue yang traktir' ... Pengembara menatap padaku, tersenyum dan berkata 'lu emang teman curhat paling unik say' ... kamipun pergi dari tempat itu, menyusuri malam sepi ibukota dan mencoba untuk tidak menyampah hingga pagi tiba.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19660339-1405706021235640099?l=astaganaga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://astaganaga.blogspot.com/feeds/1405706021235640099/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://astaganaga.blogspot.com/2008/10/kisah-temanku-dengan-sampah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19660339/posts/default/1405706021235640099'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19660339/posts/default/1405706021235640099'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://astaganaga.blogspot.com/2008/10/kisah-temanku-dengan-sampah.html' title='Kisah Temanku dengan Sampah'/><author><name>Karolus Naga</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-ZmSueUs0-44/TYokejj5ytI/AAAAAAAAD8I/7HI0rXKZJXM/s220/n752536858_1573075_7205988.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_tuVjdSHYr_E/SPzpfzCUnmI/AAAAAAAACmw/9ISF7Kkg9y8/s72-c/Dazed+and+Confused.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19660339.post-5705869783609678668</id><published>2008-10-20T14:57:00.005+07:00</published><updated>2008-10-20T15:40:18.840+07:00</updated><title type='text'>Kisah Seorang Teman yang Sakit</title><content type='html'>Seorang teman menuliskan di buku hariannya, sebuah puisi yang kemudian dia bacakan di hadapanku. Puisi dari kekasihnya yang ditulis khusus untuk dirinya bukan puisi yang sering digunakan untuk mendekati yang lain dan juga ditulis orang lain. kekasihnya pernah menulis puisi untuk seorang dan kemudian menulis lagi puisi itu untuknya. temanku marah, katanya kau ingin memulai sesuatu yang baru dengan ku, kenapa masih kau pakai cerita masa lalumu dengan orang lain kepadaku. Temanku itu memang egois, namun bukankah hal itu telah disepakati oleh dia dan kekasihnya, yang kepadanya, kekasihnya itu merasakan 'rumah' ..&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; akupun mulai menjadi pendengar setia kisah teman terkasihku itu dengan diselingi kopi tubruk dan beberapa lintingan ganja di sebuah mata air yang jauh di pedalaman, dia pun berkisah ...&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;aku cinta kau seutuhnya ... &lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;aku cinta kau apa adanya ...&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;aku cinta kau dengan segala isi di kepalamu&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;dan itu membuatku sakit perut&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;namun&lt;br /&gt;aku tidak pernah &lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mencintai sakit&lt;br /&gt;di perutmu&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;aku terlalu capek untuk mengulang hal yang sama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;menjadi sakit terutama bagian perutku&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;menjadi akut walau sudah berkali kali apotik mengganti resep&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;kaukah itu? suara itu menghentikan langkah kaki. perlahan metutup pintu dibelakangnya, membuat derit kecil memanjang bagai coda paduan suara kathedral pada malam paskahnya yang mistis. sama mistisnya dengan ruang pengakuan dosa yang berukuran empat kali tiga. di tempat itu pula dosa berubah menjadi bayi phoenix, yang lahir dari abunya sendiri setelah terbakar habis. hanya saja ruangan itu bukan ruang kebangkitan dosa walau aroma &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_tuVjdSHYr_E/SPw9O0ChO-I/AAAAAAAACmg/qQJO7hkCBmM/s1600-h/water.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_tuVjdSHYr_E/SPw9O0ChO-I/AAAAAAAACmg/qQJO7hkCBmM/s400/water.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5259145789558569954" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;kesakralan merebak dalam ukurannya yang sama, dikelilingi dinding beton yang tinggi dengan langit langit dari papan kayu kenari yang divernish. dan sebuah jendela yang lebih mirip pintu karena ukurannya pada sebuah sisi yang mengarah ke barat. yah, ini aku... . yah inilah aku yang kamu cari. Ia masih terus menatap. mata-mata indahnya harus tertutup rapat sehingga tak seberkas cahayapun dapat menembus untuk menciptakan imaji semu dalam nyata. yah mata cokelatnya. hanya itu yang rusak dari kesempurnaan karya agung sang abadi. puncak sebuah pencaharian bagi para pematung yang terobsesi akan kata indah. aku telah menunggumu. bahkan aku mungkin sudah tertidur jika tak mengawasi langkah kaki di lorong itu. kaki kaki kecil berlarian, dan terkadang membumbung setinggi enampuluh sentimeter. lebih tinggi dan tinggi lagi hingga akhirnya tak menyisakan jarak dengan rerumputan. kaki kaki kelelahan di pematang sawah. kaki kaki dengan betis dihiasi varises di pesisir pantai. tak ketinggalan kaki kaki molek dipenuhi panu dan kudis pada sebuah peragaan busana. borok dengan bau amis pasar ikan. tidak, baunya lebih mirip karbit. lebih bau dari nafasnya yang terengah engah saat mengarungi surga bersama seorang 'iblis betina dari negeri matahari terbit' yang lebih mirip terompet tahun baru yang ditiup di ruang pengap seukuran lagi lagi ruang pengakuan dosa. terompet tahun baru bergema bersahutan. si iblis betina yang kerasukan (bagaimana bisa iblis kerasukan sesuatu yang tak lebih setan dari iblis) mulai melengking. memantra dan mencakar. si pria mengenjan entah menahan perih di punggung karena cakar si iblis sudah makin dalam atau pekak dengan pekingan si iblis. dan cicak yang sedari tadi terdiam di langit langit berdecak panjang. seakan kagum atau iri pada yang ia saksikan. sial bagi si cicak, keesokan pagi ia harus berakhir menjadi sarapan arwana. peliharaan iblis betina dari negeri matahari terbit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;perlahan ia menghampiri suara itu. langkahnya lebih lambat, bahkan bagai tak berkaki ia bergerak ditiup angin. tepanya ditarik aliran udara yang keluar masuk dari hidung lawan bicaranya. aku pulang (nadanya lirih). yah aku pulang. aku pulang disaat libur natal yang salah tempo itu makin dibenarkan oleh tradisi banal. pulang kemana. tentu saja rumah. aku adalah burung elang yang selalu pulang ke rumah. setelah semusim berkelana memburu kelinci, ular, ikan bahkan anak ayam. aku akan pulang ke rumah. di luar sana aku adalah elang. disini aku tak jauh beda dengan anak ayam yang kusantap saat sakit di perutku dan dibagian lebih bawahnya semakin menjadi. anak ayam yang selalu ingin berlindung di ketiak ibunya. bersembunyi di balik anggun lurik kemerahan sang ibu. dan dia, yang matanya tertutup rapat selalu memberiku sesuatu yang kudapatkan dari pencarianku akan kata rumah. dia rumahku. dan aku pulang ke rumahku itu. wajahnya yang berkilauan memantulkan cahaya sore yang menyusup secara paksa lewat tirai jendela besar itu. kemerahan. dan motif lurik bayangan tirai menempel di sekujur tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sang elang pemburu melihat anak ayam itu bersembunyi disana.&lt;br /&gt;dia hanya duduk disana. menghadap ke datangnya cahaya. seolah menikmati tampilan visual yang hanya bisa ia kenang. yah yang hanya bisa ia kenang. kaki kakinya tak dapat melangkah lebih jauh. tubuhnya keletihan. ia tumbang ke tanah. raut wajahnya kemerahan terkena sinar yang masih sama. ia hanya bisa mengenangnya. ketika itu tawanya selalu menghiasi hamparan di hadapan jendela itu. jejak kakinya selalu bisa kau temukan disana. di anatara rerumputan, di antara pasir dan juga batu karang. batu karang yang menggores kaki mungilnya. meninggalkan bekas dua belas jahitan di sela jari manis dan kelingking kirinya. namun tidak bisa membuatnya berhenti menjejakan kakinya untuk kesekian kali. senyumnya tersungging. bibirku menyentuh jidatnya dan kenangan itu berganti sadar. lalu, bagai lanchelot di hadapan guinevere aku berlutut di hadapanya. merengkuh jemari tanganya yang dua dengan lembut dan menciumnya. kuletakan di pahanya, kepalaku. kepalaku yang juga sarang seekor singa yang terus memakan otak kiriku. sementara otak kananku digerogoti asu. jawanya dicokot. asu yang aku pelihara sejak aku duduk di bangku esempe. adapun singa itu kudapati di sebuah hutan yang ditunggui seorang pria berjanggut dan bertubuh bungkuk. hutan yang kini sudah tidak berpohon dan berbatu besar itu kumasuki saat tergabung dalam komunitas pecinta alam kampusku. yah ... kampusku tercinta yang penuh dengan bau darah dan pesing. penuh dengan wajah-wajah asing yang saling mencurigai. belum lagi dedemit yang katanya menunggui kamar mandi lantai tiga bagian utara. konon kata satpam yang bertubuh gempal itu, penunggunya adalah wanita muda yang cantik jelita. yayuk namanya. sakit perut ku seakan kambuh saat kudengar nama yayuk disebut. mual hingga ke tenggorokanku. kepalaku masih terbenam di pahanya. tanganya membelai lembut rambutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;perutku mual dan aku muntah muntah di kamar mandi lantai tiga bagian utara.&lt;br /&gt;yayuk. nama yang membuat sakit di perutku kambuh. lebih lagi sakit itu menjalar ke bagian bawah perutku. gadis jawa tengah berparas cantik dan sintal itu lebih sering kulihat copyanya di iklan produk kecantikan ketimbang di kamar mandi lantai tiga bagian utara kampus keparatku. yayuk memiliki segalanya untuk jadi bintang dan ia punya segudang alasan untuk membuatku mual tak karuan bagai perawan yang dibuahi tiga bulan lalu. bukan di kamar mandi lantai tiga bagian utara. tapi di ruang praktek kamar gelap klub foto, lantai satu bagian utara. sang perawan yang untuk pertama kalinya melihat proses putih menjelma hitam pada kertas yang basah oleh cairan kimia terkulai lemas. air mata di pipinya membulir. perih di pangkal pahanya berpadu degup jantungnya yang tak tentu. kepalanya mengambang. dan kepalaku masih terbenam di antara pahanya. jemarinya meremas dalam belaian lembutnya.&lt;br /&gt;dada sang perawan diremas kencang oleh ratusan kata dalam kepalanya. kukira itu dari hatinya. namun jauh setelah itu terjadi, kutahu kepalanya lah sumber suara itu. sakit di perut sang pria terobati. sorot matanya penuh kemenangan. menatap sang perawan yang terkulai. tapak mengelap noda merah di lantai. darah segar. kini perutnya tak sakit lagi. tapi kepalaku masih terbenam di antara pahanya.&lt;br /&gt;bagian belakang kepalaku dicium lembut. nafasnya kurasakan di tengkuku. mengereksikan kuduku. tapi kepalaku masih terbenam di antara pahanya. anak ayam bersembunyi pada ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku terkulai lemas. mual masih kurasakan. kupaksakan untuk keluarkan isi perutku. hasilnya, jariku melukai tekak dan perutku makin sakit. aku terkulai di kamar mandi lantai tiga bagian utara. namun dia masih berdiri disana. pria berjanggut bertubuh bungkuk dengan seekor singa yang nantinya memakan hampir sepertiga otak kiriku. singa itu menggeram padaku. melihatku sebagai mangsa. hei, bukankah orang tua itu ada disampingmu. mangsalah ia, tak mungkin ia melawan. tubuh bungkuknya tak mungkin mengelak dari terkamanmu. hai singa. beraninya kau masuk wilayahku. kamar mandi lantai tiga bagian utara adalah teritoriku. siapa kau berani mengusiku. darah keluar dari mulutku. pria tua berjanggut itu berseru dalam tata bahasa yang aku tak mengerti. makin tinggi nadanya dan saat sampai pada pitch tertinggi, singa yang sedari tadi berdiri disampinya menerkamku. mencabik tubuhku dengan kuku tajamnya. menggigit leherku sebagaimana singa gunung memangsa kambing penyakitan. aku diseret, dikoyak dan akhirnya tak sadarkan diri. terjatuh di antara pahanya. dan kepalaku terbenam disana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sendirian. sendiri meratapi kegelisahan di antara pahanya. terlebih saat bayangannya hilang di antara penumpang Mandala jurusan denpasar. terbang dan hilang dibalik awan dihiasi petir dan menyimpan dendam pada bumi dalam air hujan. bangsat. kenapa sama dengan waktu lalu. lagi lagi kehujanan di bandara. soekarno hatta duaribulima memprokalimirkan kemerdekaan. laksda adisucipto duaribu enam masuk penjara. penjara dengan jam besuk tak tentu. bahkan hampir saja tak pernah dibesuk seandainya dokter tak mengumumkan perihal sakit di perutnya yang makin akut. harus dioperasi katanya sombong. diiris dengan pisau, dipotong dan dijahit. biar tak mengganggu lagi. tapi fakta berbicara lain. sang dokter salah operasi. bahkan sakit di perutnya makin menjadi. pada akhir duaributujuh sakit di perutnya kambuh. oleh sengatan kupu kupu gemuk di malam ibukota. seperti halnya kupu kupu, yang terbang kesana kemari, kupu kupu gemuk yang satu ini punya sayap yang bisa membawanya menikmati bunga tulip langsung di tempatnya berasal. sakitnya makin parah saat tahu kalau kupu kupu itu ternyata seedang sakit. bahkan hampir akut. jangan kau bayangkan kupu kupu gemuk ini seperti kupu kupu murahan yang bisa kau beli di perempatan jalan atau di pasar malam sebagai hiasan gantungan kunci. salah besar. dia jenis yang berbeda. dari genus yang langka. tidak hanya warnanya yang indah, sengatannya lebih berbisa dari kobra. kau tentu tahu kobra bisa membunuh dalam hitungan detik. tapi kobra tak bisa membuat kau melayang dalam sekarat. kau hanya bisa merasa hampa karena bisa tapi luka berbekas. kupu kupu gemuk ini bisa membuatmu merasakan nikmatnya sekarat tanpa meninggalkan luka. dan sekali lagi sakit di perut kambuh. sekarat dan menunggu ajal di parkiran. saat kupu kupu menyengat dalam jazz merah bangku penumpang. sudah kubilang kencangkan sabuk pengaman. ini akibatnya jika kau tak mendengar. sialan. mengutuk diri di antara pahanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seseorang mengetuk pintu. membuyarkan dialog bisu. kepalanya bangkit dari antara pahanya. jemarinya merenggang. mencium keningnya, berjalan menuju pintu. kembang api tahun baru menghiasi langit. merayakan berakhirnya waktu lalu dan memulai waktu baru. menyusun perlahan serpihan anima dari balik ilalang lereng merapi. mendendangkan pengharapan dalam lantunan balada blues bernada dangdut melayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku tertidur pulas setelah temanku itu selesai berceritera, tak sempat kulalui  pergantian tahun. lagipula tak banyak yang baru, tak banyak yang berubah. sudalah... aku bosan dengan perubahan. aku muak dengan perubahan apalagi ketika aku harus berubah dari pengembara menjadi tahanan rumah. lebih baik aku berkisah dengan sahabatku yang paling kukasihi ini, yang terbaring dengan sakit perutnya ...&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19660339-5705869783609678668?l=astaganaga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://astaganaga.blogspot.com/feeds/5705869783609678668/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://astaganaga.blogspot.com/2008/10/kisah-seorang-teman-yang-sakit.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19660339/posts/default/5705869783609678668'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19660339/posts/default/5705869783609678668'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://astaganaga.blogspot.com/2008/10/kisah-seorang-teman-yang-sakit.html' title='Kisah Seorang Teman yang Sakit'/><author><name>Karolus Naga</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-ZmSueUs0-44/TYokejj5ytI/AAAAAAAAD8I/7HI0rXKZJXM/s220/n752536858_1573075_7205988.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_tuVjdSHYr_E/SPw9O0ChO-I/AAAAAAAACmg/qQJO7hkCBmM/s72-c/water.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19660339.post-388005752239803880</id><published>2008-10-12T20:09:00.000+07:00</published><updated>2008-10-12T20:19:01.605+07:00</updated><title type='text'>Di Ujung Pohon Pinang</title><content type='html'>63 tahun sudah sejak Bung Karno membacakan naskah proklamasi 17 Agustus 1945, bangsa Indonesia memasuki babak baru dalam kehidupannya, dengan sebuah kata 'merdeka' dengan gegap gempita. Dan hingga saat ini (walau kemerdekaan yang dicita-citakan masih jauh dari jangkauan) perayaan kemerdekaan masih tetap dilakukan oleh masyarakat Indonesia secara meriah.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pemerintah menjadikan tanggal 17 Agustus sebagai hari libur nasional bahkan beberapa instansi memasukan tanggal 18 sebagai bagian dari liburan kemerdekaan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_tuVjdSHYr_E/SPH41HpT99I/AAAAAAAAClw/e-ggfOwzGEQ/s1600-h/panjat+pinang.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_tuVjdSHYr_E/SPH41HpT99I/AAAAAAAAClw/e-ggfOwzGEQ/s400/panjat+pinang.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5256255831587157970" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Perayaan kemerdekaan, sebagaimana negara lainnya, dilakukan dengan upacara bendera di seluruh pelosok negeri. Bendera kebesaran dikibarkan setinggi-tingginya, menggapai langit biru yang luas tak berujung selayaknya perjuangan akan kemerdekaan itu sendiri. Pawai dan beragam acara hiburan diadakan dengan meriah di setiap balai kota, dimana semua orang terlibat langsung entah tua atau muda, pria atau wanita bahkan waria, dari berbagai suku bangsa yang tersebar di 16 ribu pulau di wilayah Indonesia. Masing-masing menampilkan keunikannya sendiri-sendiri namun dengan satu semangat, semangat kemerdekaan yang membara di dalam diri setiap manusia Indonesia.&lt;br /&gt;Pada tataran masyarakat menengah dan bawah, ada sebuah hiburan yang wajib dilakukan pada setiap perayan kemerdekaan di Indoneisia: Panjat Pinang.&lt;br /&gt;Panjat Pinang adalah sebuah aksi yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia sebagai bentuk perayaan kemerdekaan yang sangat unik. Berawal dai tradisi masa penjajahan kolonial Belanda sebagai bentuk hiburan kelas atas (yang menjadi penonton dan terkadang donatur) dimana mayarakat kelas bawah (inlander/pribumi) berusaha menggapai ujung pohon pinang yang dikuliti dan dilumuri oli mesin yang disana terdapat hadiah yang digantung. Pada masanya, hadiah tersebut berupa celana panjang, kemeja dan beberapa alat dapur seperti piring atau senduk dan garpu, butternut coockies hingga commodore. Ingatlah bahwa dalam masa kolonial, barang-barang tersebut merupakan barang mewah yang hanya bisa dimimpikan oleh kaum pribumi dari kelas bawah. Dan kegiatan ini pun hanya dilakukan pada saat-saat tertentu, perayaan ulang tahun sinyo belanda misalnya.&lt;br /&gt;Kini, panjat pinang menjadi menu utama dari setiap perayaan kemerdekaan yang dilakukan di seluruh pelosok negeri. Pada beberapa tempat, kegiatan ini dilakukan baik di lapangan di tengah kota, ataupun di pesisir pantai, bahkan ada pula yang melakukannya di tengah sungai. Pohon pinang yang berasal dari bangsa palem tersebut dikuliti dan dihaluskan kemudian dilumuri oli mesin atau ditambahkan gemuk (semacam lemak pelumas bagian mesin yang khusus dengan tingkat kekentalan yang tinggi) dan dijemur seharian dengan tujuan agar batang pinang tersebut merata dilapisi oli dan juga agar gemuk tadi menjadi lebih encer (mencair) mengingat konsentrat gemuk yang mirip agar-agar membutuhkan panas yang cukup lama. Pada bagian ujung batang pinang tadi, dipasang sebuah lingkaran dari bambu yang pada lingkaran tersebut berbagai macam hadiah digantungkan. Sebuah bendera merah putih juga ditancapkan di ujung batang pinang, yang mana akan menjadi hak bagi orang pertama yang berhasil mencapai puncak. Tentu saja pada masa kolonial tidak ada bendera merah putih di ujung pohon pinang. Bagian pangkal pinang, ditanam kira-kira satu meter ke dalam tanah. Rata-rata tinggi pohon pinang dari permukaan tanah hingga ke ujungnya mencapai tujuh meter hingga sembilan meter lengkap dengan bau oli mesin dan panas matahari.&lt;br /&gt;Siapapun bisa memperebutkan hadiah yang ditwarkan, dengan syarat membentuk tim yang terdiri dari lima sampai tujuh sembilan orang dan mendatarkan tim pada panitia perayaan. Syarat laiinya sangat sederhana, dalam pemanjatan hanya lima orang yang boleh memanjat dan empat lainnya sebagi cadangan. Tidak diperbolehkan memakai alat bantu pemanjatan baik tali ataupun tangga dan tidak diperbolehkan memakai baju. Hal ini supaya mencegah lunturnya cairan pelumas. Pelanggaran atas hal tersebut tidak bisa ditolerir dan tim dapat didiskualifikasi oleh panitia. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membentuk tim. Yang pertama, usahakan agar tim terdiri dari minimal tiga orang bertubuh kekar sebagai fondasi pemanjatan. Postur tubuh dan kekuatan dalam memikul beban yang mencapai 3 kali berat tubuhnya adalah hal-hal yang menjadi catatan, mengingat orang-orang pilihan ini akan berperan besar dalam proses pemanjatan sebagai dasar atau fondasi. Kemudian pemanjat yang berikutnya setidaknya memiliki kekuatan yang sama dengan pemanjat yang berperan sebagai fondasi. Lebh bagus lagi jika memilili tinggi yang diatas rata-rata. Patut dicatat bahwa rata-rata tinggi tubuh maksimal ras melanosoid sekitar 175-185 cm. Dengan tinggi sedemikian, akan memudahkan pemanjat terakhir dalam meraih ujung dari pohon pinang. Bobot tubuh pemanjat tengah sebaiknya tidak lebih dari bobot tubuh pemanjat dasar. Pemanjat akhir adalah orang yang tidak kalah penting peranannya. Biasanya orang yang dipilih bertubuh mungil namun memiliki kemampuan yang mumpuni dalam memanjat dan pastinya tidak memiliki fobia pada ketinggian. Biasanya jika sang pemanjat terakhir telah berhasil naik dan bertahan pada batang pinang tanpa harus bertumpu pada pemanjat tengah, ia akan dipersilahkan beraksi sendiri. Mempertontonkan kekuatan cengkraman dan keuletan dalam mengalahkan licinnya batang pinang. Setelah sukses sampai di puncak, ia akan mencabut bendera merah putih (terkadang dalam acara yang disponsori oleh salah satu organisasi, bendera merah putih diganti logo organisasi yang bersangkutan) dan mulai memilih hadiah yang akan diturunkan. Pada beberapa tempat, hadiah yang diperebutkan langsung digantungkan pada ujung pohon pinang, sementara di tempat lain hadiahnya disimpan di meja panitia dan yang digantungkan hanya amplop berisi nama hadiah yang dipilih. Dan maksimal hadiah yang boleh diturunkan hanya lima buah dalam sekali pemanjatan dan jika ingin mengambil lebih, maka tim harus memulai dari awal lagi. Jatah maksimal hadiah ini juga menjamin tim lain yang akan memanjat pada pohon yang sama kebagaian, sehingga asas kesetaraan tetap terjaga. Kedua, Dengan jumlah maksimal tim antara 9 sampai 10 orang dan hanya 5 orang yang boleh melakukan pemanjatan bukan berarti sisa tim tidak melakukan apa-apa. Sisa anggota yang tidak memanjat dapat berpartisipasi dengan menopang sang pemanjat dasar, menyoraki atau memberi semangat bahkan mengarahkan pemanjat tengah dan akhir dengan strategi-strategi yang disiapkan, pemanjat pengganti harus bertindak cepat jika salah satu anggota pemanjatan mengibarkan bendera putih dalam pemanjatan. Ketiga, dalam melakukan pemanjatan sebaiknya dilakukan secara cepat dan cermat. Kemampuan pemanjat dasar/fondasi dalam menahan beban tubuh pemanjat lainnya akan sangat mempengaruhi. Kita tidak tahu batas maksimal waktu baginya untuk dapat menahan beban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Kritik Humanisme terhadap panjat pinang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ada semacam kritik kemanusiaan yang dilontarkan oleh kelompok humanis terhadap even panjat pinang yang telah membudaya dalam masyarakat Indonesia. Tuntutan mereka, agar even ini tidak lagi diselenggarakan karena sarat akan dehumanisasi masyarakat. Lebih naif lagi (pendapat saya pribadi) bahwa even ini adalah peninggalan kolonial yang harus segera diberangus. Saya sendiri menentang klaim kaum humanis yang seolah-olah hidup dalam alam utopis untuk menghapus even panjat pinang yang diadakan baik pada acara perayaan kemerdekaan bangsa maupun pada acara lainnya. Banyak pelajaran yang bisa diperoleh dari panjat pinang. Ada kerja sama tim didalamnya, difersifitas menjadi unifitas. Bukankah ini yang menjadi salah satu semboyan bangsa kita, bhinneka tunggal ika? Dalam pemanjatan, sebuah tim terdiri dari berbagai latar belakang namun mereka menjadi satu untuk tujuan bersama. Stategi dan taktik yang diterapkan menuntut keterbukaan dan kekompakan, ini juga mengindikasikan adanya musyawarah sebagaimana tertera dalam dasar negara ini. Kesetaraan baik dalam kesempatan terhadap hadiah yang ditawarkan bagi semua tim, maupun dalam pembagian hadiah sesuai beban kerja anggota tim juga menunjukan adanya 'keadilan bagi semua' dan demokrasi. Akan sangat naif jika mengatakan bahwa even ini hanya memunculkan hiburan semata di atas penderitaan orang lain sebagaimana yang sering didengungkan. Teman saya, Suryo Wibowo menuliskan dalam blognya bagaimana panjat pinang dihubungkan dengan dunia politik dalam masyarakat demokrasi. Jika memang panjat pinang sebagai sebuah hiburan dianggap sebagai sebuah ajang dehumanisasi maka entah apa istilahnya bagi ajang pesta demokrasi yang diadakan tiap 5 tahun di negeri ini. Koflik dimana-mana dan pada ujungnya manusia hanya diwakilkan oleh jumlah suara, haruskah ini juga dihapuskan?? Entalah dengan semua itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19660339-388005752239803880?l=astaganaga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://astaganaga.blogspot.com/feeds/388005752239803880/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://astaganaga.blogspot.com/2008/10/di-ujung-pohon-pinang.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19660339/posts/default/388005752239803880'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19660339/posts/default/388005752239803880'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://astaganaga.blogspot.com/2008/10/di-ujung-pohon-pinang.html' title='Di Ujung Pohon Pinang'/><author><name>Karolus Naga</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-ZmSueUs0-44/TYokejj5ytI/AAAAAAAAD8I/7HI0rXKZJXM/s220/n752536858_1573075_7205988.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_tuVjdSHYr_E/SPH41HpT99I/AAAAAAAAClw/e-ggfOwzGEQ/s72-c/panjat+pinang.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19660339.post-808775788661137043</id><published>2008-09-24T09:26:00.000+07:00</published><updated>2008-09-24T09:28:21.291+07:00</updated><title type='text'>Bertamasya ke Dunia Anak</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;catatan kaki perjalanan ke Dusun Gowok Pos - Muntilan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sempat dihantam 2 musibah yang paling membekas dan meluluhlantahkan seisi Jogjakarta, yakni  letusan Merapi dan gempa bumi yang terjadi beberapa tahun lalu, saat nya bagi anak anak Jogjakarta &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_tuVjdSHYr_E/SNmlod7q6XI/AAAAAAAACkw/qjSW8z5n9hk/s1600-h/IMG_6914.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_tuVjdSHYr_E/SNmlod7q6XI/AAAAAAAACkw/qjSW8z5n9hk/s400/IMG_6914.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5249408955325278578" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;(umumnya) dan Gowok Pos (khususnya) menikmati dunia mereka, dunia tanpa tangis dan dunia penuh kebahagiaan. Saatnya memerangi post traumatic syndrome akibat mahadaya alam yang nampaknya mulai bersahabat dengan anak-anak. Belum lama ini Kita amemperingati Hari Anak, semoga kebahagiaan mereka bisa menghapus kenangan masa lalu. Dunia Anak atau dalam bahasa Jawa-nya 'tlatah bocah' merupakan sebuah event tahunan yang digagas oleh sebuah lembaga swadaya masyarakat bernama Rumah Pelangi dimana keceriaan dalam kreasi anak anak ditampilkan dalam sebuah pentas seni berbasis kemasyarakatan. Saya berkesempatan meliput event ini bersama beberapa rekan rekan fotografer lainnya yang sangat antusias untuk mengabadikan setiap aksi dalam kameranya. Boleh dibilang moment seperti ini jarang sekali bisa ditemukan dan berkesempatan untuk meliputnya adalah sebuah hal terlalu indah untuk dilewatkan. Seperti kata seorang teman 'ini momen antropologis' mengingat dia sangat gemar dengan produk budaya lokal macam ini.&lt;br /&gt;Perjalanan ke Dusun Gowok Pos memakan waktu sekitar dua jam lebih. Menyusuri pemandangan yang indah, dihiasi luasnya sawah dan ladang tebu. Terkadang beberapa kumpulan pohon bambu mempercantik pemandangan alam Muntilan dengan Merapi, Sendoro dan Sumbing pada back groundnya. Cuaca khas daerah pegunungan yang dingin menyegarkan melengkapi bonus perjalanan wisata ke Dunia Anak. Semuanya sangat indah ketika sampai di Rumah Kepala Dusun dimana berderet cangkir kopi tubruk panas tersedia di meja tamu. Yah, boleh dibilang Indonesia masih mewarisi kerahaman dan respect yang tinggi pada tamu. Patut dicatat pula bahwa kami tidak seperti para pengelana dari Eropa yang ketika bertemu dengan hospitality ala Indonesia lantas berusaha untuk menguasainya, bahkan mengeksploitasi negeri indah ini dengan batas yang tidak berujung, meninggalkan borok bernanah yang busuk dan akut. Lebih parah lagi yang bisa dilakukan oleh anak bangsa hanya bisa mengeluh dan mengeluh tanpa mau berusaha mengobati luka itu. Makin dibiarkan malah makin menganga dan bahkan bermunculan luka baru yang lebih sulit untuk diobati walau dengan operasi bedah mutakhir. entalah dengan semua itu, hawa dingin kaki gunung merapi dan secangkir kopi panas membuat saya tidak mau berpikir hal yang 'njlimet' macam begitu. Cukup dengan sebungkus rokok dan obrolan kami yang 'ngalor ngidul' deselingi tawa dan kehangatan sudah cukup bagi kami, anehnya kami lebih sering terlihat bercanda ketimbang serius dan kami menyukainya terutama saya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang paling mencolok dan mengundang perhatian saya dalam kunjungan ke Gowok Pos adalah banyaknya antena Televisi yang menjulang tinggi, nampaknya kekuatan media massa satu ini telah sampai ke wilayah ini. Yang notabene terletak jauh dari keramaian kota dan hiruk pikuk ruwetnya pemikiran kota. bahkan bagi yang memiliki dana lebih, dapat menikmati siaran media televisi melalui parabola yang tidak butuh bambu atau tiang yang panjang atau kabel yang panjang. Atau jika ingin menghemat, dapat melirik pabrikan dalam negeri, itung-itung mendukung perekonomian bangsa biar Merah Putih bisa berkibar malu-malu di tengah globalisasi... Pengaruh media massa semisal televisi secara perlahan menyusup melalui penawaran yang tidak disadari oleh khalayaknya dan dalam hal ini masyarakat Gowok Pos. Saya tidak heran jika menemukan "geronimo" si Apache atau "Tweety" yang notabene jauh-jauh dari negeri Paman Sam pada seorang anak dusun di kaki gunung yang dalam canda bersama teman-temannya menyeletuk 'ya iyalah.." - dengan nada sinetron remaja sebuah stasiun televisi nasional. Bener kata Marshal McLuhan "we live in a global village"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;namun derasnya informasi dan budaya yang ditawarkan media melalui siaran-siaranya tidak serta merta menyingkirkan kebudayaan yang tetap dipegang teguh olah masyarakat Gowok Pos. Kontrol sosial dan pengawasan melalui media tradisional maupun tokoh masyarakat sebagai "gate keeper" yang ketat, ditunjang tingginya penghargaan terhadap budaya lokal dan nilai2 kearifan lokal. Bukti otentik yang bisa diperoleh dengan gampang adalah masih dipertahankannya produk kebudayaan lokal dengan segenap filosofi yang tersembunyi dibalik tiap wujud pencapaian kebudayaan bangsa ini, baik melalui alat musik, tarian maupun seni rupa. Upaya menumbuhkan penghargaan terhadap budaya lokal memang sedang giat diupayakan oleh pemerintah melalui berbagai instansinya dan juga tidak ketinggalan pemerhati budaya dan sosial macam LSM, Rumah Pelangi misalnya. Akulturasi pun kadang mewarnai kehidupan masyarakat berbudaya. penyerapan nilai dan ideologi serta mengkombinasikannya dengan nilai lokal merupakan sebuah bukti bagaimana adaptasi dari sebuah kebudayaan untuk tetap eksis dalam jaman yang semakin melupakan nilai-nilai lokal. Pemaknaan melalui penggabungan dua budaya yang berbeda tidak serta merta menghilangkan nilai asli dari kebudayaan masyarakat, justru hal itu memperkaya nilai kebudayaan tradisional yang memang secara simultan memperbaharui dirinya terhadap segala perkembangan jaman...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menikmati moment kebudayaan adalah sebuah hal yang langka... namun lebih sulit lagi adalah untuk membudayakan menyimak kebudayaan lokal. Dan hal ini hanya bisa dimulai sejak dini. Hal tersebut sama sulitnya dengan melestarikan nilai kebudayaan semisal pengenalan terhadap seni tari atau seni musik tradisonal. Sungguh salut dengan antusiasme para anak Gowok Pos dalam menjaga tradisi dan nilai budaya lokal.dan jika mungkin bagi kita yang ada di dunia ini menyatukan tekad dan bersatu demi menciptakan "dunia anak" yang penuh damai dan tiada air mata dari mata lugu mereka... mulailah dengan membagi kasih pada anak di keluarga kita atau anak2 yang kita temui di jalanan dan dimanapun jua...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*kalau  Carolin Steiger yang dari Austria punya antusias tinggi buat moment kayak gini, bagaimana dengan kita yang "anak kampung sendiri" ..?? at least moment budaya macam ini perlu dibudayakan khususnya dalam karya kita, nampaknya susah mengingat kita hanya "satu orang gila di antara sembilan orang waras" ...&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19660339-808775788661137043?l=astaganaga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://astaganaga.blogspot.com/feeds/808775788661137043/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://astaganaga.blogspot.com/2008/09/bertamasya-ke-dunia-anak.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19660339/posts/default/808775788661137043'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19660339/posts/default/808775788661137043'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://astaganaga.blogspot.com/2008/09/bertamasya-ke-dunia-anak.html' title='Bertamasya ke Dunia Anak'/><author><name>Karolus Naga</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-ZmSueUs0-44/TYokejj5ytI/AAAAAAAAD8I/7HI0rXKZJXM/s220/n752536858_1573075_7205988.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_tuVjdSHYr_E/SNmlod7q6XI/AAAAAAAACkw/qjSW8z5n9hk/s72-c/IMG_6914.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19660339.post-530352424628045163</id><published>2008-09-08T17:49:00.000+07:00</published><updated>2008-09-08T17:53:56.649+07:00</updated><title type='text'>Labuhan Alit Parangkusumo</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;Yogyakarta, 03 Agustus 2008&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Angin semilir membelai lembut wajah wajah syahdu, riak ombak di kejauhan terdengar merdu bak irama musik komposer kelas dunia, dan wajah wajah syahdu itu bagai disihir untuk terus tertunduk tenang walau semerbak kemenyan terbakar menyesakan dada. Dari mulut mereka terdengar puji pujian pada Sang Kuasa dalam bahasa yang indah, bukan hanya terdengar dalam nada yang tak kalah indahnya dengan paduan suara ombak di pesisir Parangkusuma yang hanya lima ratus meter dari tempat mereka duduk, namun puji-pujian yang mereka lagukan berasal dari lubuk hati yang penuh ketulusan dan pengabdian kepada kebesaran dan keagungan Nya. Pagi itu, Cepuri Parangkusumo menjadi saksi bisu dari tradisi Labuhan Alit yang sudah mengakar dalam kehidupan masyarakat Jawa yang kaya akan nilai dan tak lenggang oleh jaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diawali dengan 'pasrah penampi' di halaman Kantor Kecamatan Kretek, seorang abdi dalem yang juga kusir Kereta Kencana Keraton menyerahkan sesajian yang berupa ubu rampe, pakaian, potongan kuku dan rambut milik Sultan selama setahun pada Bupati Bantul untuk kemudian dibawa ke Cepuri Paragkusumo agar didoakan dan pada akhirnya dilarung pada Pantai Selatan, sebagai persembahan bagi Sang Ratu. Disana, sesajian tadi &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_KJ7CTWeHTlg/SMUEGNRut1I/AAAAAAAAABg/jJTJ8nD1TOY/s1600-h/labuhan+alit%235.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_KJ7CTWeHTlg/SMUEGNRut1I/AAAAAAAAABg/jJTJ8nD1TOY/s400/labuhan+alit%235.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5243601845832562514" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;diperiksa dan diserahkan pada juru kunci Parangkusumo untuk didoakan. Sesajian berupa ubu rampe dan pakaian Sri Sultan kemudian dikumpuklan dan dibungkus dalam rangkaian bambu yang berjumlah tiga buah yang diberi batu sebagai pemberat sehingga nantinya dapat tenggelam ke kedalaman Laut Selatan oleh para cantrik yang bertugas mengusung sesajian ini dan melarungkanya. Satu persatu simpul dibentuk dengan kulit batang bambu mengikat kuat sesajian yang terbungkus daun pisang.&lt;br /&gt;Rombongan kemudian berpindah ke Cepuri Parangkusumo dan kembali memanjatkan doa di hadapan 'batu karang' yang dulunya adalah tempat bermeditasi mendiang Raden Sutawijaya atau yang lebih dikenal dengan nama kehormatan 'Panembahan Senopati' sang Raja Mataram Pertama. Alkisah Raden Stawijaya bersemedi di atas batu karang tersebut, mencari pencerahan pada Sang Hyang Widhi Yang Maha Kuasa atas persoalan yang dihadapinya dalam pembangunan Keraton miliknya sehingga kelak masyarakatnya dijauhi dari segala macam bencana. Aura kharismatik sang Raja terasa hingga ke Istana Penguasa Laut Selatan sehingga membuat Sang Ratu sendiri harus keluar dari wilayah kekuasaanya dan menghampiri Raden Sutawijaya. Dari peristiwa ini lah nama tempat ini kemudian berasal 'Parang Kusuma', parang dalam bahasa jawa artinya karang dan kusuma berarti aura jiwa/ruh. Raden Sutawijaya yang terkesima akan keagungan sang Ratu menyampaikan permohonan-Nya dengan rendah hati. Sang Ratu bersedia memenuhi permohonan Raden Sutawijaya dengan syarat Sang Raja harus mempersunting dirinya dan di setiap tanggal 30 Rajeb Kalender Jawa, Raden Sutawijaya harus menyelenggarakan upacara pemberian sesajen bagi sang Ratu pada pesisir Pantai Selatan. Dan tepat di pagi itu, ritual yang dititahkan Sang Ratu kembali berlangsung. Saya masih terdiam menyaksikan khusuknya para abdi dalem yang menaburkan aneka kembang pada dua batu karang yang dipagari dengan tembok putih setinggi satu meter itu. Sementara yang lainnya menguburkan potongan rambut dan kuku Sri Sultan pada salah satu pojok bagian selatan di dalam lokasi itu.&lt;br /&gt;Dalam buku Babad Tanah Jawi dikatakan bahwa Sang Ratu Segara Kidul akan menjadi permasisuri dari semua raja yang menguasai Jawa. Ini sumpah yang diucapkan beliau ketika bertemu dengan Raden Sasuruh, pendiri Kerajaan Majapahit dan juga adalah leluhur dari Panembahan Senopati.&lt;br /&gt;Mentari mulai menyengat kulit dan keringat perlahan turun dari ubun ubun saya yang masih rapuh, aroma kemeyan masih mengisi udara pagi Parangkusumo yang harus saya akui saya tidak tahan untuk membiarkannya merasuki paru paru saya. Bukan karena nuansa mistis eksotis yang saya takutkan namun lebih pada asma yang saya idap. Saya memutuskan untuk bergerak lebih dahulu menuju pantai, mengikuti jalur yang akan dilalui para abdi dalem. Benar saja, baru dua ratus meter saya berjalan rombongan abdidalem sudah mulai bergerak keluar dari Cepuri menuju Pantai. Ratusan warga mengikuti rombongan, puluhan fotogarfer berlomba untuk mendapatkan komposisi dan angle terbaik untuk bisa mengabadikan payung-payung kebesaran yang menaungi gadis gadis cantik pembawa sesajian dan barisan abdi dalem yang tampak bersahaja dengan pakaian adat Jawa yang indah.  Sementara saya masih terus berjalan menuju pantai, berharap mendapatkan spot terbaik. Sesampai di pesisir pantai, doa kembali dipanjatkan oleh seoang panewu memohon dengan rendah hati agar Sang Ratu sekiranya menerima sesajian yang akan dilarung. Alam seakan menjawab doa sang panewu, riak ombak berubah kekuatannya. Seakan tak sabar ingin menjangkau sesajian yang dua puluh meter dari bibir pantai dengan liar. Para cantrik yang dikomando oleh sang panewu segera bergerak menuju liarnya ombak Laut Selatan. Perlahan namun pasti, kaki kaki mereka melangkah dan langkah mereka makin cepat takala memasuki kedalaman enampuluh senti. Makin jauh mereka melangkah, riak ombak makin menggila. Berkali kali mereka mencoba mendorong lebih jauh rangakian bambu yang bersisi sesajian melawan ganasnya ombak yang bisa merenggut nyawa dan akhirnya mereka merasa cukup sebelum ombak membawa serta tubuh mereka. Tiga rangakaian bambu belum juga tenggelam, serentak masyarakat yang sedari tadi menyaksikan langsung berhamburan menuju sesajian yang tenggelam dan berusaha mengambil apa saja yang dapat diambil dari dalam rangkaian bambu yang mulai terberai. Sesuai dengan namanya 'ngalap berkah', masyarakat yang me-rayah sesajian tersebut berharap mendapatkan berkah bagi keluarganya dari sesajian tersebut (Hal yang sama ketika saya mengikuti ritual Grebeg Maulid di pelataran Masjid Gede namun dalam ritual Grebeg, yang di-rayah adalah hasil bumi dan kue jajanan). Mereka harus buru buru mengambil sesajian, mengingat ombak yang semakin cemburu karena jatahnya diambil, makin meninggi dengan kekuatan yang lebih dari sebelumnya. Saya juga menyaksikan seorang abdi dalem menarik seorang anak kecil yang hampir terseret ombak saat ikut me-rayah sesajian bersama warga lainnya.&lt;br /&gt;Ketika semuanya telah memproleh apa yang mereka perjuangkan dalam rebutan bersama yang lainya, masing masing warga mulai meninggalkan tempat tersebut dan membagi berkah bersama anggota keluarga yang lainnya. Terik ditambah efek dari angin pantai membuat dahaga di tenggorokan tidak bisa ditahan lagi, sayapun mencari tempat berteduh dan sekaligus menghilangkan dahaga pada sebuah warung yang tak jauh dari Cepuri Parangkusumo yang akan terus menjadi saksi bisu hubungan antara manusia dan alam dalam dimensi vertikal dan horisontal dengan segenap nilai filosofisnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19660339-530352424628045163?l=astaganaga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://astaganaga.blogspot.com/feeds/530352424628045163/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://astaganaga.blogspot.com/2008/09/labuhan-alit-parangkusumo.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19660339/posts/default/530352424628045163'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19660339/posts/default/530352424628045163'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://astaganaga.blogspot.com/2008/09/labuhan-alit-parangkusumo.html' title='Labuhan Alit Parangkusumo'/><author><name>astaganaga</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_KJ7CTWeHTlg/SMUEGNRut1I/AAAAAAAAABg/jJTJ8nD1TOY/s72-c/labuhan+alit%235.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19660339.post-3178740630048314979</id><published>2008-08-21T12:15:00.000+07:00</published><updated>2008-08-21T12:19:25.486+07:00</updated><title type='text'>Dunia 15 menit</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_KJ7CTWeHTlg/SKz6nZnH-vI/AAAAAAAAABY/73IfKyQIntA/s1600-h/SDN+Puren.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_KJ7CTWeHTlg/SKz6nZnH-vI/AAAAAAAAABY/73IfKyQIntA/s400/SDN+Puren.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5236836021521873650" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sejak pertama kali mengontrak rumah di kampung Puren, saya selalu tertarik dengan suasana kampungnya yang nyaman, asri dan juga ramah. Kesan itu bahkan seakan-akan membuat saya untuk terus tinggal di Puren, enggan untuk pisah. Kapan lagi bisa punya lingkungan kayak gini, seperti di AldoNova suasananya. Oh ya, AldoNova adalah nama kampung saya di Ende, Flores. setidaknya saya menemukan kemiripan suasana antara Puren dan Aldonova, yep sama2 bikin betah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Wisma Mawar tempat dimana saya dana beberapa teman seperti Oscar P Siagiaan, Venansius Gunandhi, Beppo Bramono, Lucas Aditya, Daniel Novy Hertanto, Irwan Khresna, Ranggabumi Yudoyono, Nicholas Utomo dan James Rancid adalah sebuah rumah kontrakan yang terletak di jalan tantular nomor 101 Puren. Disekitar Wisma Mawar ada Jogja Chicken, warung makan siap saji ala kolonel sanders namun yang ini pemiliknya Pak Kadi, beliau merangkap ketua Rukun Warga. Diseberangnya ada Wartel dan Laundry Natalia milik PakDe Doel, "bapak" yang paling ngayomi, beliau lawan tanding catur yang paling susah dikalahkan...didepan Wartel Natalia ada "kantin Mawar"... aslinya sih Panghegar Cafe, sebuah warung bubur kacang hijau atau yang lebih dikenal Burjo.. Pemiliknya ada tiga orang, Amin, kang Sidik dan Si Botak begitu kami memanggil Pak Hiding. Kantin Mawar ini berdiri sejak tiga tahun lalu, sama dengan masa kontrakan Wisma Mawar ... (geee I just realize now that it has been three for three wonderful years) tepat didepan Jogja Chicken ada sebuah sekolahan... namanya Sekolah Dasar Puren.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;sekolahan tersebut lumayan luas, kira-kira 70 kali 60 luasnya... ada sebuah lapangan di tengahnya untuk upacara apel bendera atau kegiatan lainnya seperti pramuka dan atau olahraga. karena ditempat itu ada sepasang ring basket ukuran anak2 dan sebuah marka yang menunjukan kalau lapangan itu difungsikan juga sebagai lapangan volly..&lt;br /&gt;Anak2 SD Puren kebanyakan bertempat tinggal di sekitar kampung Puren, ada juga beberapa yang tinggalnya di Condong Catur yang sekitar 2 km dari Puren. satu hal yang selalu bikin saya tertarik dari sekolah ini adalah kenyataan bahwa sekolahan tersebut tidak memiliki kantin layaknya sekolahan lainnya yang dimilikinya hanyalah sebuah ruang kosong bertuliskan "KANTIN" yang berisi bangku dan meja rusak, papn tulis yang mulai dikeroyok rayap dan beberapa buku buku yang sudah tidak kelihatan lagi tulisannya... Jadi pada saat jam istirahat, para murid SD Puren akan berhamburan keluar gerbang .. karena disana sudah ada para penjaja makanan dan minuman ringan... sebut saja mi kocok, tempura, roti bakar aneka rasa, aneka mainan seperti robot2an atau boneka, aneka gambar tempel hingga tatto temporer (ini yg paling menghawatirkan), aneka jus buah dan minuman bersoda bahkan hingga warung makan di seberang jalan milik bu Nur dan mbak Wati atau Kantin Mawar...&lt;br /&gt;banyak alternatif yang bisa mereka pilih, untuk mengisi 15 menit waktu istirahat sekolah. Biasanya berlangsung pada pukul 08:45 am ingga 09:00 am.&lt;br /&gt;Sebagai seorang yang memiliki hobi motret, Saya tertarik untuk mengabadikan 15 menit "jam istirahat" mereka. Letak SD Puren yang tidak jauh dari Wisma Mawar malah bikin sempurna, saya teringat "sabda" seorang guru (teacher : English atau slang englishnya: ticer ^:)^ ) bahwa "all things are jepreatable" dan karena "sabda" inilah saya berpikir, ngapain juga hunting jauh2 ke Pasar Ngasem, Kalasan, Bantul atau Bandung kalau ternyata bisa belajar motret di dekat kita. Dan hal lain lagi karena kedekatan lokasi inilah saya akhirnya jadi sering bertemu dengan anak2 SD Puren ketika hendak ke kampus atau sekedar nongkrong di Kantin Mawar atau bercanda tawa dengan para ParkMan di Jogja Chiken seperti Ambon, Dono, Prmin, Pak Yadi atau Kipli... kalau makin akrab dengan anak2 ini bukannya nanti lebih gampang untuk melakukan "aproaching" saat hendak menjepret ekspresi mereka dengan lensa 50 mili atau 19-35 mili yang butuh jarak dekat agar lebih sempurna... well its a challenge. layaknya seorang yang baru belajar jurnalistik saya coba menerapkan beberapa pakem2 yang ada dan hasilnya pun masih jauh dari bagus... even just for "passer by images" mine are worst... nothing special... saya mulai menyusun beberapa urutan daftar apa saja yanga akan saya lakukan selama 15 menit tersebut, apa saja yang saya foto, bagaimana komposisinya, apa filmnya, kapan developnya dan bagaimana nanti setelah foto2 ini selesai... i wish i could make my own exhibition at the school, maybe working together withs the school staff or even nyari sponsor...hahaha tapi kayaknya hal itu masih jauh. mengingat foto asal2an saya ini bakal gagal kurasi nantinya, mengingat aliran saya yang "waton njepretism" dan tidak ada yang bagus secara teknis maupun estetisnya...ok lets get back to "break time"...bebrapa hal yang saya catat dan saya anggap penting untuk ditelusuri dan harus termuat di foto2 saya nantinya adalah: overview,interaksi, portrait, detail dan special moment. saya mulai menyusun apa saja nanti yanga akan saya potret.. sebab walaupun harga Lucky SHD 100 masih lumayan murah namun bukan jadi alasan untuk memboroskannya. sukur2 kalau dikasih ijin make digitalnya si Lucas Aditya, Oscar Siagiaan atau minjem ke Anna Novia ... jadinya kan bisa lebih hemat. but terkadang kamera digital mereka selalu sibuk hehehehe ... off record: sekarang dah punya range finder.. kayaknya SLR mulai ditinggalkan.. kan dah upgrade ke "level yang lebih tinggi" (dari SLR ke RF kekekeke.. seandainya punya horizon kompak atau perfect bakal lebih bahagia.. kan tahtanya lebih tinggi.... LOMO gitu loh..:-") setelah saya amati.. ternyata banyak cerita dalam 15 menit jam istirahat pertama mereka. 15 menit penuh cerita... 15 menit penuh canda dan tawa... 15 menit dunia mereka.&lt;br /&gt;dalam 15 menit ini mereka menciptakan dunianya sendiri. dunia yang penuh dengan keceriaan... dan tentu saja canda tawa serta senyum manis menghiasi wajah mereka selalu. 15 menit yang dimanfaatkan untuk menikmati aneka jajanan berbekal uang saku yang dititipkan orang tua. Brapa sih standar uang saku bagi anak SD jaman sekarang?? seingat saya ketika masih sd dulu uang saku tiap hari adalah limapuluh rupiah.. itu sudah lumayan mewah. dari limapuluh rupiah tersebut saya sudah bisa menikmati sebungkus nasi kuning, es mambo.. tapi tidak setiap hari saya diberi uang jajan, maklum bapak saya hanya seorang petani yang bergantung pada musim hujan dan subsidi pupuk...disamping itu jarak rumah dan sekolah yang tidak begitu jauh membuat saya lebih suka menghabiskan waktu istirahat untuk membaca babarapa buku "dongeng" atau bikin pe-er di kelas, toh itung2 bentar lagi bisa pulang rumah kalau dah berbunyi lonceng panjang...kembali ke Puren, sd puren ... selain menikmati makanan dan minuman yang dijajakan di area depan sekolah.. 15 menit ini mereka isi juga dengan permainan yang sudah diwariskan sejak dulu kala.. yah sebut saja main lompat tali, perang nama atau main bola sepak. banyak lagi permainan yang bisa dimainkan, terkadang permainan ini dirasakan makin ilang ditelan waktu dan diganti tamagochy, psp atau game watch yang lebih menekankan sisi "personal" ketimbang "komunal" ... but for most of puren pupils, they always play a game together... kebanyakan dari mereka adalah anak kampung yang tidak mampu beli mainan macam psp, sega, nintendo, gamewatch atau xbox. toh dengan permainan macam "ular naga" dibutuhkan kerjasam dan melatih jiwa leadership serta menjaga kekompakan.. beberapa waktu lalu saya mendokumentasikan kegiatan yang disponsori oleh UNICEF dan Rumah pelangi di dusun Kunden, sitimulyo. disana saya menemukan bahwa dalam permainan memindahkan air dari bambu yang satu ke bambu yang lain tidak hanya membutuhkan kerjasama tim namun kepercayaan terhadap anggota tim merupakan sebuah hal yang harus dilaksanakan agar bisa sukses. hal seperti ini kayaknya susah ditemui dalam permainan yang ditawarkan lewat PSP (portable play station) misalnya... mau percaya siapa coba, wong mainnya cuman sendiri. dimana letak nilai kebersamaan dan kekeluargaan kalau gini, apalah artinya pancasila jika emang individualitas ditanamkan sejak sd...??well sebagaimana disinggung di muka, uang jajan yang diberikan oleh orang tua yang saya sendiri tidak pasti jumlah (standarnya) untuk anak masa kini pun beraneka ragam. ada yang diberi seribu rupiah, ada yang tiga ribu bahkan ada yang sepuluh ribu, seperti si Bayu. katanya sih untuk sekalian sarapan di warung mbak wati yang terletak hanya 10 meter dari sekolah. warung nasi yang memang buka sejak pukul 8:30 ini punya target pasar utama adalah para mahasiswa atau anak kos. yang entah mengapa merasa memiliki hak istimewa dari status "ke-MAHA-annya"... hak untuk berteriak dan meneriakan "suara rakyat" bahkan heroik dan gagah perkasa... patriotism dan nasionalis serta garda demokrasi sejati ... namun sayangnya sosialisasi dengan lingkungan sekitar tempat ia tinggal minim sekali. ngapain kenalan sama orang kampung sekitar, toh strata pendidikan nya aja udah beda, mana pasti ga nyambung kalau ngomong... masya allah... pembela rakyat macam apa ini. anak kos yang "merantau" jauh dari tanah kelahiran seperti memiliki kebebasan baru di dunia kos2an. minimnya pengawasan dan kontrol sosial memperparah kondisi ini. jangan heran kalau salah sstu dosen Sunan Kalijaga pernah membuktikan sebuah fakta yang menggemparkan dari penelitiannya, hampir 90 % mahasiswi di kampusnya sudah tidak perawan lagi... ya ampun ternyata dibalik kesahajaan jilbab dan gaun yang anggun tersimpan sosok yang kontradiktif.. belum lagi banyak mahasiswa yang waktunya tidak dihabiskan di ruang perpustakaan atau ruang diskusi dan ruang publik lainnya, namun dihabiskan di meja judi, ruang 3 kali 4 di sarkem, atau ruang dansa di kelab malam. sex bebas, bahkan sampai menjadi bandar narkoba selalu mewarnai pemberitaan tentang muka mahasisiwa masa kini.... mau jadi apa bangsa ini kalau tulang punggungnya saja bermasalah dan kehilangan "sum-sum"-nya ....&lt;br /&gt;para orangtua yang entah mengapa makin sibuk kadang lupa kalau jajanan dan bekal yang bisa didapatkan di sekitar sekolah telah menggantikan sesuatu yang lebih berarti dari sekedar penjelasan KBBI mengenai kata "sarapan" yang sebagai kata benda semata. nilai kebersamaan, kehangatan, perhatian, berbagi dan "rumah" dalam ritual sarapan tidak bisa tergantikan lewat jajanan bersama teman di sekolah. jangan salahkan jika si anak lebih suka hang out dengan teman ketimbang menghabiskan waktu di rumah yang entah mengapa terasa makin dingin dan sepi. syukur saja jika teman yang dijadikan "konco" adalah teman yang positif, bagaimana kalau "peer groupnya" adalah teman-teman seperti rata2 anak wisma mawar yang dari foto 3 kali 4 nya saja sudah termuat pengertian kata sifat "destruktif" .... lebih repot lagi kalau ternyata tokoh2 idola mereka (role model) dipahami hanya dari kata "metal" dengan salam tiga jarinya atau kata "rock n roll" dengan semangat pemberontakan yang hanya dipahami melalui falsafah "mabuk, sex, musik dan mati" semata...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15 menit dunia puren ... adalah 15 menit yang tidak hanya bermakna bagi anak2 sd puren saja, 15 menit tersebut memiliki arti penting bagi para penyedia jajanan. Sebut saja mas Sello dan istrinya yang menyediakan roti bakar bandung aneka rasa dan mie rebus/goreng dengan porsi setengah.. sehari-harinya mereka bisa menghabiskan lebih dari 20 bungkus mi dan 10 bungkus roti tawar. 15 menit ini telah menunjang perekonomian mereka yang sebagaimana seperti kebanyakan masyarakat indonesia yang semakin hari semakin terjebak dalam persoalan ekonomi yang tidak pernah selesai... berbagai kebijakan-kebijakan perekonomian dan politik yang diambil oleh pemerintah tidak lagi membebaskan masyarakat dari persoalan malahan menambah jumlah persoalan.. belum lagi selesai mengurusi masalah ini eh malah elit-elit politik yang katanya "representasi dari rakytat" malah beralih fokus ke soal "pemilu 2009 nanti" ... kalau mau ditelusuri lebih lanjut lagi.. brapa banyak sih kebijakan yang benar2 mengakomodasi suara rakyat (benar-benar rakyat, bukan rakyat minoritas, mayoritas apalagi rakyat dalam tataran fraksi-fraksi) ... minim sekali. sayangnya inilah gambaran buruk demokrasi.. saya lebih suka menyebutnya sebagai "noda demokrasi"... suara rakyat adalah saura tuhan, sayangnya rakyat yang lebih keras suaranya lah yang didengar.. buat yang suaranya lemah lembut atau yang cuman berbisik jangan harap untuk didengar. mending ikut yang suaranya keras, sebagaimana dipaparkan oleh Elisabeth Noellle-Neumann dalam teorinya yang paling berpengaruh dalam studi psikologi komunikasi .. die sweigespiralle, spiral kebisuan. lebih parah lagi kalau ternyata yang suara yang lantang bak paduan suara dengan ribuan bahkan jutaan orang ternyata dikontrol oleh sekelompok kecil orang .. uggh jadi ingat stratifikasi arus informasi dan kuasa dalam teori arus informasi dan mediasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ah .. 15 menit dunia puren adalah 15 menit penuh diskusi.. 15 menit yang memiliki latar belakang cerita yang tidak hanya tersirat dalam gambar-gambar wajah ceria anak2 sd puren ... 15 menit yang saya sampaikan disini bukan hanya sebatas itu. 15 menit yang penuh ambiguitas... keceriaan yang hanya sebentar walau terjadinya antara hari senin hingga sabtu. 15 menit yang saya gambarkan bukanlah semata 15 menit saat anak2 sd puren ini menikmati pelarian dalam dunia semetaranya semata, bukan pula soal laba dari penjualan tempura dan es teh semata, bukan pula sekedar main sepak bola dan jadi bintang lapangan namun lebih dari itu ... 15 menit tentang indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kayaknya sih ... :P&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19660339-3178740630048314979?l=astaganaga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://astaganaga.blogspot.com/feeds/3178740630048314979/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://astaganaga.blogspot.com/2008/08/dunia-15-menit.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19660339/posts/default/3178740630048314979'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19660339/posts/default/3178740630048314979'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://astaganaga.blogspot.com/2008/08/dunia-15-menit.html' title='Dunia 15 menit'/><author><name>astaganaga</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_KJ7CTWeHTlg/SKz6nZnH-vI/AAAAAAAAABY/73IfKyQIntA/s72-c/SDN+Puren.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19660339.post-9034038742604409155</id><published>2008-08-12T16:11:00.000+07:00</published><updated>2008-08-12T16:33:42.568+07:00</updated><title type='text'>Ketika Theresa &amp; Tukang Foto Keliling Bercinta di Ruang Gelap</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"Sabtu sore kemarin seharusnya sudah terpilih ketua FJK yang baru. Sabtu sore kemarin harusnya sudah ada visi dan misi dari kandidat yang dijabarkan … sabtu sore kemarin harusnya daftar rencana kerja sudah bisa dijabarkan oleh kandidat.. sabtu sore kemarin harusnya saya ketemu orang gila ...&lt;br /&gt;sabtu sore kemarin &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;harusnya saya bercinta dengan teresa di ruang gelap&lt;/span&gt; ….."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Catatan Kaki&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Regenerasi FJK&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; oleh Tukang Foto Keliling yang gagal jadi 'fotografer'&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Belakangan ini ‘saya’ sering bertanya tanya pada diri sendiri: mengapa ‘saya’ tertarik dan ikut memperjuangkan FJK. Sah-sah saja anda mencurigai ‘saya’, itu hak anda. Namun bagi saya sen&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_KJ7CTWeHTlg/SKFXneT6xWI/AAAAAAAAABQ/c7Jz3Y1uOgo/s1600-h/diversion7.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_KJ7CTWeHTlg/SKFXneT6xWI/AAAAAAAAABQ/c7Jz3Y1uOgo/s400/diversion7.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5233560577644348770" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;diri, ‘saya’ berhutang budi pada FJK yang telah menanamkan dasar-dasar yang kuat dalam pembentukan diri menjadi tukang foto keliling bagi saya. Lebih daripada itu, FJK telah mengenalkan saya dengan sesuatu yang saya tidak dapatkan di tempat lain: KAMAR GELAP. Yah kamar gelap yang pengap dan berdebu itu. Bahkan jika tidak hati-hati, bisa saja tersandung, bersentuhan dan menyinggung yang lain bahkan diusir dari sana, dipaksa keluar, diharuskan keluar, diharuskan masuk, diharuskan terus membuka mata dan membiasakan diri dengan aroma cairan kimia, belum lagi jemari menguning dan gatal-gatal. Sebuah tempat yang sangat dilematis, bahkan paling ambigu. Di satu sisi ia harus terus gelap, namun pada sisi lainnya setitik sinar akan menghasilkan ‘ribuan kata’ tetap dibutuhkannya. Kamar tempat kami berceritera dengan bahasa kami, bercumbu dengan developer dan fixer murahan, dan beronani demi cita-cita kami; jadi fotografer, yah fotografer jurnalistik. Bukan hanya jadi tukang foto keliling seperti ‘saya’ sekarang ini. &lt;/div&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berangkat dari kehilangan ‘makna kamar gelap’ yang tercipta, beberapa rekan kemudian mencoba menjadi sinar terang di akhir tahun duaribusatu. Dengan kerja keras dan dedikasi terhadap ruang gelap yang tiada habisnya, mereka memberikan nyawa baru bagi apa yang disebut FJK, fotografi jurnalistik klab. Kisah perjalanan yang naik turun ibarat sinetron remaja dan beberapa kali mengadakan kegiatan yang bermodal ‘niat’ hingga ‘nekat’ pun mewarnai sejarah organisasi yang katanya lahir di hari ‘Coklat dan Mawar Merah’. Dengan berbagai prestasi yang dicatat baik perorangan maupun organisasi, lengkap dengan catatan merah yang didapat juga menjadi pemanis sejarah perjalanan hidup FJK, pun hingga saat ini, saat pergantian kepengurusannya yang kemudian ditunda hingga Jumat nanti.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kembali pada persoalan klasik saat pertama kali mendengar kata FJK, fotografi jurnalistik klab: mendefinisikan nama.&lt;br /&gt;What is a name, a diamond still a diamond even though its on mud. Namun lain persoalannya dengan sebuah organisasi, nama mencirikan organisasi. Ciri yang dapat dilacak melalui implementasi program kerja yang direncanakan. Nama menjadi image, citra bagi organisasi, demikian halnya dengan FJK. Berfokus pada term jurnalistik tidak serta merta menjelaskan karya-karya anggotanya. Yang pada kenyataannya masih sedikit sekali yang mengerti tentang hal yang paling simpel: apa itu jurnalistik? Sebelum ke soal apa itu foto jurnalistik.&lt;br /&gt;Pemaknaan ulang pada makna ‘jatidiri’ FJK saya pandang sebagai hal yang sangat krusial terutama bagi ketiga kandidat ketua FJK. Dengan memahami jatidiri FJK, dengan sendirinya dapat menjadi tolak ukur dan acuan dalam merencanakan rencana kerja dengan visi dan misi yang jelas. Kembali merumuskan apa yang disebut jurnalistik dalam FJK, dapat membantu untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan yang mengarah pada sisi tersebut.&lt;br /&gt;Kepelatihan yang ditawarkan oleh FJK dalam pengamatan saya memang masih pincang. Dan hal ini berlaku sejak awal ‘rebirth’ nya, yang parahnya menjadi semacam warisan yang ingin diabadikan selamanya. Di satu sisi, kepelatihan teknis mendapat porsi yang cukup tinggi dengan beraneka pengenalan teknik dan hunting yang digelar pengurus maupun personal hunt yang tidak kalah intensnya. Dari titik ini, FJK mengarahkan tentang bagaimana membuat foto yang bagus secara teknis. Namun sisi minusnya adalah kurangnya bahkan tidak adanya pelatihan dalam hal jurnalistik. Foto jurnalistik adalah communication photograph, bukan sekedar men-documentio-kan sebuah peristiwa. Ini yang saya tangkap pada saat karya-karya lifestyle dibuang dari meja kurator. Membuat foto bagus semua bisa, tapi apakah FJK bisa membuat foto yang memiliki kedalaman makna cerita apalagi bernilai jurnalistik? Rasanya sedikit sekali yang bisa, bahkan sama sulitnya dengan menyusun caption foto, atau menjabarkan tema foto yang masih ideal kedalam bentuk gambar. Satu hal yang kemudian menunda perhelatan gelar karya tahun ini. Bukankah hal yang bijak untuk menunda atau membatalkan gelar karya yang asal-asalan dan tidak jelas arahnya. Daripada harus menerima umpatan dan makian yang memang memiliki alasan kuat untuk diutarakan, wajar dimaki-maki dan diumpat-umpat sebab memang apa yang dipamerkan ‘memaki-maki’ yang menonton bahkan mengumpat diri sendiri dan yang ber-pamer. Kalo mau pamer yah pamer lah yang benar-benar pamour, jangan asal pamer-pameran apalagi pura-pura memamerkan pameran. Lho itu kan ada di daftar kerja, kami harus bikin gelar karya tiap tahun. Waduh … apa bedanya dengan palsunya ulang tahun? Sadar telah berubah namun tidak berubah juga.&lt;br /&gt;Gelar karya, yang entah kenapa dipahami sebagai sebuah keharusan pada setiap kepengurusan terkadang miskin makna. Memang diakui rupa pemilu sedikit lebih membanggakan daripada gelar-gelar karya yang lain yang tekesan hanya gelar-gelaran yang kapan saja bisa kelar dari ingatan. Walau diakui bahwa rupa pemilu diadakan atas kecermatan membaca iklim yang ada, konteks sosial saat itu mendukung rupa pemilu menjadi sebuah gelaran yang hanya mampu ‘merekam’ hajatan lima tahunan, sebagaimana dikatakan oleh kuratornya Eko Budiantoro.&lt;br /&gt;Gelar-gelaran yang mewarnai kehadiran kepengurusan baru dengan segenap tema yang coba diangkat memang menjadi ciri dari FJK, bahkan boleh dikatakan ‘obsesi kepengurusan’ yang kemudian menjadi ajang gagah-gagahan antara mantan pengurus. Soal ini saya baca sebagai sebuah upaya FJK untuk menjaga ‘ke-eksistensi-annya’ di tengah maraknya gelar-gelaran yang sedang subur berkembang. Sungguh hal yang naif jika mengatakan eksistensi ditunjukan dengan karya, tanpa menegaskan karya apa yang ditunjukan. Eksistensi bukan soal ‘ini saya, lihatlah’ tapi soal ‘apa dan siapa saya’.&lt;br /&gt;Apa dan siapa yang eksist, apa dan siapa yang kemudian melihat saya dan mengakui ke-eksist-an saya. Lebih jauh lagi siapa yang mau eksist, untuk apa dan bagaimana? Sekedar pertanyaan buat pengurus FJK: apa yang kalian urus, mengapa dan untuk siapa? Sehingga kepengurusan ini tidak kemudian menjadi gagal mengakomodasi minat dan bakat motret yang merupakan salah satu alasan di-hidupkan-nya kembali FJK. Tentu saja ini merupakan tantangan bagi kepengurusan yang baru, sanggupkah anda menjembatani hasrat teman-teman dalam fotografi dan memperjuangkan kesolid-an kepengurusan nantinya, jatuh bangun dan tersandung bahkan sampai ke jalan buntu? Inilah saatnya teman-teman belajar berorganisasi, ketemu berbagai kepala dalam satu ruangan dan berupaya untuk menyatukan apa yang ada dalam kepala-kepala tadi. Tantangan yang masih belum ditemui jawaban dari masa ke masa kepengurusan FJK. Lebih kacau lagi, kepengurusan yang secara de facto dan de jure yang telah terbentuk lewat one man one vote akhirnya ditinggalkan yang lain, dan bahkan ditinggalkan kabinetnya. Sanggupkah anda menjaga hal ini tidak terjadi? Hal yang kemudian menjadi sebuah refleksi bagi diri kita yang suka foto, mau jadi tukang foto keliling, fotografer, atau sekedar berorganisasi?&lt;br /&gt;Lelah dengan sejumlah persoalan internal FJK muncul masalah baru, ternyata kamar gelap ini berada dalam kamar gelap yang lebih luas, kamar gelap milik ‘Teresa’. Kamar gelap yang bahkan lebih gelap, lebih pelit cahaya, lebih kompleks dari sekedar nyampur developer dan ganti bolam enlarger, memiliki belasan bahkan ratusan tingkat gradasi, lebih rapat dibanding tutup bungkus kertas foto dan masih banyak lagi komplikasinya. Kamar gelap milik si Teresa ini rupanya memiliki lampu berwarna-warni, tidak hanya merah. Teresa, gadis yang belum lama ini menginjakan kaki pada angka enambelas perjalanan hidupnya, semakin menunjukan keanggunan dirinya. Tidak seperti gadis sebaya pada umumnya, Teresa memiliki perbedaan dari mereka dan beberapa saudaranya yang lain. Akreditas serta pesonanya kemudian menjadikan banyak remaja mengantri demi mendapatkan nomornya. Atau bahkan untuk sekedar makan malam denganya atau lebih dari itu, jadi kekasihnya dan berharap bisa bercinta di ruang gelap dengannya.&lt;br /&gt;Sadar akan keanggunanya, Teresa kemudian melakukan seleksi. Mana yang pantas baginya, tukang foto keliling, penyiar radio dan televisi, atlit futsal dan basket, biro iklan, public relations officer, wartawan infotainment ataukah pengurus lsm. Mana salah satu dari mereka yang kemudian bisa mencuri perhatian Teresa, yang entah sama dengan gadis-gadis abege lainnya, suka dipuji dan disanjung baik di rumah sendiri atau hingga melampau batas regional. Hal ini wajar saja, mengingat Teresa adalah seorang gadis yang tidak ingin kecewa dengan pilihannya, seolah merasakan pengorbannya demi pilihannya sangat besar hingga tak ingin nantinya dikatakan salah pilih oleh ayahnya, Pak Slamet yang pusing mengurusi tidak hanya Teresa, namun masih banyak saudara lainnya yang bolak balik bikin ulah….. ugh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Photojurnalis adalah orang gila …&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19660339-9034038742604409155?l=astaganaga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://astaganaga.blogspot.com/feeds/9034038742604409155/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://astaganaga.blogspot.com/2008/08/ketika-theresa-tukang-foto-keliling.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19660339/posts/default/9034038742604409155'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19660339/posts/default/9034038742604409155'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://astaganaga.blogspot.com/2008/08/ketika-theresa-tukang-foto-keliling.html' title='Ketika Theresa &amp; Tukang Foto Keliling Bercinta di Ruang Gelap'/><author><name>astaganaga</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_KJ7CTWeHTlg/SKFXneT6xWI/AAAAAAAAABQ/c7Jz3Y1uOgo/s72-c/diversion7.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19660339.post-5239183371738202629</id><published>2008-08-12T06:05:00.000+07:00</published><updated>2008-08-12T06:19:12.865+07:00</updated><title type='text'>Media Massa: agen kontrol sosial dan pembentukan opini publik</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;“ It may not be succesful much of the time in telling people what to think but, it stunningly succesful in telling its readers what to think about”&lt;/span&gt; - Barnard Cohen -&lt;br /&gt;sebuah kritik terhadap teori 'uses and gratification'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_KJ7CTWeHTlg/SKDGvIXvaNI/AAAAAAAAABI/Dg4g2YHuEhI/s1600-h/IMG_3353.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_KJ7CTWeHTlg/SKDGvIXvaNI/AAAAAAAAABI/Dg4g2YHuEhI/s400/IMG_3353.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5233401280007727314" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Berbicara mengenai kontrol membuat saya teringat akan kajian kajian Foucault saat masih memasuki semester satu kampus tercinta. Dan ketika itu saya tertarik pada sebuah image yang ada dalam bukunya, sebuah menara pengawas yang dinamakan panopticon. Peran panopticon adalah sebagai tower yang dari sana para sipir bisa melihat semua sel-sel. Ia merupakan sebuah perlengkapan arsitektural yang memungkinkan aparatus mengumpulkan informasi dan memberlakukan kekuasaan dalam penjara (Penjara merupakan paradigma Foucault atas apa yang terjadi dalam masyarakat keseluruhan. Penjara adalah suatu “disipliner aparatus yang lengkap” dimana seluruh sistem yang lain diperagakan dengan satu tingkat atau tingkat yang lain. Penjara adalah sistem karseral yang meracang tingkatan bagi masyarakat keseluruhan agar menjadi sebuah sistem semacam itu. Kekuatan untuk menghukum berjalan pada setiap kondisi di masyarakat (Lihat: George Ritzer, Teori Sosial Posmodern, Kreasi Wacana, Yogyakarta, 2003). Panopticon adalah sumber kekuasaan yang sangat hebat bagi aparatus penjara karena memungkinkan mereka melakukan pengawasan total. Di antara lain ia benar-benar mengeliminir dengan pasti dan efisien kemungkinan konfrontasi fisik antara aparatus dan sistem hukum. Lebih penting lagi kekuasaanya bertambah, karena tahanan mengontrol diri mereka sendiri, mereka berhenti melakukan berbagai kegiatan barangkali karena mereka takut dilihat oleh aparatus yang kemungkinan berada dalam panopticon. Dari pemahaman Foucault tentang panopticon tersebut jelas terlihat keterkaitan antara ilmu pengetahuan, teknologi dan kekuasaan. Kekuasaan menurut Foulcault bukanlah soal intensi individu, rezim ataupun kelas sosial tertentu, bukan pula soal relasi produksi dan eksploitasi, melainkan jaringan relasi yang anonim dan terbuka. Foucault nyaris tidak mencanangkan sebuah teori ontologis tentang kekuasaan, sebab ia lebih berfokus pada partikularitas relasi-relasi (penjara, rumah sakit, rumah sakit jiwa, sekolah dan sebagainya (http://filsafatkita.f2g.net/mich1.htm). Kekuasaan adalah soal praktik-praktik konkrit yang lantas menciptakan realitas dan pola-pola perilaku, memproduksi wilayah objek-objek pengetahuan dan ritual-ritual kebenaran yang khas. Praktik-praktik itu menciptakan norma-norma yang lalu direproduksi dan dilegitimasi melalui para guru, pekerja sosial, dokter, hakim, polisi dan administrator, misalnya. Kekuasaan mewujudkan diri dalam pengetahuan, tetapi pengetahuan pun lantas melahirkan kekuasaan. Jika dikaitkan dengan media (di Indonesia) maka kekuasaan media tidak hanya terletak pada penyajian realita tetapi juga sebagai alat kontrol sosial. Hal ini membuat posisi media semakin dominan. Kekuasaan media menjadi semakin kuat ketika pengetahuan terhadap dunia kehidupan sepenuhnya diperoleh khalayak dari media. Dunia Kehidupan atau 'lebenswelt' yang diperkenalkan oleh Husserl dipahami sebagai “dunia yang dihayati” menunjuk pada pemahaman akan rasionalitas tertentu dimana ilmu pengetahuan menyatakan kebenaran terakhir tentang dunia. Lebenswelt adalah keseluruhan makna-makna asali yang mendahului setiap macam rasionalisasi tentang dunia. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana media membentuk dunia-kehidupan tersebut. Dapat dijelaskan bahwa, jika kekuasaan (dalam sebuah sistem) terletak pada negara, maka dunia kehidupan yang diciptakan adalah representasi dari dunia kehidupan negara. Media hanyalah merupakan corong negara atau kelompok (baca: penguasa)  untuk melanggengkan kekuasaan penguasa dan kelompok penguasa atau mempertahankan status quo. Pada negara dengan sistem totaliter, media massa dimiliki oleh negara dan tidak ada media lain, jika ada hanyalah corong dari parpol penguasa. Dalam kasus ini media menjadi sarana propaganda politik yang sangat efektif dan sebagai pembentuk dunia kehidupan yang dominan. Hukum yang diciptakan oleh negara hanya sebagai sebuah proteksi terhadap status quo. Jika kekuasaan terletak pada pasar, maka dunia kehidupan yang diciptakan adalah dunia kehidupan kelompok kapital. Artinya media dalam hal ini menjadi alat yang ampuh dalam pencapaian akumulasi modal dan pengaman kelas. Hukum (norma) yang datang dari masyarakat (dunia kehidupan) akan membentuk sistem (negara dan pasar) yang kemudian membentuk dunia kehidupan itu sendiri. Konsep ini tidak lepas dari ideologi dan budaya media serta konsep hegemoni media yang ditawarkan oleh Gramsci. Menurut Althusser ideologi adalah sebuah representasi dari citra, mitos, ide dan konsep. Ideologi dalam hal ini menyakinkan kelompok yang tertekan bahwa semuanya berjalan natural. Ideologi menyiratkan adanya penopengan, penyimpangan, atau penyembunyian realitas tertentu. Gramsci menjelaskan bahwa hegemoni digunakan dengan mengacu pada sebuah kondisi dimana kelas dominan tidak hanya mengatur namun juga mengarahkan masyarakat melalui kepemimpinan moral dan intelektual. Dalam hegemoni, kpentingan sebagian masyarakat yang berkuasa “diuniversalisasikan” sebagai kepentingan masyarakat secara keseluruhan, dengan situasi yang terasa alamiah, normal, dan tanpa pertentangan serius (Lihat John Storey, Teori Budaya dan Budaya Pop. Yogyakarta: Qalam 2003). Media dalam penyajian realitas mengalami berbagai proses, sehingga media memiliki potensi untuk membentuk pemahaman baru akan realitas (baca: pengetahuan) yang pada akhirnya menciptakan kesadaran palsu pada diri khalayaknya. Sehingga rasionalitas akan dunia kehidupan menjadi benar apabila media menyajikan demikian. Dalam kajian komunikasi massa, hal ini dapat dijelaskan melalui model yang ditawarkan oleh Maxwell E. Comb dan Donald L. Shaw yang dinamai 'agenda setting'. Model agenda setting tampaknya memperbaharui kembali penelitian efek yang diabaikan oleh model Uses and Gratification. Model ini memusatkan perhatian pada efek media massa terhadap pengetahuan atau lebih kepada efek kognitif. Media massa memang tidak dapat mempengaruhi orang untuk merubah sikap, tetapi media massa cukup berpengaruh terhadap apa yang dipikirkan orang. Ini berarti media massa mempengaruhi persepsi khalayak tentang apa yang dianggap penting. Media massa memilih informasi yang dikehendaki dan berdasarkan informasi yang diterima, media massa mengemasnya dalam berbagai bentuk penyajian secara terus-menerus sehingga opini khalayak yang terbentuk sama dengan apa yang ingin diarahkan oleh media massa. Atau dengan kata lain media massa memiliki kekuatan dalam membentuk opini khalayak, dan menjadi sumber pengetahuan bagi pemaknaan terhadap dunia kehidupan/lebenswelt. Proses ini dilakukan lewat pemberitaan media yang secara simultan mengangkat topik-topik tertentu yang ada, penekanan pada topik tertentu, posisinya pada headline atau tema utama, panjang pendeknya pemberitaan serta liputan-liputan yang terkait. Hal ini sekaligus mengkritik teori uses and gratification yang mengabaikan fakta bahwa media massa memiliki kekuatan/kekuasaan untuk memanipulasi audiens/khalayak dimana media memiliki tiga  faktor yang berperan penting dalam pembatasan persepsi khalayak yang selektif yang dipaparkan oleh Elisabeth Noelle-Neumann melalui spiral kebisuan-nya (die sweigespiralle). Dengan kata lain media massa dapat mengontrol kognisi khalayak dalam proses seleksi media sebagaimana dijabarkan dalam teori uses and gratification.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19660339-5239183371738202629?l=astaganaga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://astaganaga.blogspot.com/feeds/5239183371738202629/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://astaganaga.blogspot.com/2008/08/media-massa-agen-kontrol-sosial-dan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19660339/posts/default/5239183371738202629'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19660339/posts/default/5239183371738202629'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://astaganaga.blogspot.com/2008/08/media-massa-agen-kontrol-sosial-dan.html' title='Media Massa: agen kontrol sosial dan pembentukan opini publik'/><author><name>astaganaga</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_KJ7CTWeHTlg/SKDGvIXvaNI/AAAAAAAAABI/Dg4g2YHuEhI/s72-c/IMG_3353.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19660339.post-2193390117504905497</id><published>2008-08-12T05:59:00.000+07:00</published><updated>2008-08-12T06:03:36.570+07:00</updated><title type='text'>Minggu pagi [ di ] Plaza UGM</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_KJ7CTWeHTlg/SKDEmysG58I/AAAAAAAAABA/LhOiBYpMPDU/s1600-h/51.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_KJ7CTWeHTlg/SKDEmysG58I/AAAAAAAAABA/LhOiBYpMPDU/s400/51.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5233398937725364162" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Plaza (spanyol) dipahami sebagai ruang publik terbuka, atau city square dalam bahasa inggris dan piazza dalam bahasa italia. Salah satu ciri dari plaza adalah adanya sebuah bangunan utama yang menyertainya, atau dikelilingi bangunan lainnya. Masyarakat Indonesia sendiri (jawa pada umumnya) telah mengenal plaza sejak jaman dahulu kala dengan istilah "alun-alun" yang biasanya terletak di pelataran istana, atau pusat kota. di Jogja sendiri ada alun-alun utara dan alun-alun selatan. Jurgen Habremas menyebutnya dengan istilah "public sphere", ‘ruang sosial’ yang terbuka, dan di dalamnya masyarakat dapat membangun opini dan mengekspresikan dirinya secara bebas, tanpa ada tekanan atau pemaksaan oleh siapapun. Dalam perkembangannya "public sphere" yang dikonsepkan Habrmars tidak terbatas pada konsep fisik semata. Media massa (mass cultural) dan media internet (cyberspace) telah menjelma menjadi public sphere yang subur pada beberapa tahun terakhir.&lt;br /&gt;Sebagaimana negara pengguna kalendar Romawi (gregorian maupun julian), hari minggu adalah sebuah hari istimewa. hari libur dari segala kegiatan (terkecuali instansi sosial semacam RSU, Kepolisian, Pemadam Kebakaran dsb) karena bangsa Romawi pada hari minggu (dies Solis, latin) melakukan penghormatan pada matahari. Seiring perkembangan waktu, Amerika Serikat mengadopsi Adamson Act yang kemudian dipakai secara global. Dan ketika Revolusi Industri mencapai tahap keemasan dimana penjara-penjara di Britania Raya penuh sesak, dan kaum buruh menjadi semakin marjinal, hari minggu menjadi sebuah hari yang disakralkan. Berkumpul dengan keluarga, atau menghabiskan upah sepekan yang memang rendah, di meja taruhan dan ticket sepakbola adalah yang mereka lakukan pada hari tersebut. namun setelah diberlakukannya aturan 5 hari kerja dan semakin padatnya Premier League maupun Division One serta Piala Liga, pertandingan sepak bola kemudian digeser ke hari sabtu oleh FA, sehingga orang inggris menyebutnya "saturday night fever" dimana stok bir dan rokok menipis drastis. lain halnya dengan Amerika Selatan, hari minggu adalah hari sakral, gereja menjadi penuh sesak dan tak ketinggalan setelah selesai berdoa mereka bergegas menuju lapangan sepakbola yang adalah gereja kedua, walaupun kadang "gereja kedua" ini diwarnai dengan ritual "baku lempar dan baku hantam" layaknya kisah saint Michael vs Brujeria dalam kitab taurat.&lt;br /&gt;Kampus Universitas gajah Mada, dengan luas lebih dari 740.000 meter persegi dan dengan total lebih dari 670 bangunan terpadu merupakan salah satu kampus yang paling diminati di negeri Indonesia. Bahkan pada beberapa fakultasnya memiliki jumlah mahasiswa/i luar negeri yang terbilang cukup banyak. Sebagai sebuah organisasi bisnis, kampus UGM diangap telah mampu menghidupi dirinya sendiri, sehingga pada beberapa tahun silam UGM dan 9 perguruan tinggi negeri lainya dicabut subsidinya dari pemerintah. alhasil biaya spp mendadak naik sebagai "domino effect" dari hal tersebut. Kenaikan biaya masuk dan biaya pendidikan di UGM tidak serta merta menurunkan minat calon mahsiswa dan mahasisiwi dari pelosok negri untuk dapat mengeyam ilmu pengetahuan yang ditawarkannya. Lihat saja grafik penerimaan mahasiswa yang dikeluarkan oleh UGM dari tahun 2000 hingga 2007 yang relatif stabil dan cenderung meningkat. Ada faktor lain yang menjamin hal ini. Pertama reputasi yang dibangun berpuluh tahun oleh civitas akademika UGM sendiri. Kualitas pengajar dan juga fasilitas pendidikan yang memadai menjadi faktor lainnya.&lt;br /&gt;UGM tidak hanya menawarkan mutu pendidik yang ditunjang oleh fasilitas perkuliahan yang memadai saja, namun pada minggu pagi, UGM menawarkan sebuah plaza, ruang/space (dalam konteks fisik) dimana masyarakat internal maupun eksternal kampus ugm berkumpul, melakukan berbagai aktivitasnya seperti menawarkan berbagai barang dan jasa. Daerah dari bundaran UGM hingga lembah kemudian menjelma menjadi sebuah pasar rakyat, panggung hiburan dan juga tempat olahraga sekaligus tempat cuci mata atau sekedar tempat hangout bersama kekasih, kerabat, sanaksodara atau teman-teman sekomunitas. Namun sangat disayangkan bahwa plaza UGM ini belum bisa dikatakan sukses sebagai sebuah "public sphere" seperti yang dikonsepkan Habermars, plaza UGM masih menjadi "pasar rakyat" semata dimana gambaran konsumerisme pada masyarakat tingkat bawah tampak dengan vulgarnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19660339-2193390117504905497?l=astaganaga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://astaganaga.blogspot.com/feeds/2193390117504905497/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://astaganaga.blogspot.com/2008/08/minggu-pagi-di-plaza-ugm.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19660339/posts/default/2193390117504905497'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19660339/posts/default/2193390117504905497'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://astaganaga.blogspot.com/2008/08/minggu-pagi-di-plaza-ugm.html' title='Minggu pagi [ di ] Plaza UGM'/><author><name>astaganaga</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_KJ7CTWeHTlg/SKDEmysG58I/AAAAAAAAABA/LhOiBYpMPDU/s72-c/51.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19660339.post-8343543387844975221</id><published>2008-08-10T06:00:00.000+07:00</published><updated>2008-08-10T06:07:45.382+07:00</updated><title type='text'>Reading Urban Sureal Photography - Lost</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_KJ7CTWeHTlg/SJ4h6CUTytI/AAAAAAAAAAw/x7qq07Ps9Nk/s1600-h/411712.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_KJ7CTWeHTlg/SJ4h6CUTytI/AAAAAAAAAAw/x7qq07Ps9Nk/s400/411712.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5232657097989278418" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Membaca foto yang ditawarkan oleh Maria Kartika dengan judul 'Lost' pada sebuah diskusi di forum street photography fotografer.net, menjadi hal yang sangat mengasyikan sekaligus menjadi tantangan tersendiri. Dalam beberapa hal, kode-kode dalam foto tersebut tidak sepenuhnya familiar dengan saya, bahkan hanya bisa saya temukan dalam bentuk analogon; dalam foto Lost tersebut. Saya menggunakan semiotika Barthes untuk memeriksa 'system of significationnya' dan kemudian mencoba menggunakan 'teori mitos' Barthes untuk memeriksa mitos-mitos yang  terkandung dalam foto tersebut. Kemudian merumuskanya kembali ke dalam pandangan 'urban surealism' serta memeriksa ulang anti-tesis yang ditawarkan oleh Alva Sondakh.&lt;br /&gt;Pemaknaan ini saya buat supaya 'seolah-olah' ilmiah saja ... jadi bukanlah sebuah 'sang real' yang kesahihannya tidak bisa diperdebatkan bahkan dibantah... who am I anyway?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Realisme relatif - makna denotatif sebuah foto adalah analogon:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Apa yang menjadi realisme relatif dalam foto ini?? 'foto wanita yang sedang menunjuk pada sebuah titik di sebuah bentuk/gambar dan seorang pria yang memperhatikannya (wanita tadi) dengan background sebuah bus 'dua lantai' dengan tulisan 'Lost? You Are Here' dan sebuah kendaraan lain didepanya yang berukuran lebih kecil darinya dan keduanya berada di depan sebuah gedung yang terletak di seberang jalan dari sisi si wanita dan pria serta tiang dengan gambar garis2 tadi yang secara keseluruhan mengatakan bahwa wanita dalm foto ini tersesat di sebuah sudut kota'&lt;br /&gt;Pertama-tama saya mencoba menemukan satuan-satuan dalam foto tersebut (tahap studium).&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;seorang wanita mengenakan jaket dan di bahu kirinya tergantung tas, memandang pada bagian kana atas frame, tangan kanan menunjuk pada;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;sebuah tiang, dengan gambar bergaris dengan beberapa tulisan yang susah untuk dibaca oleh saya karena ukurannya yang kecil yang saya asumsikan sebagai sebuah peta; peta dari jalan dan rute, tepat di atasnya terdapat beberapa logo dan tulisan yang melekat pada sebuah tiang bundar. Dan di sisi lainnya terdapat juga sebuah benda kotak berwarna hitam.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;seorang pria yang berdiri di sebelah kiri frame dan memandang ke arah wanita tadi&lt;/li&gt;&lt;li&gt;sebuah tulisan Lost? You are here pada background yang tertera pada sebuah bus dua lantai, yang entah sedang berhenti atau  bergerak lambat, dan sebuah kendaran yang lebih kecil ukurannya. Pada bisa dengan tulisan 'Lost? You are here', saya menemukan image penumpang pada lantai atas di beberapa deret dari bagian ujung bis serta di bagian paling kanan. di sebelah kanan tulisan Lost? You are here, terdapat sebuah gambar kotak berwarna putih yang di tengahnya terdapat titik hitam serta di sebelah kananya terdapat beberapa gambar (logo).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;jalanan yang lenggang (apakah ini jalur satu arah atau dua arah saya tidak pasti) namun yang cukup lebar, perkiraan saya jalan ini merupakan jalan yang terdiri lebih dari dua jalur, lihat oleh dimensi yang diciptakan dari 2 orang tadi dengan kendaraan di seberang serta marka jalan yang membagi badan jalan (aspal) tersebut.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Pada tahap ini pembacaan saya terhadap foto tersebut bergerak dari 'kode-kode' yang disebutkan di atas 'foto ini tentang seorang wanita yang tersesat, yang mencoba memastikan lokasinya saat ini (saat difoto), tulisan Lost? You are here menjadi elemen pemanis namun memiliki peranan yang cukup penting karena menegaskan gesture si wanita. kata 'here' ditunjuk oleh sebuah titik pada bidang putih disebelah kanannya. saya tidak akan memperdebatkan soal bis tersebut, karena bis tersebut hanya menegaskan bahwa lokasinya adalah jalan yang sudah ditegaskan oleh aspal yang ada dengan markanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;disini 'urban' hanya dipahami sebagai tempat, setting, lokasi... urban hanya dipahami dalam pembacaan bahwa ia adalah tempat dimana transportasi menjadi hal yang diatur dengan baik, dengan jalur jalan yang memungkinkan kemacetan menjadi minim, dengan informasi tentang transportasi yang tersedia dan bisa diakses dengan mudah oleh siapa saja... di sini urban hanya menjadi tempat dimana ada gedung bertingkat dan bis bertingkat yang menunjukan bahwa teknologi dan transportasi telah maju dan berkemabng baik bahkan ditangani dengan baik sehingga tidak tampak kemacetan ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;apakah saya akan hanya berhenti di sini, tidak !! the author still alive, namun sekarat. saya tidak akan berhenti disana. pembacaan saya tidak hanya pada level 'meraba-raba' kode-kode yang kelihatan, kasat mata (studium), namun lebih jauh.&lt;br /&gt;Saya berhenti pada sebuah titik, yang mana 'impressed me' ... titik dimana saya menemukan kenyataan bahwa dua manusia yang ada dalam foto ini adalah pria dan wanita dewasa dan lebih lagi pada soal jarak antara keduanya. Dengan hanya memberikan juxtaposition yang terdapat di foto tersebut dan kemudian berkonklusi bahwa inilah 'mimpi' inilah hal yang sureal, tumpang tindih juxtaposition yang saling berhubungan ini hanya bisa terdapat dalam mimpi. Sayangnya bagi saya ini belum surreal, coba tengok lagi konsep Henri Cartier -Brenson soal decisive moment, moment yang dibekukan oleh fotografernya. (sekali lagi disini saya masih menahan diri untuk berkonklusi..)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali pada titik 'pucti' tadi, yang 'mengesankan saya'- bagi saya inilah URBAN yang tidak hanya sebagai setting dalam foto ini. inilah sifat kota, ciri kota. ciri yang dibangun dengan sikap individualistik, pemujaan terhadap waktu (dalam konsep kapitalis waktu adalah uang, waktu adalah kapital) sehingga menolong atau membantu seseorang adalah kegiatan yang merugikan. sikap indivisualistik yang dalam ini digambarkan dengan jarak antara keduanya, gesture si pria yang hanya memperhatikan si wanita dengan tatapan datar, tatapan yang dibuat saat memperhatikan tingkah laku pada seorang yang tidak dikenal. kemudian anda mungkin akan berargumen.. ah bisa saja mereka sudah saling kenal, atau bisa jadi mereka sudah 'intim'... nope! sayang sekali saya tidak akan setuju dengan argumen ini, jika benar keduanya telah saling kenal; memiliki hubungan yang intim, tentu saja gesture si pria tidak 'datar' demikian. tentu ia akan ikut 'merasakan' apa yang dialami oleh si wanita, menyelidiki apa yang terjadi. but hal ini tidak ditunjukan dalam foto tersebut, she´s just a passer by, he just a man who waited for a transportation. Untuk ini kembali kita berterima kasih pada 'si perusak suasana', Sigmund Freud. Psikoanalisisnya memang kemudian menjadi telaah yang sangat membantu dalam berbagai cabang ilmu, sebut saja komunikasi. Verbal communication juga mempelajari gesture, mimik bahkan sampai ke hal kecil seperti melirik atau berkeringat yang menjadi 'message' yang dikirimkan bagi receivernya (ingat kembali konsep ego, super-ego dan id yang ditawarkan Freud). Hal lainnya yang dopelajari dalam komunikasi verbal adalah soal jarak antara satu manusia dengan manusia yang lain. Kita cenderung menciptakan 'ruang antara' kita dengan orang lain yang berada di sekitar kita, atau bahkan yang sedang bercakap-cakap dengan kita. Seberapa lebar ruang antara yang diciptakan tidak hanya menunjukan posisi kita tapi lebih pada upaya 'alam bawah sadar' untuk memproteksi diri, membuat kita nyaman. Studi gerak dan mimik ini memang sangat kompleks dan rumit, karena akan melibatkan tidak hanya satu disiplin ilmu saja (psikologi) namun bisa membutuhkan kajian komunikasi, biology, antropology hingga semiotika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ingin (pura-pura) lebih kritis lagi dalam memaknai urban yang sebagai keadaan, subyek utama dari foto ini saya akan bergerak ke pembacaan lebih lanjut; dengan menggunakan teori MITOS...&lt;br /&gt;Mitos adalah cara berbicara yang baru. mitos adalah kritik ideologi yang dikembangkan Roland Barthes melalui (kritik) budaya yang berkembang, seperti fotografi. Mitos adalah sistem semiotik tingkat II yang dijabarkan dalam Form, Concept dan Signification. kembali ke foto 'lost' tadi... apa yang menjadi mitos dalam foto tersebut? kehidupan perkotaan yang individualistik, yang selalu mengutamakan kepentingan sendiri, sehingga jika kau mendapat masalah kau harus menyelesaikannya sendiri, tidak ada orang lain yang akan membantumu. you are on your own (catatan: sampai titik ini saya membaca foto tadi BUKAN lagi sebagai foto wanita yang tersesat di sebuah wilayah urban, ia hanya menjadi landasan dari mitos, semiotika tingkat II). patut dicatat lagi, konsep urban adalah konsep kapitalistik yang ditunjukan dengan ciri-ciri tadi. Menurut saya foto 'lost' tidak berbicara mengenai keadaan tesesat di kota, dimana informasi mengambang dimana saja dan akses agar tidak tersesat bisa dijangkau oleh semua orang. Bagi saya foto ini berbicara tentang produk kapitalistik yang ditujukan dalam budaya masyarakat yang individualistik. Diperparah lagi dengan berkembang suburnya 'feminisme' (yang hanya bisa dilihat di wilayah metropolitan khususnya wilayah Eropa tengah dan Amerika Serikat). Bentuk praktis dari paham feminimisme adalah penolakan terhadap dominasi kaum pria (marxis). Meminta tolong pada kaum pria adalah sebuah tindakan 'menyerahkan diri' untuk didominasi oleh pria apalagi ditolong oleh pria, hal ini adalah bentuk penjajahan. Bagi kaum pria yang feminis, menawarkan bantuan adalah soal mendominasi (masih konsep Marxis), tindakan melecehkan dan meremehkan kemampuan wanita. Terma 'ladies first' sangat ditentang oleh kaum feminis. Sekali lagi konsep urban disini bukan hanya sebagai seting saja, tempat dimana tumbuh subur-nya budaya individualistik, tapi justru sebagai aktor utama, urban ditunjuk oleh sikap individualistik tadi. Sikap yang membuat kita menjadi jauh dari manusia yang lain, paham homo socius ditanggalkan, karena saya ada untuk diri saya sendiri bukan untuk orang lain karena saya adalah homo sapiens. Quia nominor ego leo (dalam bahasa Aesop).&lt;br /&gt;Buat apa saya menolong orang lain yang tidak saya kenal kalau hanya menghabiskan waktu saya, waktu adalah uang. dan saya bekerja umtuk itu, saya tidak ingin kehilangan pekerjaan hanya karena terlambat 25 menit untuk menolong orang yang sama sekali baru saya jumpai. Saya tidak mau berkorban untuk itu ... mind your own bussiness, welcome to the 'jungle'...&lt;br /&gt;Inilah kehidupan kota, inilah orang kota. inilah mitos yang ada dalam foto tersebut. Sebagai contoh; Tidak salah jika teman kuliah saya berkata 'lu nanya alamat di jakarta sama aja bunuh diri, belon lagi dikibulin ada juga lu dirampok' ... sebegeitunyakah kehidupan kota Jakarta??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Urban Surealism - urban yang sureal &lt;/span&gt;(sebuah gerak menuju konklusi)&lt;br /&gt;Seperti yang disebutkan di awal... surealis adalah gerakan untuk membawa kembali kekuatan pikiran pada fungsi-(semesti)-nya, yakni imajinasi.&lt;br /&gt;Apa yang sureal dari foto tersebut?? Apakah Foto (dicatat pula bahwa saya maksudkan dengan foto adalah analogon, representasi) tersebut adalah foto sureall?? Tidak menurut saya. Disana tidak ada obyek yang dream like, sesuatu yang tidak logis. Sesuatu bahkan keadaan yang 'mempermainkan' imajinasi saya selain hanya sebagai sebuah 'representasi' yang berupa teks yang dapat saya baca melalui strukturalis Barthesian ...&lt;br /&gt;Ambigukah saya?? Tidak.. mari kita periksa lagi dengan decisive moment ala Henri Cartier Brenson. Disini saya akan memakai sudut pandang sang fotografer. ''Saya menunggu moment, saya menunggu waktu yang tepat untuk memencet shutter, menunggu tangan si wanita menunjuk ke gambar, mencondongkan badan dan kebingungan, saat yang sama si pria melirik ke si wanita, dan sebuah tulisan (bis) tadi berada di tengah, diantara pria dan wanita tadi. saat itu terjadi saya ingin membekukannya, inilah moment menentukan saya. Saya sudah merencanakan semua itu di kepala saya, bahkan sehari atau seminggu sebelumnya saya pernah kesini mengevaluasi tempat ini, mengevaluasi setiap bis yang lewat, orang yang lewat, tulisan dan gambar-gambar yang ada di sekitar, bahkan ini jalur yang saya lewati setiap harinya saat berangkat ke studio foto saya yang mulai tergusur oleh era digital, rute pulang saya ketika saya menunggu bis jurusan rute 69 dan bertemu dengan fotografer wanita cantik membuat saya terus mengokang canonet saya ...  atau bisa jadi foto ini diambil saat evaluasi berlangsung. kapanpun moment tersebut dibekukan, itu adalah setingan dalam kepala saya. Saya menentukan kapan harus memencet shutter dan bagaimana mengkomposisinya'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pertanyaan saya&lt;/span&gt;: apakah foto tersebut foto urban yang sureal??&lt;br /&gt;Pembacaan saya pada tingkat Studium: urban hanya sebagai setting ...&lt;br /&gt;Pembacaan saya pada tingkat puctum dan dengan menggunakan Mitos: urban menjadi aktor utama ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatlah bahwa pembacaan saya adalah pembacaan terhadap foto yang sama, dan saya menegaskan bahwa saya menolak pembacaan saya hanya pada tahap studium dan juga puctum. Saya membacanya sebagai sebuah mitos ...&lt;br /&gt;yang kemudian menjawab Pak Alva Sondakh dalam antitesisnya (fotografer.net forum diskusi - konsep dan tema) ´di foto ini saya katakan URBAN telah menjadi tokoh utama, subyek, tidak lagi dimaknai sebagai sebuah seting atau sebuah lokasi terjadinya peristiwa, scene....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Apakah foto ini adalah foto tentang URBAN yang SUREAL??&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak melihat adanya unsur sureal dari pembacaan saya terhadap foto tersebut. Yang saya temukan adalah foto tersebut berhasil menghadirkan urban sebagai subyek, namun bukan urban yang surealis... Tidak ada yang tak-logis dalam foto tersebut. bahkan dalam pembacaan saya, foto tersebut logis-logis saja. Ini adalah 'keadaan' yang bisa ditemukan di wilayah urban yang dipenuhi dengan cirinya. Inilah ciri kehidupan kota, wajar demikian sebab ia adalah kota. Tidak ada yang tidak logis dari menjadi individual di kota (urban) apalagi metropolis. bahkan wanita tersesatpun hadirnya logis saja, tiap hari ada yang hidup dan mati apalagi tersesat (saya sendiripun hampir menjadi makluk sesat pikir). Wajar saja hal-hal tersebut, tidak menggugah imajinasi saya. Menurut saya foto ini lebih tepat sebagai foto yang decisive, bukan sebuah foto yang surealis apalagi urban surealis, sebuah street photo yang indah dan jika boleh saya katakan foto ini adalah sebuah 'kritik sosial yang paling merdu'... inilah kekuatan baru fotografi yang terus dikembangkan, sebuah kritik dan penggerak !!&lt;br /&gt;Apakah tidak ada yang namanya urban surealis photography??&lt;br /&gt;Jika foto dipahami sebagai sebuah analogon, nampaknya representasi dari urban yang surealis mungkin saja ada, bahkan dalam bentuk foto. Cuma sayang saya belum menemukan contoh foto yang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;ps: sumber dari bebebrapa file catatan kuliah dan beberapa buku pinjaman perpus kampus yang makin mahal dendanya, serta beberapa website yang makin banyak bug dan trojannya (sekali lagi agar pura-pura ilmiah)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19660339-8343543387844975221?l=astaganaga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://astaganaga.blogspot.com/feeds/8343543387844975221/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://astaganaga.blogspot.com/2008/08/reading-urban-sureal-photography-lost.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19660339/posts/default/8343543387844975221'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19660339/posts/default/8343543387844975221'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://astaganaga.blogspot.com/2008/08/reading-urban-sureal-photography-lost.html' title='Reading Urban Sureal Photography - Lost'/><author><name>astaganaga</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_KJ7CTWeHTlg/SJ4h6CUTytI/AAAAAAAAAAw/x7qq07Ps9Nk/s72-c/411712.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19660339.post-5629249983988038178</id><published>2008-08-10T05:31:00.000+07:00</published><updated>2008-08-10T05:43:47.297+07:00</updated><title type='text'>Ketoprak - Sebagai Media Pembangunan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 10"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 10"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_KJ7CTWeHTlg/SJ4byasSzYI/AAAAAAAAAAo/F5Ti4ysAe48/s1600-h/JAFLucky%232.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_KJ7CTWeHTlg/SJ4byasSzYI/AAAAAAAAAAo/F5Ti4ysAe48/s400/JAFLucky%232.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5232650370023607682" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 10"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 10"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5COwner%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C03%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Wingdings; 	panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:2; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p.MsoFootnoteText, li.MsoFootnoteText, div.MsoFootnoteText 	{mso-style-noshow:yes; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p.MsoCaption, li.MsoCaption, div.MsoCaption 	{mso-style-noshow:yes; 	mso-style-next:Normal; 	margin-top:6.0pt; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:6.0pt; 	margin-left:0cm; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:IN; 	font-weight:bold;} span.MsoFootnoteReference 	{mso-style-noshow:yes; 	vertical-align:super;} p.MsoBodyTextIndent, li.MsoBodyTextIndent, div.MsoBodyTextIndent 	{margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	text-align:justify; 	text-indent:36.0pt; 	line-height:200%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:IN;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0 	{mso-list-id:251816357; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:1568690718 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 	{mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l1 	{mso-list-id:948897735; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:795795842 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l1:level1 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Symbol;} @list l2 	{mso-list-id:2054571657; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-2123886480 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l2:level1 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Symbol;} ol 	{margin-bottom:0cm;} ul 	{margin-bottom:0cm;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: 200%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Mengacu pada teori &lt;i&gt;divusi inovasi&lt;/i&gt; yang diutarakan oleh Roggers, sebuah inovasi dapat diterima bila disebarluaskan atau dikomunikasikan. Esensinya adalah inovasi yang dipahami sebagai ide, praktek, atau obyek dalam kaitannya dengan pembangunan harus disebarluaskan melalui media tentunya sehingga inovasi tersebut dapat diterima atau diadopsi oleh masyarakat. Sebelum berbicara lebih lanjut, tentang peranan media tradisional dalam proses pembangunan di Indonesia, ada beberapa konsep yang perlu dijelaskan terlebih dahulu agar tidak terjadi &lt;i&gt;miskomunikasi&lt;/i&gt; yang berakibat &lt;i&gt;misunderstanding&lt;/i&gt; atau kesalahan pemahaman.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 1cm; line-height: 200%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Pertama konsep “media”. Media dipandang sebagai alat untuk mengirim pesan, informasi dan teks kepada khalayak, lebih lanjut disebut sebagai media komunikasi (Lull 1995). Menurut Schramm, media adalah teknologi pembawa pesan yang dimanfaatkan untuk keperluan instruksional. Briggs berpendapat bahwa media merupakan sarana fisik untuk menyampaikan materi pengajaran (isi pesan) seperti buku, film, video, slide dan komputer. Kata ‘media’ berarti sarana atau perantara, ‘medio’ berarti pertengahan antara dua bagian. Sementara medium berarti bahan yang dipakai sebagai perantara. Media, medio dan medium yang memiliki arti umum yaitu sebagai perantara.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dalam hal ini kemudian media diartikan sebagai alat penghantar. Budaya sebagai hasil tingkah laku manusia atau kreasi manusia, memerlukan bahan materi atau penghantar untuk menyampaikan maksud. Medium budaya itu dapat berupa bahasa, benda, warna, suara, tindakan yang merupakan simbol-simbol budaya.(Herusatoto 2000 : 78)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: 200%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dari penjelasan para ahli komunikasi dan sosial tadi, kemudian terdapat pembagian atau klasifikasi terhadap media itu sendiri. Cara paling umum yang biasa digunakan untuk mengklasifikasi media adalah membaginya dalam:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;ul style="margin-top: 0cm; text-align: justify;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Media      Cetak seperti surat kabar, majalah, buku, billboard&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Media      Elektronik seperti radio, televisi, telepon, komputer, CD Room, Internet&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Media      Fotografi seperti fotografi, film, video&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyTextIndent"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Namun pada sebagian sumber yang ada, pembagian media didasarkan pada teknologinya. Sebab media dipandang sebagai sebuah alat penyampaian pesan. Dari klasifikasi yang berdasar pada teknologi didapatkan dua jenis media:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;ul style="margin-top: 0cm; text-align: justify;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Media      Tradisional dan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Media      Moderen&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 200%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Konsep yang menjadi dasar klasifikasi media tersebut masih dirasakan sangat kabur, sehingga perlu untuk ditelaah lebih lanjut lagi. Menurut James Lull, &lt;i&gt;moderenitas&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=19660339#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"   lang="IN"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt; dipandang sebagai suatu keadaan perkembangan ekonomi, teknologi, politik dan budaya yang biasanya dibahas dalam pengertian bangsa. Moderenitas biasanya mengacu pada suatu kombinasi dari praktek-praktek ekonomi pasca industri yang berorientasi pada konsumen (pasar), suatu tingkat perkembangan teknologi yang tinggi, suatu bentuk politik yang demokratis, dan meningkatnya pengaruh sirkuler secara keseluruhan. Yang menjadi esensi dari konsp moderen adalah penerapan teknologi yang tepat guna artinya efisien dan efektif.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: 200%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kaitannya dengan media, tepatnya media moderen (dipakai untuk membedakan dengan media tradisional) adalah &lt;i&gt;media yang menggunakan teknologi tepat guna, teknologi tinggi tepatnya.&lt;/i&gt; Contohnya seperti surat kabar, majalah, televisi, radio, internet dan film. Hampir semua media cetak, elektronik dan fotografi dikategorikan sebagai media moderen. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: 200%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sedangkan yang dimaksudkan dengan media tradisional adalah media yang masih sederhana baik dalam segi fisiologis maupun morfologisnya, yang merupakan ciptaan masyarakat yang fungsi dan perannya disepakati secara bersama. Unsur teknologi yang terkandung dalam media tradisional sangat minim dan bahkan bisa dikatakan tidak ada. Media tradisional, khususnya di Indonesia, berupa kentungan, gong, ketoprak, wayang, dan seni pertunjukan lainnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: 200%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Lebih lanjut lagi, media tradisional digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan yang sudah disepakati artinya oleh anggota masyarakat yang bersangkutan. Misalnya para peronda di malam hari, atau masyarakat yang terkena musibah atau kecelakaan lainnya biasa memukul &lt;i&gt;kentungan&lt;/i&gt; dalam rangka memberi tahu para tetangga supaya segera memperoleh pertolongan. Kentungan dalam hal ini berfungsi sebagai sebuah perantara atau pembawa pesan atau informasi dari satu orang kepada orang lain (Yusup 1990). Pertanyaan yang mungkin muncul adalah bagaimana dengan peran media tardisional dalam pembangunan?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: 200%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Satu di antara pendorong dinamika pembangunan masyarakat adalah media. Oleh karenanya kajian media terhadap pembangunan dirasa sangat penting untuk dilakukan. Hal ini senada dengan pendapat Rogers:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoCaption" style="margin: 6pt 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-weight: normal;" lang="IN"&gt;“di banyak negara Dunia Ketiga, pembangunan khususnya di wilayah pedesaan masih merupakan tantangan bear yang harus yang harus dihadapi. Pelaksanaannya memerlukan berbagai sumberdaya, termasuk media (massa). Dukungan media diperlukan, antara lain menumbuhkan suasana yang kondusif bagi pembangunan. Agar partisipasi masyarakat pedesaan itu menjadi lebih bermakna, media dituntut untuk mengantarkan berbagai rupa informasi dan pengetahuan kepada mereka”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 200%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;secara terpisah, Wilbur Schramm memberikan 3 fungsi media dalam pembangunan:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;ol style="margin-top: 0cm; text-align: justify;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Memberitahu      rakyat tentang pembangunan nasional, memusatkan perhatian rakyat pada      kebutuhan untuk berubah, memberikan kesempatan untuk menimbulkan      perubahan, dan jika mungkin mampu meningkatkan aspirasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Membantu      rakyat berpartisipasi dalam proses pembuatan keputusan, memperluas dialog,      dan menjaga agar informasi mengalir lancar baik ke atas maupun ke bawah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Mendidik      rakyat agar memiliki keterampilan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 200%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kemudian kajian media terhadap pembangunan makin diperdalam. Dalam kasus ini, fungsi dan peran media tradisional dalam proses pembangunan mendapat perhatian khusus.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 1cm; line-height: 200%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Di sini, saya lebih memfokuskan pada media &lt;i&gt;ketoprak&lt;/i&gt; sebagai media tradisional yang bersifat menghibur namun juga berperan dalam pertukaran inovasi, untuk menjelaskan fungsinya dalam proses pembangunan di Indonesia. Dalam bukunya Media Rakyat, Manfred Oepen mengatakan bahwa di Indonesia sistem komunikasi yang berkembang adalah sistem komunikasi tradisional, yang dalam implementasinya mengacu pada penggunaan media tradisional. Media tradisional disini dapat dipahami seperti rembug desa, dan juga kesenian tradisional macam kethoprak, wayang, sandiwara, ludruk, dan juga bentuk kesenian teater daerah lainnya. Media tradisional itu sendiri kemudian mendorong adanya interaksi sosial dengan jaringan antar perorangan (Oepen 1988). Media rakyat didefinisikan sebagai media yang menampung partisipasi masyarakat sebagai perencana, pemroduksi, pelaksana, dan merupakan sasaran bagi masyarakat untuk mengemukakan sesuatu bukan untuk menyatakan sesuatu pada masyarakat. Komunikasi masyarakat mengungkap pertukaran pandangan dan berita, bukan penyaluran dari satu sumber kepada sumber lain. Melalui pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa sifat komunikasi yang berlangsung bukan lagi &lt;i style=""&gt;top-down&lt;/i&gt;, sebab mendorong terjadinya saling tukar pengalaman dan gagasan. Media kethoprak menjadi sarana pengungkapan ekspresi masyarakat, yang selanjutnya menjadi sarana pembebasan. Dengan lakon-lakon yang diangkat ada semacam singkronisasi antara wacana yang berkembang di masyarakat dengan lakon yang akan dipentaskan. Kemampuan sutradara dalam &lt;i&gt;menyanggit&lt;/i&gt; lakon juga sangat mendukung ungkapan ekspresi masyarakat. (Oepen 1988).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 1cm; line-height: 200%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sebagai sebuah media, kethoprak tentunya membawa nilai-nilai, norma serta perilaku yang pada gilirannya menjadi panutan bagi masyarakat yang terkena terpaan pesan kethoprak serta dimana kethoprak tersebut hadir. Media kethoprak harus mampu menyiarkan pesan-pesan yang merefleksikan aspirasi-aspirasi, mitos-mitos dan isu-isu sosial serta peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam masyarakat. Menurut Budhisantoso, melalui media rakyat atau tradisional yang bersifat hiburan dapat membawa pesan-pesan pembangunan. Sekaligus media tersebut juga menjalankan fungsi pendidikan bagi penduduk desa (Gunardi 1988). Oleh sebab itu ketoprak dapat digunakan untuk menyampaikan pengetahuan kepada warga masyarakat seperti pemahaman di bidang sosial, politik, ekonomi, budaya maupun ketahanan nasional. Dengan demikian masyarakat memperoleh tambahan pengetahuan antara lain di bidang pendidikan bahasa, agama, kesehatan, kesenian, Keluarga Berencana, teknologi dan sebagainya yang merupakan bagian dari pembangunan bangasa. Selain daripada itu, ketoprak juga menanamkan dan mengukuhkan nilai-nilai budaya, norma sosial dan falsafah sosial.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: 200%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Hambatan yang dialami oleh ketoprak sebagai media komunikasi pembangunan, dan juga media tradisional lainnya sangat beragam. Yang paling mencolok adalah persaingannya dengan media moderen. Media tradisional semakin tersisihkan, kentungan digantikan &lt;i&gt;cell phone&lt;/i&gt; dan koran, ketoprak disisihkan oleh radio dan televisi. Belum lagi dengan masuknya film dan video serta bioskop. Tingkat keefektifitasan dan efisiensi yang dimiliki oleh media baru tersebut merupakan alasan utama media-media tradisional di sebagian besar daerah di Indonesia semakin ditinggalkan. Khususnya dalam kegiatan pembangunan. Masyarakatnya sendiri yang sudah mulai “moderen” secara perlahan meninggalkan media-media tradisional yang ada. Di samping itu media tradisional seperti ketoprak mengalami kendala pada finansial, artinya sedkit sekali masyarakat yang mau berinvestasi pada “industri” ketoprak. Westrenisasi juga mengambil peran penting, dalam hal ini generasi muda lebih menyukai media yang baru yang menyajikan kenyataan semu yang direkayasa dengan kepentingan para kapitalis. Sehingga budaya bangsa Indonesia semakin ditinggalkan, bahkan tenggelam di tengah budaya baru.Dalam perkembangannya kemudian sering kali kethoprak menjadi rapuh terhadap pemanfaatan sebuah ideologi tertentu. Hal ini tidak lepas dari cerita kethoprak yang memang penuh dengan imajinasi. Kebudayaan tutur yang berkembang dalam masyarakat menjadikan banyak versi cerita pada satu lakon yang sama. Contoh konkretnya adalah pada era pendudukan militer Jepang, kethoprak dengan begitu efektif menciptakan imaji massa atau sering disebut dengan &lt;i style=""&gt;imagined communitiest&lt;/i&gt;. Cerita kethoprak mampu merasuk dalam diri masyarakat, sehingga kethoprak saat itu dimanfaatkan oleh berbagai organisasi pemuda untuk alat propaganda serta pengumpulan dana swadaya dari masyarakat. Era 1964-1965 kethoprak juga menjadi primadona kelompok kepentingan guna mencari dukungan baik finansial, tenaga, maupun pikiran. Bukan tanpa alasan mengapa kemudian Kethoprak selalu mengangkat lakon-lakon yang bertemakan kehidupan kerajaan tertentu. Semula kethoprak sendiri muncul karena keprihatinan masyarakat sendiri yang hendak mencoba berkomunikasi dengan pihak dalam kerajaan. Namun karena minimnya akses maka masyarakat yang umumnya bisa dibilang kelas pekerja itu mencoba mensatirekan kehidupan, pakaian, musik, dan perbincangan kaum aristrokat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr style="margin-left: 0px; margin-right: 0px;" size="1" width="33%"&gt;  &lt;!--[endif]--&gt;  &lt;div id="ftn1"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=19660339#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="" lang="IN"&gt;Istilah moderenitas juga mengacu pada suatu tahapan dalam sejarah dunia seperti posmoderen. Akan tetapi pemakaian istilah ini banyak menimbulkan masalah, karena banyak bagian dunia ini belum moderen apalagi posmoderen.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 10"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 10"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5COwner%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C03%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Wingdings; 	panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:2; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p.MsoBodyText2, li.MsoBodyText2, div.MsoBodyText2 	{margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	text-align:justify; 	line-height:200%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:IN;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0 	{mso-list-id:1707951669; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:1769754584 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l0:level1 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Symbol;} ol 	{margin-bottom:0cm;} ul 	{margin-bottom:0cm;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Daftar Pustaka&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Gunardi,      &lt;i&gt;Media Tradisional dan Pembangunan. Komunikasi Massa Komunikasi      Pembangunan Pedesaan di negara-Negara Dunia Ketiga: Suatu pengantar&lt;/i&gt;,      Gramedia, Jakarta, 1988.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Lull, James, &lt;i&gt;Media Communication Culture, a global approach&lt;/i&gt;, Brazil Blackwell Publisher, England, 1995.&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;McQuail,      Dennis, &lt;i&gt;Mass Communication Theory. Second edition&lt;/i&gt;, alih bahasa Agus      Dharma, Erlangga, Jakarta, 1987&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Oepen,      Manfred. &lt;i&gt;Media Rakyat,&lt;/i&gt; P3M, Jakarta 1988&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Susanto      SJ, Budi. 1997. &lt;i style=""&gt;Ketoprak (The      Politics of the Past in the Present Day Java)&lt;/i&gt; Yogyakarta : Kanisius&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;   &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19660339-5629249983988038178?l=astaganaga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://astaganaga.blogspot.com/feeds/5629249983988038178/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://astaganaga.blogspot.com/2008/08/ketoprak-sebagai-media-pembangunan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19660339/posts/default/5629249983988038178'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19660339/posts/default/5629249983988038178'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://astaganaga.blogspot.com/2008/08/ketoprak-sebagai-media-pembangunan.html' title='Ketoprak - Sebagai Media Pembangunan'/><author><name>astaganaga</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_KJ7CTWeHTlg/SJ4byasSzYI/AAAAAAAAAAo/F5Ti4ysAe48/s72-c/JAFLucky%232.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19660339.post-115921682727730121</id><published>2006-09-26T03:27:00.000+07:00</published><updated>2008-08-05T10:07:55.206+07:00</updated><title type='text'>Spiral Kebisuan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Teori ini dikembangkan oleh Elisabeth Noelle-Neumann (1974), yang bertitik tolak dari asumsi dasar bahwa orang-orang umumnya secara alamiah memiliki rasa takut terkucil. Dan dalam pengungkapan opini mereka berusaha menyatu dan mengikuti opini mayoritas atau “konsensus”. Istilah umum “spiral kebisuan” diberikan oleh Noelle-Neumann dengan terminologi “die Schweigespirale”.&lt;br /&gt;Menurut Noelle-Neumann, sumber informasi yang utama tentang konsensus adalah media dan, dan para wartawan dianggap memiliki pengaruh yang cukup besar untuk menetapkan apa yang dipandang sebagai “iklim opini” yang berlaku pada saat tertentu dalam issue tertentu atau lebih luas. Dengan kata lain semakin tersebar versi konsensus opini yang dominan oleh media massa dalam masyarakat, semakin lenyap pula suara perorangan yang bertentangan, yang karenanya meningkatkan dampak media.&lt;br /&gt;Dalam pandangan Noelle-Neumann, media massa menimbulkan efek yang kuat dalam  membentuk persepsi khalayak, dan akhirnya bahkan menimbulkan nilai-nilai dan norma-norma sosial yang baru. Menurutnya, adanya pemberitaan atau penyiaran yang seragam akan menyebabkan orang menduga bahwa itu merupakan opini mayoritas. Ketika semua surat kabar dan televisi menunjukan ketidaksetujuan terhadap kenaikan harga BBM, khalayak menduga bahwa itulah opini mayoritas bangsa Indonesia. Bagi yang berpendapat berbeda, mereka akan diam. Karena diam suara mayoritas akan semakin diperkuat.&lt;br /&gt;Noelle-Neumann juga menjelaskan tiga faktor penting dalam media massa yang berperan penting dalam pembatasan persepsi khalayak yang selektif. Ketiga faktor tersbut adalah:&lt;br /&gt;• Ubiquity, artinya serba ada. Media massa dianggap mampu mendominasi lingkungan informasi dan berada di mana-mana. Oleh sifatnya yang serba ada, maka khalayak sangat sulit untuk menghindari pesan media massa.&lt;br /&gt;• Cummulation atau kumulasi. Artinya pesan-pesan media massa bersifat kumulatif. Berbagai pesan-pesan yang sepotong-potong tergabung menjadi satu kesatuan pesan lewat waktu tertentu. Perulangan pesan yang berkali-kali dapat memperkokoh dampak media.&lt;br /&gt;• Consonance atau kesesuaian. Artinya keseragaman penyajian pesan oleh para wartawan sehingga dapat dilihat bahwa siaran berita cenderung sama pada berbagai media. Hal ini pada akhirnya membuat khalayak tidak memiliki alternatif yang lain, sehingga mereka membentuk persepsinya berdasarkan informasi yang diterimanya dari media massa.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19660339-115921682727730121?l=astaganaga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://astaganaga.blogspot.com/feeds/115921682727730121/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://astaganaga.blogspot.com/2006/09/spiral-kebisuan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19660339/posts/default/115921682727730121'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19660339/posts/default/115921682727730121'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://astaganaga.blogspot.com/2006/09/spiral-kebisuan.html' title='Spiral Kebisuan'/><author><name>astaganaga</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19660339.post-115895454578409108</id><published>2006-09-23T02:42:00.000+07:00</published><updated>2008-08-10T06:12:00.865+07:00</updated><title type='text'>Jihad: Ziarah Rohani dan Perang Suci</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: right; font-style: italic;"&gt;Pada sekitar tahun 1850 SM, seorang lelaki bernama Abram meninggalkan rumahnya di Ur Kasdim dan melakukan perjalanan menuju tanah Kanaan, Israel moderen. Abram dititahkan oleh Yang Maha Agung untuk hijrah. Sang Maha Agung rupanya telah memutuskan untuk menjadi Tuhan Khusus bagi Abram dan keturunanya. Abram harus mengganti nama menjadi Ibrahim, sebagai tanda bagi status barunya, dan ia harus berjanji setia pada Tuhan, dengan balasan berupa berkah bagi Ibrahim dan keturunannya. Peristiwa ini telah mengubah dunia hingga saat ini.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Beberapa pekan lalu ketika mengunjungi negeri Jerman, Paus Benedicto XVI menyempatkan diri bertemu dengan para sarjana di sebuah universitas di Jerman dan berpidato di sana. Salah satu kutipan dalam pidatonya menimbulkan reaksi dari umat Islam di seluruh dunia yang memaksa “Sang Kefas” harus menarik kembali ucapannya dan meminta maaf pada umat Islam di seluruh dunia pada hari Minggu 17 September kemarin. Dalam pidatonya, Paus mengkritik konsep Jihad dalam Islam sebagai sebuah tindak kekerasan (bahkan saya melihat lebih jauh: teror!). Sebagai orang yang awam akan agama (terlebih Islam) saya bertanya-tanya pada diri sendiri; apa benar Jihad dalam Islam demikian adanya? Apa sih sebenarnya Jihad? Saya merasa penting sekali untuk memahami konsep Jihad dalam Islam.&lt;br /&gt;Setelah mencari beberapa sumber, akhirnya saya menemukan pengertian tentangnya. Jihad berasal dari bahasa Arab, yang secara harafiah berarti “perjuangan” dan biasa digunakan dalam Alquran sebagai kata kerja: kaum Muslim didorong untuk “berjuang secara perkasa di Jalan Tuhan”. Gagasan perjuangan dan pencapaian ini demikian penting dalam Islam dan kata Jihad selalu mempertahankan konotasi ini. Tetapi paling sering kata “perjuangan” ini mengacu pada perang yang dilakukan Muhammad melawan orang-orang Arab nonmuslim di Arabia. Di kemudian hari, setelah maknanya diperluas, kata ini menjadi bermakna “perang suci” dan dalam pengertian itulah kata ini didiskusikan dalam pembahasan Syariah, berabad-abad setelah Muhammad wafat. Perang yang dilakukan oleh Muhammad dikenal dengan Perang Badar, yang disebut farqan oleh Muhammad. Kata farqan sendiri memiliki makna ganda dalam bahasa Arab yang berarti “penyelamatan dan pemisahan”.&lt;br /&gt;”maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allahlah yang melempar. (Allah yang berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Itulah (karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu), dan sesungguhnya Allah melemahkan tipu daya orang-orang yang kafir” (Q.S. al-Anfal [8]: 17-18).&lt;br /&gt;Kemenangan tak terduga ini (313 orang Muslim melawan hampir 1000 tentara Mekah) senyatanya menjadi pembuka perang suci atau Jihad (semula tidak dimaksudkan oleh Nabi). Namun hal ini pun tidak membuat Islam menjadi agama pedang, seperti apa yang dikatakan oleh Kaisar Konstantin dalam pidato Sri Paus. Kata Islam sendiri berasal dari akar bahasa Arab yang berarti “damai”. Alquran mengutuk perang sebagai keadaan tak lazim dan bertentangan dengan kehendak Tuhan: ketika para musuh kaum Muslim berbuat kerusakan maka Allah memusnahkan mereka. Perang dalam Alquran dipandang sebagai sebuah keadan yang tak terhindarkan dan kadang menjadi kewajiban positif untuk mengakhiri penindasan dan penderitaan. Hal ini sangat berbeda dengan apa yang dianjurkan pada Taurat dalam lima bab awal Alkitab. Walaupun Islam tidak mendewakan perang, adalah benar jika konsep Jihad amat penting dan menentukan dalam Islam. Ketika kaum Muslim tak taat lagi pada Tuhan, para kelompok Muslim yang saleh menarik diri dari masyarakat dan melakukan migrasi ke gurun pasir. Mereka memandang diri mereka sebagai kaum yang diburu oleh kelompok mapan dan merasa kamu muslim wajib bertindak demi mengakhiri penindasan. Kelompok pertama dan yang paling radikal lahir pada abad ke VII, sekte Kharaji, yang menganggap Jihad sebagai salah satu rukun Islam.&lt;br /&gt;Pada tahun 628, Muhammad dan sekitar 1400 Muslim berangkat dari Medinah menuju Mekah untuk melaksanakan Ibadah Haji. Seturut dengan titah Muhammad para tentara ini tidak membawa senjata lainnya kecuali pedang yang disarungkan. Kedatangan Muhammad dengan tentara sejumlah itu membuat para warga Mekah ketakutan kalau Muhammad menyerang. Namun Muhammad malah berhenti di Hudaybiyyah, di luar Tanah Haram (wilayah 20 mil persegi Kabah, tempat dimana semua tindak kekerasan dilarang). Muhammad berkata pada utusan orang Mekah bahwa Ia hanya ingin melaksanakan ibadah Haji sebagai hak setiap orang Arab. Melalui diskusi yang alot dan dengan sejumlah syarat akhirnya orang Mekah mengijinkan Muhammad menjalankan ibadah Haji dan selama itu orang Mekah akan mengungsi ke luar kota. Perjanjiann tersebut berlangsung selama 10 tahun, sebelum orang Mekah melanggarnya dengan menyerang suku Khuzza, sekutu kaum Muslim. Muhammad dengan lebih banyak tentara berangkat ke Mekah. Penduduk Mekah mengirim utusan dan berunding dengan Muhammad guna menghindari pertumpahan darah. Muhammad mengajukan syarat jika Mekah menerimanya sebagai pemimpin maka pertumpahan darah tidak akan terjadi. Tak ada orang Mekah yang dipaksa masuk Islam, ia hanya akan menghancurkan berhala-berhala yang ada di Kabah dengan tangannya sendiri. Muhammad pun akhirnya menjadi pemimpin Mekah dan ia telah mengembalikan Kabah pada agama Ibrahim dan Ismail. Pada tahun 632, Muhammad memutuskan untuk meng-Islam-kan tempat-tempat ibadah pagan di sekeliling Mekah, yang menjadikannya sebagai upacara ziarah Haji (dikenal hingga sekarang). Pada setiap tempat ibadah, ia dan pengikutnya melakukan dan menafsir ulang semua ritus-ritus berhala Arab yang lama. Mereka melempar kerikil ke pilar di Mina, sebagai perlawanan terhadap iblis (ramalan dalam Wahyu tentang Binatang Buas yang merangkak dari dalam sumur untuk membinasakam umat manusia, bagi orang Kristen makluk ini desebut Anti Kristus) dan ketakbermoralan. Mereka lari tujuh kali antara lembah Ahafa dan Marwa, mengenang kecemasan bunda Ismail, Hajar, ketika ia harus lari dengan keputusasaannya mencari air selama hari-hari pertamanya di pengasingan di gurun pasir. Mereka minum dari mata air yang ditunjuk Tuhan pada Hajar atas jawaban dari doanya. Muhammad juga melakukan ifadlah, melaju, dengan untanya ke sebuah tempat di Muzdalifah, titik terendah antara gunung Arafah dan Mekah.&lt;br /&gt;Ketika kaum Muslim melaksanakan Haji ke Mekah masa kini, mereka datang dari seluruh penjuru dunia dan memakai pakaian putih, yang menandakan kesetaraan. Kesetaraan semua orang di mata-Nya. Disamping itu hal ini membuat mereka merasa sebagai sebuah keluarga besar yang datang dari Ayah yang sama, Adam dan Ibrahim. Muhammad wafat pada tahun 632. Namun ia berhasil menyatukan hampir seluruh Hijaz. Seratus tahun kemudian kekaisaran Islam baru tersebar dari Himalaya hingga Gilbratar. Perluasan wilayah pada masa ini tentu saja melalui sejumlah perang yang panjang.&lt;br /&gt;Setelah kematiannya, kaum ulama dan fukaha mulai mengembangkan teori Jihad. Mereka mengajarkan bahwa karena hanya ada satu Tuhan, maka mestinya hanya ada satu negara di dunia ini dan negara itulah harusnya tunduk pada agama sejati. Negara Muslim (Dar al-Islam) wajib menaklukan negara non Muslim (Dar al-Harb) mereka sehingga dunia dapat mencerminkan satu Ilahiah. Setiap Muslim harus berpartisipasi dalam Jihad dan Dar al-Islam tidak boleh berkompromi dengan Dar al-Harb. Paling jauh, gencatan senjata dapat disepakati dengan kaum non Muslim, yang berlangsung paling lama sepuluh tahun. Doktrin awal tentang Jihad inilah yang memberikan citra Islam sebagai agama pedang. Teori ini dapat dikembangkan ketika Dar al-Islam nampaknya memang dapat menguasai dunia. Namun tidak terjadi demikian. Dar al-Islam mengalami masalah internal dan kaum Muslim menyadari bahwa bahwa tidak ada lagi perang suci menaklukan dunia baru. Kaum Muslim juga menyadari bahwa mereka memiliki kekaisaran dengan batas yang tetap dan sebagaimana kekaisaran Yahudi dan Kristen, mereka menyadarai kemenangan bagi mereka hanya ada pada tibanya Hari Akhir. Daripada berperang melawan negara tetangga mereka memilih untuk berdiplomasi dan mengembangkan kontak-kontak dagang dengan dunia luar. Pada titik ini konsep Jihad ditinggalkan.&lt;br /&gt;Jika orang Barat ditanya mengenai tiga agama monoteistik (Yahudi, Kristen dan Islam), mana yang paling keras di antara mereka; mereka tanpa ragu akan menjawab “Islam!”. Selama ratusan tahun orang Barat mengenal agama Islam sebagai agama pedang, yang merupakan prasangka warisan sejak periode Perang Salib dimana Jihad menjadi hantu yang mengerikan, yang menyapu bersih Timur Tengah dan Afrika Utara. Ini adalah salah satu contoh pandangan distorsif Barat terhadap Islam, agama yang (kebanyakan) tidak mereka kenali. Walapun tidak dapat disangkal bahwa “perang suci” atau Jihad memainkan peran yang amat penting dalam penyebaran agama Islam, tetapi sangatlah keliru jika memandang Islam sebagai agama yang haus darah dan agama yang agresif. Ketika kaum Muslim menaklukan sebuah masyaeakat, mereka tidak berusaha memaksakan peralihan agama dari para penduduk daerah taklukannya (konsep kolonialisme lama Gold, Gospel dan Glory). Teladan yang ditunjukan Muhammad dalam menaklukan Mekah benar-benar diilhami decara baik oleh pengikutnya. Lagipula Alquran mengajarkan agar kaum Muslim untuk menghormati Ahlulkitab, dan dalam kekaisaran Islam kebebasan agama bagi semua orang benar-benar terjamin. Disamping itu adalah tindakan bunuh diri jika kaum Muslim memaksakan agama Islam pada penduduk jajahan, hal ini mengingat jumlah tentara jajahan yang minoritas di dalam daerah jajahan. Masyarakat yang ditundukan oleh tentara Muslim memiliki pandangan yang berbeda tentang Jihad. Mereka tidak menganggap hal ini sebagai bencana, malah sebaliknya. Kita akan menganggap hal ini aneh namun bagi masyarakat Timur Tengah abad VII penaklukan oleh kaum Muslim mengawali babak baru sejarah mereka. Mereka telah lama menjadi milik (jajahan) banyak kekaisaran. Dengan kekaisaran Islam yang unik (yang tidak memaksakan peralihan agama) mereka merasa penaklukan ini sebagai sebuah pembebasan. Satu hal yang patut dicatat bahwa Afrika Utara telah lama menjadi jajahan Romawi demikian pula agamanya. Kemudian banyak masyarakat yang takluk ingin memeluk Islam (perlu dicatat bahwa ini adalah pandangan masyarakat abad VII) karena keunikannya. Bagi Dunia Timur Tengah dan Afrika Utara, Islam menawarkan agama yang jauh lebih dapat diterima ketimbang Kristen, teologinya jauh lebih sederhana. Doktrin Kristen tentang Trinitas misalnya, akan sangat indah bagi seseorang yang dibesarkan dalam falsafah Yunani. Tapi bagi seorang Timur Tengah dogma tersebut sangat tidak dapat diterima. Pertanyaan yang kemudian muncul: bagaimana seorang Yessus kemudian menjadi Tuhan (Kristus) dan sekaligus manusia (Isa)? (hal ini kemudian dianggap bidah dan diburu oleh Kristen Ortodoks dari Byzantium). Mereka lebih menerima Yessus sebagai nabi yang agung (Isa al-Maseh) karena hal ini lebih masuk akal.&lt;br /&gt;Pada masa sekarang orang Barat cenderung memandang Islam sebagai agama yang bertentangan dengan kemajuan. Ini karena budaya Barat telah menggusur budaya Muslim tradidional dan hal ini juga merupakan waeidan periode kolonial, ketika Islam digambarkan sebagai agama-fatalistik yang anti perubahan. Namun Islam sebenarnya agama-dinamis yang menuntut aksi: kaum Muslim harus bertindak untuk mempraktikan maksud Tuhan. Istilah yang digunakan kaum Mislim kebanyakan bersufat dunamis, yang mengungkapkan gerakan dan perjuangan. Ketika orang Arab meninggalkan semenanjung Arabia setelah kematian Muhammad pada awal mula Jihad mereka, mereka masih semi-barbar. Seratus tagun kemudian, mereka menjadi kekuatan dunia dan berhasik menciptakan kebudayaan baru dengan kekuatan dan keindahan besar. Islam, dalam pengertian tertentu, adalah agama sinkretis: Islam dibangun di atas dua agama yang lebih tua, Yahudi dan Kristen, serta menggabungkan mereka dengan tradisi Arab. Sebuah bukti nilai adaptasi yang luar biasa dalam Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;20 September 2006, disadur dari Karen Armstrong, Holy War: The Crusades and Their Imapct on Today’s World, Anchor Books, NY, 2001.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19660339-115895454578409108?l=astaganaga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://astaganaga.blogspot.com/feeds/115895454578409108/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://astaganaga.blogspot.com/2006/09/jihad-ziarah-rohani-dan-perang-suci.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19660339/posts/default/115895454578409108'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19660339/posts/default/115895454578409108'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://astaganaga.blogspot.com/2006/09/jihad-ziarah-rohani-dan-perang-suci.html' title='Jihad: Ziarah Rohani dan Perang Suci'/><author><name>astaganaga</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19660339.post-115439411368323634</id><published>2006-08-01T07:55:00.000+07:00</published><updated>2008-08-05T10:02:22.809+07:00</updated><title type='text'>semiotika = teori kebohongan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Secara etimologis istilah semiotika berasal dari bahasa Yunani “semeion” yang berarti tanda. Semiotika kemudian didefinisikan sebagai studi tentang tanda dan cara tanda-tanda itu bekerja. Umberto Eco mendefinisikan semiotika sebagai “sebuah disiplin yang mempelajari segala sesuatu yang dapat digunakan untuk berdusta (lie)” Ferdinand de Saussure dalam Course in General Linguistics (1974) mendefinisikan semiotika sebagai “ilmu yang memepelajari struktur, jenis, tipologi, serta relasi-relasi tanda dalam penggunaannya di dalam masyarakat”. Pokok perhatian semiotika adalah tanda. Tanda itu sendiri adalah sebagai sesuatu yang memiliki ciri khusus yang penting. Pertama, tanda harus dapat diamati, dalam arti tanda itu dapat ditangkap. Kedua, tanda harus menunjuk pada sesuatu yang lain. Artinya bisa menggantikan, mewakili dan menyajikan. Tanda dan hubungan-hubungannya adalah kunci dari analisis semiotik. Dimana relasi tersebut kemudian memunculkan makna.&lt;br /&gt;Semiotika sebagai ilmu mempunyai tiga fokus area pembelajaran, yaitu tanda, sistem yang mengaturnya, dan budaya dimana tanda tersebut berada. Tanda merupakan sesuatu yang bersifat fisik, bisa dipersepsi oleh indra. Umberto Eco menjelaskan lebih lanjut bahwa tanda adalah hal yang dapat diambil sebagai penanda yang mempunyai arti penting untuk menggantikan sesuatu yang lain. Hal ini berkaitan dengan definisinya tentang semiotika sebagai “teori kedustaan”. Tanda menurut Saussure terdiri atas dua unsur yaitu penanda (signifier) dan petanda (signified). Penanda adalah aspek material dari bahasa: apa yang dikatakan atau didengar dan apa yang ditulis atau dibaca. Sedangkan penanda adalah aspek mental dari bahasa: gambaran mental, pikiran atau konsep. Secara bersamaan keduanya akan membuat suatu tanda Saussure menjelaskan bahwa terdapat enam prinsip dasar dalam semiotika. Pertama, prinsip struktural. Tanda dilihat sebagai sebuah kesatuan antara sesuatu ang bersifat material dan konseptual. Yang menjadi fokus penelitian adalah relasi antara unsur-unsur tersebut, karena dari relasi tersebut akan menghasilkan makna. Kedua, prinsip kesatuan. Sebuah tanda merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan antara bidang penanda yang bersifat konkrit atau material dengan bidang petanda. Ketiga, prinsip konvensional. Realsi antara penanda dan petanda sangat tergantung pada apa yang disebut konvensi, yaitu kesepakatan sosial tentang bahasa (tanda dan makna) di antara komunitas bahasa. Keempat, prinsip sinkronik. Tanda dipandang sebagai sebuah sistem yang tetap di dalam konteks waktu yang dianggap konstan, stabil dan tidak berubah. Kelima, prinsip representasi. Tanda merepresentasikan suatu realitas yang menjadi rujukan atau referensinya. Keenam, prinsip kontinuitas. Relasi antara sistem tanda dan penggunanya secara sosial dipandang sebagaia sebuah continuum, mengacu pada struktur yang tidak pernah berubah.&lt;br /&gt;Menurut Saussure tanda memiliki tiga wajah yaitu tanda itu sendiri (sign), aspek material (suara, huruf, bentuk, gambar, gerak) dari tanda yang berfungsi menandakan atau yang dihasilkan oleh aspek material (signifier), dan aspek mental atau konseptual yang dibentuk oleh aspek materil (signified). Hal terpenting yang dilakukan dalam melakukan analisis tentang tanda adalah mengetahui mana aspek material dan aspek mental dari sebuah tanda; karena tanda itu sendiri merupakan kesatuan antara signifier dan signified. Hubungan antara signifier dan signified disebut sebagai signification. Dijelaskan lebih lanjut oleh Sunardi bahwa dalam analisis semiotika yang dicari adalah berbagai hubungan yang menyatukan antara signifieds (jamak) dan signifiers dari berbagai unsur obyek tersebut. Hubungan antara signifieds dan signifiers kemudian akan menghasilkan makna. Dalam sistem tanda, Saussure menjelaskan bahwa suatu tanda akan dapat menghasilkan makna karena adanya prinsip perbedaan atau sistem hubungan antara tanda.&lt;br /&gt;Ferdinand de Saussure menjelaskan bahwa terdapat tiga macam hubungan tanda yaitu hubungan simbolik, hubungan paradigmatik dan hubungan sintagmatik. Hubungan simbolik adalah hubungan tanda dengan dirinya sendiri (internal), hubungan paradigmatik adalah adalah hubungan tanda dengan tanda laindari satu sistem atau kelas, dan hubungan sintagmatik adalah hubungan tanda dengan tanda lain dari satu struktur. Kedua jenis hubungan yang terakhir disebut kemudian disebut sebagai hubungan eksternal. Ketiga jenis hubungan tanda ini kemudian dijelaskan oleh Roland Barthes (penganut Saussureian) melalui gagasannya tentang dua tatanan pertandaan.&lt;br /&gt;Tataran pertandaan pertama digambarkan dalam relasi di dalam tanda; antara signifier dan signified, atau yang Saussure sebut sebagai hubungan simbolik, dan antara tanda dengan referennya dalam realitas eksternal; Barthes menyebutnya sebagai denotasi. Pada tataran pertandaan yang kedua, tanda kemudian berinteraksi dengan perasaan atau emosi penggunanya serta nilai-nilai kultural dimana tanda dan penggunanya berada. Barthes menyebutnya sebagai konotasi. Karena dipengaruhi oleh nilai kultural maka konotasi sebuah tanda akan berbeda dalam berbagai masyarakat. Hal ini membuat tanda bersifat arbiter dan spesifik pada kultur tertentu. Konotasi bekerja dalam level subyektif dan oleh sebab itu seringkali nilai konotatif dibaca sebagai fakta denotatif. Tujuan analisis semiotika adalah memberi metode analisis dan kerangka pikir untuk menjaga kita dari kesalahan membaca seperti itu. Cara kedua bekerjanya tanda dalam tatanan pertandaan kedua adalah melalui mitos.&lt;br /&gt;Mitos berasal dari bahasa Yunani mutos yang berarti cerita; cerita yang tidak benar, cerita buatan yang tidak memiliki kebenaran historis. Namun cerita semacam itu tetap dibutuhkan agar manusia dapat memhami lingkungan dan dirinya. Roalnd Barthes menyebut mitos sebagai cara berbicara yang baru (a new type of speech). Dalam sistem pertandaan yang diberikan oleh Barthes, mitos merupakan salah satu sistem semiotik tingkat dua.&lt;br /&gt;Teori mitos dikembangkan oleh Roland Barthes untuk melakukan kritik atas ideologi budaya massa (budaya media). Sebagai sistrem semiotik, mitos dapat diuraikan ke dalam tiga unsur yaitu; signifier, signified dan sign. Barthes menggunakan istilah berbeda untuk tiga unsur tersebut yaitu form, concept dan signification. Mitos mengambil sistem semiotik tingkat pertama sebagai landasannya sehingga mitos merupakan sistem semiotik yang terdiri dari sistem linguistik dan sistem semiotik.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19660339-115439411368323634?l=astaganaga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://astaganaga.blogspot.com/feeds/115439411368323634/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://astaganaga.blogspot.com/2006/07/semiotika-teori-kebohongan.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19660339/posts/default/115439411368323634'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19660339/posts/default/115439411368323634'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://astaganaga.blogspot.com/2006/07/semiotika-teori-kebohongan.html' title='semiotika = teori kebohongan'/><author><name>astaganaga</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
